Bisnis Komersial Bulog Jamin Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Covid-19

Strategi bisnis ini tak hanya mendekatkan produk-produk Bulog ke masyarakat, tetapi juga menjamin ketahanan pangan

TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA
SEORANG warga membeli produk pangan yang dijual dalam pasar murah Bulog Sumut di halaman depan kantor wilayah Bulog Sumut, Jumat (16/4/2021). Bulog kini terjun ke bisnis komersial untuk memastikan ketahanan pangan nasional terjaga dengan baik. 

TRIBUN-MEDAN.com - Badan Urusan Logistik (Bulog) kini tak lagi dikenal sebagai Perusahaan Umum (Perum) BUMN yang perannya hanya menyalurkan beras untuk bantuan sosial (Bansos) dan pengelolaan stok pangan. Seiring tuntutan ketahanan pangan nasional di tanah air, Bulog pun masuk ke bisnis komersial. Untuk memperkuat perannya di bisnis komersial, produk-produk pangan Bulog kini dijual secara offline melalui Rumah Pangan Kita (RPK) dan online melalui PangananDotcom di marketplace.  Strategi bisnis ini tak hanya mendekatkan produk-produk Bulog ke masyarakat, tetapi juga menjamin ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19.

***

JULIANDI Syahputra menyusun satu persatu produk pafngan yang baru tiba di kediamannya, di kawasan Gaharu, Medan Timur, Selasa (20/4/2021). Produk tersebut antara lain beras, minyak goreng, dan daging beku yang diantarkan kurir Perum Bulog Medan. Tak sampai 20 menit, Juliandi tuntas menyusun keseluruhan produk senilai lebih dari Rp 5 juta tersebut ke rak display yang ada di ruang tengah kediamannya. Terlihat ada logo Bulog di beberapa kemasan beras premium. Khusus untuk daging beku, Juliandi menyimpannya di dalam freezer.

Berjarak sekitar 15 kilometer dari kediaman Juliandi, aktivitas serupa juga dilakukan Edi Sapto, warga Jl. Mangaan Medan. Dirinya baru kembali dari kantor Bulog Medan dengan membawa produk pangan seperti daging beku dan beras senilai Rp 1,5 juta. Usai menyusun produk ke dalam rak, Edi melayani seorang pembeli perempuan yang membeli satu kilo daging sapi beku.

Sudah empat tahun terakhir, Juliandi dan Edi menjadi mitra (Sahabat) Bulog yang mengelola Rumah Pangan Kita (RPK).  RPK merupakan outlet penjualan pangan pokok yang dimiliki masyarakat dan dibina oleh Perum Bulog. Sebagai Sahabat RPK, Juliandi dan Edi wajib menjual produk-produk pangan dari Bulog seperti beras premium, daging beku, gula, dan minyak goreng. Tak perlu toko khusus, Juliandi dan Edi cukup menyediakan ruangan di kediamannya untuk memasang rak produk pangan.

Tak hanya Juliandi dan Edi. Ada ribuan kelompok masyarakat lainnya yang telah bergabung menjadi Sahabat RPK. Beragam manfaat pun dirasakan para Sahabat RPK.  

Juliandi misalnya. Saat temannya memperkenalkan RPK, dia tak langsung mengiyakan karena selama ini tahu kalau Bulog hanya mengurusi beras bantuan saja. Selain itu harganya juga pasti sama di pasar. Tetapi ketika melihat informasi di internet dan berdiskusi dengan petugas Bulog Medan, dirinya akhirnya berubah pikiran.

“Ternyata Bulog tak hanya mengurusi beras bantuan saja. Banyak produk yang dijual secara komersial oleh Bulog. Selain itu, setelah saya amati, harga produknya juga masih lebih murah dibandingkan di pasar. Akhirnya saya putuskan menjadi Sahabat RPK tahun 2016 lalu,” kata Juliandi.

Juliandi sebenarnya sudah mempunyai usaha mikro makanan ringan yang selama ini menopang kehidupan keluarga. Tetapi mengingat kebutuhan yang semakin banyak, Juliandi yakin kalau dengan menjadi Sahabat RPK, dirinya akan mendapatkan tambahan pendapatan untuk kebutuhan keluarga.

Menurut Juliandi, sebelum bulan puasa, RPK yang ia kelola bisa mencatat omset penjualan sekitar minimal Rp 1 juta. Dari omset ini, keuntungan yang diperoleh sekitar 10 persen. “Tidak banyak, karena RPK mengambil margin keuntungan juga tidak besar. Sudah ada ketentuannya dari Bulog,” katanya.

Dikatakan Juliandi, seandainya tidak mendapatkan keuntungan minimal 10 persen pun, dirinya sebenarnya sudah mendapatkan keuntungan karena produk pangan yang ia jual dapat dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya. “Tetap terpakai juga, karena keluarga saya kan butuh untuk makan, butuh minyak untuk menggoreng, dan lain-lain. Keuntungannya, saya dapat produk pangan dengan harga yang bersaing di pasaran,” terang Juliandi.

Juliandi menambahkan, kesempatan dirinya mendapatkan keuntungan yang cukup besar biasanya terjadi di bulan puasa. Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dirinya mampu mencatat penjualan minimal Rp 10 juta per bulan. Daging beku menjadi produk yang memberikan penjualan paling besar. “Selama bulan puasa ini, saya mengambil daging beku antara 20-100 kilogram. Semakin dekat Lebaran, permintaan daging beku semakin tinggi,” katanya.

Manfaat yang sama juga dialami Edi Sapto. Ayah dua anak ini mengatakan, dengan menjadi Sahabat RPK, dia dapat menjual produk pangan dengan harga yang relatif stabil. Meskipun di pasaran harga sedang naik, tetapi di RPK harga masih stabil. “Banyak konsumen RPK saya yang terbantu kalau beli produk pas hari besar, harga masih stabil,” katanya.

Di RPK miliknya yang ada di ruang tengah rumahya, beras dan minyak goreng paling banyak dibeli konsumen. Khusus untuk beras, dikemas dalam ukuran 1 kilogram, 5 kilogram, dan 10 kilogram. Sedangkan minyak goreng dalam kemasan 1 liter dan 2 liter. Tetapi karena saat ini sedang bulan puasa, permintaan daging pun meningkat. “Di RPK saya juga daging beku, hanya Rp 80 ribu per kilogram, jauh lebih murah kalau beli di pasar umum,” terang Edi.

Edi mengaku, karena marginnya tidak besar, keuntungan yang dia peroleh pun tidak besar. Meski begitu, dirinya tetap bersyukur karena punya pendapatan tambahan selain dari usaha bengkel motor miliknya. “Keuntungan dari RPK bisa saya gunakan untuk membeli susu dan pampers kedua anak saya yang masih balita,” kata Edi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved