Kemampuan Menyelam KRI Nanggala-402 Cuma 380 Meter, Pakar: Lebih dari Itu Seperti Kaleng Diremas

Jika berada di permukaan air, sebagian badan kapal selam muncul di permukaan komunikasi lewat radar yang relatif lebih stabil.

Kolase Tribun-medan.com/Istimewa
Sosok Kolonel Harry Setiawan, Komandan Satuan Kapal Selam (Dansatsel) Komando Armada (Koarmada) II yang ada di dalam Kapal Selam KRI Nanggala 402 hilang kontak di perairan laut utara Bali. 

TRIBUN-MEDAN.com - Pakar Kelautan ITS Wisnu Wardhana menjelaskan, sistem komunikasi dalam kapal selam ada 2, yaitu saat kapal di permukaan dan kapal di bawah permukaan air.

Jika berada di permukaan air, sebagian badan kapal selam muncul di permukaan komunikasi lewat radar yang relatif lebih stabil.

Kalau saat kapal di bawah permukaan (di air penuh) komunikasi melewati sonar (ada mekanisme bergetar) frekuensi ini yang dirambatkan melalui air.

"Kalau media komunikasi lewat air maka kualitas komunikasi tergantung dari karakter air. Misalkan arusnya tinggi, maka media komunikasi akan terbawa mengikuti arus air. Belum lagi parameter media komunikasi yg lain," terang Wisnu kepada surya.co.id, Kamis (22/4/2021).

Baca juga: Selain Mahir Menyanyi, Biduan DP (28) Juga Jago Menggoyang, 3 Hari Sekap Siswa SMA & Dicekoki Miras

Disebutkan, semua parameter media itu berinteraksi dengan satu sama lain.

Maka bisa terjadi resultan nol yang sampai ke penerima.

Ini yang dinamakan black out atau hilangnya kontak.

Baca juga: Kegembiraan Anak Panti Asuhan saat Buka Bersama di Restoran Kembang

"Pada kasus Kapal Selam Nanggala ini harus dilihat dari beberapa sisi.

Apakah akibat media air yang resultannya nol ataukah kerusakan peralatan teknis," katanya.

Terkait terkait ditemukannya ceceran minyak, menurut Wisnu, bisa jadi merupakan minyak dari KRI Nanggala-402.

Foto saat awak KRI Nanggala-402 melakukan ibadah di atas kapal yang viral beberapa waktu lalu
Foto saat awak KRI Nanggala-402 melakukan ibadah di atas kapal yang viral beberapa waktu lalu (facebook)

Dijelaskan, dalam kapal selam, desain konstruksi ada yang namanya tangki pemberat (ballast tank).

Untuk kapal selam yang didesain tahun 1980an, maka kedalaman yang memungkinkan adalah 380 meter.

Tapi sekarang kemungkinan itu hanya 300 meter.

"Jika dipaksa lebih dari itu, tangki pemberatnya ini seperti diremas karena ada gaya hidrostatik dari air yang meremas kapal selam. Kalau sampai ada oli dan cairan minyak di permukaan air ini Indikasi tangki pemberatnya rusak," katanya.

Jika sudah 300 meter strukturnya mulai berbunyi dan kollaps. Tangki rusak semua minyak keluar.

Baca juga: KETIKA Atta Halilintar Positif Covid-19, Aurel Hermansyah Panas Badan, Kini Diisolasi Mandiri

Sumber: Surya
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved