Pemimpin Oposisi Rusia Diracun

LOLOS dari Racun Agen Rezim Putin, Alexei Navalny Ditangkap saat Injakkan Kaki di Rusia, Kronologi

Navalny mengukir namanya dalam catatan pemerintahan Putin dengan mengungkap praktik korupsi yang dilakukan secara 'resmi'.

Tayang:
Editor: Tariden Turnip
BBC/EPA
LOLOS dari Racun Agen Rezim Putin, Alexei Navalny Ditangkap saat Injakkan Kaki di Rusia, Kronologi. Alexei Navalny dan istri Yulia berfoto sebelum ditangkap aparat Rusia di kedatangan Bandara Sheremetyevo di Moskow, Rusia (17/01/2021). 

Pesawat itu penuh dengan wartawan, termasuk Andrey Kozenko dari BBC Russian Service.

Sesaat sebelum mendarat, pilot mengumumkan bahwa karena "alasan teknis", pesawat itu dialihkan dari Bandara Vnukovo ke Bandara Sheremetyevo, pengumuman yang membuat para penumpang terkejut.

"Saya tahu bahwa saya benar. Saya tidak takut apa-apa," kata Navalny kepada para pendukungnya dan wartawan setelah mendarat, hanya beberapa menit sebelum dia ditahan.

"Apakah kamu sudah lama menunggu saya?" katanya kepada penjaga perbatasan.

Dia mencium istrinya Yulia - yang terbang bersamanya dari Jerman - setelah petugas polisi memperingatkan bahwa mereka akan menggunakan kekerasan fisik jika Navalny tidak mematuhi perintah untuk ikut bersama mereka.

Meskipun sudah mengajukan permohonan, pengacara Navalny tidak diizinkan untuk melakukan pendampingan.

Aktivis itu ditahan di sebuah kantor polisi di Moskow.

Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa menuntut pembebasan politikus oposisi Rusia Alexei Navalny menyusul penahanannya saat mendarat di Moskow dari Jerman, lima bulan setelah dia hampir terbunuh akibat serangan racun saraf.

Meskipun menyerukan agar pengkritik Presiden Putin itu dibebaskan, baik Amerika Serikat (AS) maupun negara-negara Eropa tidak sampai mengeluarkan ancaman untuk menerapkan sanksi.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengatakan pihak berwenang Rusia berusaha membungkam para penentangnya.

"Para pemimpin politik yang percaya diri tidak takut akan suara-suara penentangan, dan juga tidak melakukan kekerasan atau menahan saingan politik tanpa landasan," kata Pompeo.

Masih dari AS, penasihat keamanan nasional presiden terpilih AS Joe Biden juga mendesak pembebasan Navalny.

"Serangan Kremlin terhadap Navalny bukan hanya pelanggaran hak asasi manusia, tetapi penghinaan terhadap orang-orang Rusia yang ingin suara mereka didengar," kata Jake Sullivan.

Suara keras juga disampaikan oleh negara-negara Uni Eropa, termasuk Prancis, Italia dan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel, untuk menuntut pembebasan Navalny.

Dalam pernyataannya, pemerintah Inggris mengatakan "sangat khawatir" dengan penahanan Navalny.

Sumber: bbc
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved