China Kirim Minyak Sulingan 587 Ton ke Korut, AS: Bahaya, Bangun Senjata Nuklir, Kimia dan Biologi

Amerika Serikat: Membahayakan Korea Utara Terus bangun senjata nuklir, kimia, dan biologi

Editor: AbdiTumanggor
AFP
Persenjataan Korea Utara yang dipamerkan Sabtu (15/4/2017) lalu. 

Kedua negara itu juga dituding ingin menguasai kawasan Kutub Utara dan Selatan.

Sayangnya, ketujuh negara tidak menyebutkan secara pasti langkah-langkah konkret yang akan diambil untuk menindak Rusia maupun China.

Secara umum, kesimpulan rapat hanya berisi kecaman dan warning.

Dilansir dari Reuters, satu poin tertulis bahwa G7 akan meningkatkan upaya kolektif untuk menghentikan kebijakan ekonomi komersil China dan untuk melawan disinformasi Rusia.

"Daripada bereaksi dengan kemarahan, saya pikir China perlu memahami bahwa ia perlu memahami bahwa aturan internasional dasar ini harus ditaati," ungkap Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab, seperti dikutip Reuters yang artikelnya telah tayang di Kontan.co.id:Kelompok negara G7 pertimbangkan upaya untuk melawan propaganda Rusia dan China

Rusia sebelumnya menyangkal tuduhan campur tangan di luar perbatasannya terkait Krimea, dan mengatakan negara Barat terkurung dalam histeria anti-Rusia.

Sejalan dengan itu, China mengatakan negara-negara Barat adalah pengganggu dan para pemimpinnya memiliki pola pikir pasca-kekaisaran yang membuat mereka merasa dapat bertindak seperti polisi global.

Personel militer Ukraina ambil bagian dalam latihan perang di Zhytomyr.
Personel militer Ukraina ambil bagian dalam latihan perang di Zhytomyr. (ST/AFP)

Mendukung Taiwan dan Ukraina

Negara anggota G7 yang jika ekonominya digabungkan jauh lebih besar dari China dan Rusia, justru khawatir dengan manuver kedua negara tersebut.

Pertemuan baru-baru ini jelas menunjukkan bahwa China dan Rusia masih dianggap sebagai ancaman serius bagi eksistensi G7, yang mereka sebut sebagai ancaman terhadap ketahanan ekonomi global.

"Kami akan bekerja secara kolektif untuk mendorong ketahanan ekonomi global dalam menghadapi kebijakan dan praktik ekonomi yang sewenang-wenang dan memaksa," ungkap pernyataan G7 terkait kebijakan ekonomi China.

G7 juga sepakat untuk mendukung Taiwan dari segala sisi, termasuk partisipasinya dalam forum WHO dan Majelis Kesehatan Dunia. China menganggap Taiwan sebagai wilayahnya sendiri dan menentang perwakilan resmi Taiwan di tingkat internasional.

Terkait Rusia, G7 juga sepakat berdiri bersama Ukraina dalam konflik di Krimea. Namun, poin-poin solusi belum didapatkan.

Para menteri luar negeri G7 mengaku sangat prihatin dengan pola negatif dari perilaku Rusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak stabil yang terus berlanjut.

"Hal-hal itu termasuk penumpukan besar pasukan militer Rusia di perbatasan Ukraina dan di Krimea yang dianeksasi secara ilegal," ungkap G7.

Sumber: Kontan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved