Anton Medan Meninggal Dunia

Sempat Dihukum 18 Tahun 7 Bulan di 14 Penjara, Begini Sosok Anton Medan di Mata Anak-anaknya

Almarhum Anton Medan meninggalkan 12 orang cucu dan 7 orang anak setelah berjuang melawan penyakit diabetes yang dideritanya.

Editor: Tariden Turnip
TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy
Jalani Hukuman 18 Tahun 7 Bulan di 14 Penjara Berbeda, Ini Sosok Anton Medan di Mata Anak-anaknya Isak tangis Erisa Apsari, istri mendiang Muhammad Ramdhan Effendi alias Tan Hok Liang alias Anton Medan di rumah duka di Kampung Bulak Rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (15/3/2021) sore. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Sempat Dihukum 18 Tahun 7 Bulan di 14 Penjara, Begini Sosok Anton Medan di Mata Anak-anaknya

Preman insyaf legendaris, Mubaligh Muhammad Ramdhan Effendi alias Tan Hok Liang alias Anton Medan menghembuskan nafas terakhir, pada usia 64 tahun,  Senin (15/3/2021) sekitar pukul 14.50 WIB.

Isak tangis sang istri Erisa Apsari warnai suasana pembacaan doa untuk almarhum suaminya di rumah duka di Kampung Bulak Rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin (15/3/2021) sore.

Pantauan TribunnewsBogor.com, sang istri terus memegangi tangan almarhum sambil tertunduk dan terisak di tengah pembacaan surat Yasin dari para kerabat yang berdatangan.

Baca juga: SOSOK Anton Medan Kelahiran Tebing Tinggi, Dulu Dikenal Preman Kelas Kakap Era Presiden Soeharto

Sebelum meninggal dunia, Tan Hok Liang yang sempat mendekam di 14 Lapas berbeda untuk menjalani hukuman 18 tahun dan 7 bulan, sudah sakit-sakitan melawan penyakitnya selama tiga bulan terakhir.

Meski sempat dirawat di rumah sakit, almarhum lebih banyak dirawat di rumahnya di Kampung Bulak Rata, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Bahkan karena penyakitnya itu, almarhum sulit untuk berjalan.

"Terakhir-terakhir kakinya lemes jadi gak kuat jalan sendiri harus dituntun. Malah dalam sebulan terakhir lebih banyak diam di ranjang sampai saat-saat terakhir beliau," kata Wakil Ketua Persatuan Islam Tionghoa (PITI) Arta Darmadhi kepada TribunnewsBogor.com di rumah duka, Senin sore.

Dia menjelaskan bahwa saat sakit, almarhum pernah dirawat di rumah sakit di Sentul selama beberapa hari karena ada luka di punggung.

Almarhun Anton Medan dibawa ke rumah sakit karena luka di punggungnya yang sulit sembuh imbas penyakit diabetes yang dia derita.

"Dibawa ke rumah sakit cuma beberapa hari doang sih, dua hari atau tiga hari, pulang lagi," katanya.

Luka di punggung almarhum ini didapat diduga karena almarhum sempat terjatuh dari tempat tidur.

"Sempet jatuh dari tempat tidur, tiga bulan lalu saya jenguk.  Sampai tadi pagi saya kaget, saya baru balik dari Jambi denger bapak katanya kurang sehat, udah ngeluh-ngeluh, akhirnya siang tadi dikabarin udah gak ada," kata salah satu anak almarhum, Fiki kepada wartawan.

Rencananya almarhum Anton Medan akan dimakamkan di area Pesantren At-Taibin yang dia bangun tepatnya di samping Masjid Jami At Tam Kok Liong yang sudah almarhum siapkan jauh-jauh hari.

Almarhum Anton Medan meninggalkan 12 orang cucu dan 7 orang anak setelah berjuang melawan penyakit diabetes yang dideritanya.

Pondok Pesantren At-Taibin yang dikelola Anton Medan berada di Kampung Bulak Rata, RT 2/8, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. TRIBUNNEWSBOGOR.COM/DAMANHURI
Pondok Pesantren At-Taibin yang dikelola Anton Medan berada di Kampung Bulak Rata, RT 2/8, Kelurahan Pondok Rajeg, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. TRIBUNNEWSBOGOR.COM/DAMANHURI (TribunnewsBogor/Damanhuri)
Sumber: Tribun Bogor
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved