China Kirim Minyak Sulingan 587 Ton ke Korut, AS: Bahaya, Bangun Senjata Nuklir, Kimia dan Biologi

Amerika Serikat: Membahayakan Korea Utara Terus bangun senjata nuklir, kimia, dan biologi

Editor: AbdiTumanggor
AFP
Persenjataan Korea Utara yang dipamerkan Sabtu (15/4/2017) lalu. 

Korea Utara terima 587 ton pasokan minyak sulingan dari China selama Maret. Amerika Serikat: Membahayakan Korea Utara Terus bangun senjata nuklir, kimia, dan biologi

TRIBUN-MEDAN.COM -  Pemerintahan China kembali menaruh curiga kepada aktivitas Amerika Serikat di Laut China Selatan.

Kali ini China menuding Amerika Serikat (AS) menyewa kapal sipil untuk memata-matai aktivitas China di sekitar perairan Taiwan.

Lembaga think tank asal Beijing, South China Sea Strategic Situation Probing Initiative (SCSPI) mengatakan, sebuah kapal bernama Grand Canyon II telah melakukan operasi yang dirahasiakan selama beberapa bulan terakhir.

Grand Canyon II merupakan kapal pendukung konstruksi multiperan yang tampaknya berafiliasi dengan Helix Energy, sebuah perusahaan jasa minyak dan gas AS, dan memiliki banyak koneksi dengan militer Amerika Serikat.

Dilansir dari Global Times, pada awal Maret lalu kapal tersebut tiba di Yokosuka, Jepang.

Kapal tersebut dari Guam untuk membawa helikopter MH-60S Seahawk yang diselamatkan pada 17 Maret setelah jatuh ke laut dalam 92 mil laut di timur ke Okinawa.

Menurut data pelacakan yang dirilis oleh SCSPI, Grand Canyon II telah beroperasi di dekat pulau Taiwan dan di Laut Cina Selatan selama sebulan terakhir.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar bagi Tiongkok karena tidak ada hal genting lagi yang terjadi di sana.

Data juga menunjukkan bahwa sejak akhir tahun 2020, kapal tersebut telah tinggal di Taichung dan Kaohsiung di pulau Taiwan, serta Nagasaki dan Yokosuka di Jepang.

Berdasarkan data pelacakan serta aktivitasnya yang cukup lama di kawasan tersebut, SCSPI percaya Grand Canyon II menjadi kapal mata-mata yang disewa oleh militer AS untuk misi khusus.

Sementara, Presiden Filipina Rodrigo Duterte menolak dengan tegas seruan dari China untuk menarik kapal-kapal Filipina dari perairan yang disengketakan di Laut China Selatan (LCS).

Filipina telah meningkatkan kehadirannya di daerah-daerah yang diperebutkan di zona ekonomi eksklusif (ZEE), termasuk pulau Thitu, dekat instalasi militer China.

"Kami memiliki pendirian di sini dan saya ingin menyatakannya sekali lagi bahwa kapal-kapal kami berada di sana, kami tidak akan mundur satu inci pun," kata Duterte.

"Saya tidak akan mundur. Bahkan jika Anda membunuh saya. Persahabatan kita akan berakhir di sini," lanjut dia.

Armada Perancis berpatroli di Laut China Selatan
Armada Perancis berpatroli di Laut China Selatan (twitter)
Sumber: Kontan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved