PILU Eks Komandan KRI Nanggala-402, Kolonel (P) Iwa Kartiwa setelah 26 Tahun Bekerja di Kapal Selam
''Mereka kenapa lagi dinas puasa terus senin-kamis, saya baru tahu alasannya mungkin saat berdinas berhadapan dengan maut."
TRIBUN-MEDAN.COM - TRAGEDI tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 membuka mata publik betapa tingginya risiko pasukan khusus kapal selam yang disebut Korps Hiu Kencana.
KRI Nanggala-402 bersama 53 kru yang dibawanya gugur setelah kapal selam tenggelam dan pecah tiga bagian di laut utara Bali pada kedalaman 838 meter.
Ternyata tingginya risiko kesehatan juga masih dialami mantan kru kapal selam meski sudah bertugas di darat.
Inilah yang dialami Kolonel Laut (P) Iwa Kartiwa, mantan Komandan Satuan Kapal Selam Koarmada II, yang juga pernah mengomandani beberapa kapal selam yang dioperasikan Satuan Kapal Selam Koarmada II termasuk KRI Nanggala-402.
Kini Kolonel Laut (P) Iwa Kartiwa, adik kandung mantan Kapolda Jawa Barat Inspektur Jenderal (Irjen) Purnawirawan Anton Charliyan, terbaring lemah dan tak bisa bicara karena terkena radiasi serbuk besi selama 26 tahun bertugas di kapal selam.
Iwa bersama istri dan tiga anaknya serta mertuanya tinggal di sebuah rumah sederhana di gang kecil.
Tepatnya di Gang Haji Shaun Jalan Paseh, Kota Tasikmalaya.
Sebelumnya Iwa dan keluarganya tinggal di Surabaya dan pindah ke Tasikmalaya sejak akhir 2019.
Terakhir dia menjabat sebagai Komandan Satsel Koarmada II.
Kompas.com berkunjung ke kediaman Iwa, Sabtu (1/5/2021).
Namun menurut Heni Hunaeni (62) mertua Iwa, menantunya sedang berobat ke Jakarta.
"Kalau hari ini tidak ada, tadi subuh berangkat untuk berobat ke RS di Jakarta. Tadi juga banyak orang yang pada datang mau jenguk ke sini. Tapi, anak saya sudah berangkat dibawa berobat ke Jakarta," jelas Heni.
Heni bercerita sebelum tinggal di gang kecil, Iwa memiliki rumah pribadi daerah Parakan Honje (Parhon) Indihiang. Namun rumah tersebut dijual beberapa tahun lalu untuk biaya berobat sang kolonel. "Kalau rumahnya dulu ada tapi bukan di Jati, di Parhon itu. Itu sudah lama dijual untuk berobat Pak," kata Heni.
Menurutnya, sejak Nanggala-402 hilang kontak, banyak tamu yang datang menjenguk Iwa atau sekedar menyanyakan kondisi menantunya.
"Ini enggak akan apa-apa anak saya. Saya takut nanti malah jadi pikiran dan kasihan sedang sakit. Takut jadi pikiran kenapa jadi ramai begini pada tahu anak saya sakit. Banyak orang yang datang ke sini," ujar Heni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kri-nanggala-402-terbelah-menjadi-3-bagian.jpg)