Kisah Fira Jalani Ramadan di California, Rindu Minum Es Cendol saat Berbuka Puasa

Dikatakannya juga, Ramadan di California hampir tidak terasa lantaran muslim menjadi minoritas di daerah tersebut.

HO / TRIBUN MEDAN
Fira Fatmasiefa, mahasiswa University of California Berkeley, California asal Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Jalani Ramadan dan berbuka puasa di negeri orang tentu akan berbeda ketika menjalaninya bersama keluarga. 

Hal ini dirasakan oleh Fira Fatmasiefa, mahasiswa asal Medan yang sedang menempuh pendidikan S-1 di University of California Berkeley, Amerika Serikat.

Tahun ini menjadi tahun kedua bagi Fira berpuasa jauh dari keluarga setelah tahun lalu dirinya tak dapat berpuasa maupun mudik lantaran pandemi Covid-19.

"Aslinya tahun ini adalah tahun kedua saya menjalani Ramadan sendirian di Berkeley, karena tahun lalu pun saya tidak bisa pulang ke Indonesia akibat pandemi Covid-19 dan saya dan keluarga saya tidak ingin mengambil resiko dengan perjalanan yang panjang," ungkap Fira, Selasa (20/4/2021).

Dikatakan Fira, awal menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam ini, ada begitu banyak perbedaan yang dirasakan saat menjalani Ramadan terlebih durasi dan cuaca yang tak sama seperti di Indonesia.

"Perbedaan yang paling besar sih mengenai waktu subuh dan berbukanya, karena di Amerika Serikat sekitar bulan segini biasanya musim panas, matahari biasanya terbit lebih cepat dan tenggelam lebih lama," ujarnya.

"Biasanya di sini masuk subuh sekitar jam 4 atau jam 5 pagi, dan buka puasanya bisa jam 19.45 atau jam 8 malam, jadi pastinya durasi puasanya lebih lama dibandingkan ketika puasa di Indonesia," tambahnya.

Jauh dari keluarga demi menempuh pendidikan, Mahasiswa lulusan dari Chandra Kumala School Medan ini tak memungkiri bahwa dirinya rindu menjalani Ramadan bersama keluarga.

Fira Fatmasiefa bersama teman-temannya di University of California Berkeley (UC Berkeley).
Fira Fatmasiefa bersama teman-temannya di University of California Berkeley (UC Berkeley). (TRIBUN MEDAN/HO)

"Kangen suasana sahur dan buka puasa bareng keluarga aja. Fira dan keluarga tinggal di Medan tapi kampung halaman kami di Jawa Timur, jadi biasanya kami tiap Ramadan dan Idul Fitri pulang kampung, tapi tahun kemarin saya merayakan Ramadan sendirian, jauh dari keluarga," kenangnya.

Tentunya tak hanya waktu yang berbeda, Fira mengatakan bahwa perbedaan daerah membuat begitu sulitnya mendapatkan makanan khas Indonesia. 

Diungkapkannya, selama dua tahun menjalani Ramadan dirinya begitu rindu mengonsumsi es Dawet sebagai menu berbuka. 

"Biasanya suka banget buka puasa pake dawet atau es cendol atau cincau. Langsung seger kalau buka puasa pake itu. Tapi kalau disini, susah dapat makanan Indonesia, jadi Fira biasanya makan ala western karena emang itu yang gampang didapat dan untuk dimasak disini. Kalau untuk buka puasa, Fira disini kadang-kadang beli bubble tea sebagai gantinya dawet atau cincau," ujarnya.

Tinggal di negara minoritas, Fira menjalankan momentum Ramadan bersama umat muslim kelahiran Amerika yang memiliki darah Bangladesh, Palestine ataupun Turki. 

Dikatakannya juga, Ramadan di California hampir tidak terasa lantaran muslim menjadi minoritas di daerah tersebut.

Namun, setidaknya Fira dapat menemukan asosiasi mahasiswa muslim. Jadi, terkadan Fira ikut bergabung secara virtual Lantaran hampir seluruh kegiatan di asosiasi tersebut ditiadakan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved