Hari Ini dalam Sejarah
Pesawat Silk Air Jatuh, 104 Penumpang Tewas, Penyebab Insiden Memilukan Terkuak
Pesawat Silk Air Jatuh, Semua Penumpang Tewas, Penyebab Insiden Memilukan Terkuak
Polisi Singapura dilaporkan membuat batas pengaman pada bagian pelayanan SilkAir di Bandara Changi International Singapura. Di lokasi tersebut, para keluarga korban menunggu perkembangan berita lebih lanjut.
Penyebab jatuhnya helikopter tersebut, dilaporkan akibat faktor cuaca.
Kala itu, helikopter milik Polri juga meledak, setelah bagian ekornya menyentuh air dalam upaya naik, setelah permukaan air diduga sebagai daratan. Helikopter naas ini dalam perjalanan Aceh-Jakarta lewat Batam.
Mengutip Harian Kompas, 21 Desember 1997, Dirjen Perhubungan Udara Zainuddin Sikado menjelaskan sebelum jatuhnya pesawat SilkAir adalah kontak terakhir antara petugas menara Bandara Soekarno-Hatta dengan pesawat SilkAir pukul 16.13 WIB, setelah itu tidak ada lagi.
Menurut keterangannya, kontak terakhir itu terjadi biasa-biasa saja, tidak ada pernyataan distress, karena pilot sudah mau pindah kontak dengan Singapura.
Aturannya, jika sudah pindah kontak ke Singapura, itu berarti pesawat di bawah kendali menara pengawas Singapura, tidak lagi kendali Bandara Cengkareng.
Kecelakaan pesawat baru terungkap setelah menara Singapura menanyakan ke Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta.
Petugas di Singapura memberitahukan pesawat SilkAir seharusnya mendarat di Singapura pukul 16.40 WIB, tapi masih belum mendarat.
Baca juga: Bahaya yang Mengintai Setelah Pesawat Lama Tak Terbang karena Covid-19
Hal ini diperkuat adanya pemberitahuan dari Palembang, adanya penduduk yang melihat pesawat jatuh pukul 16.30 WIB.
Untuk penyelidikan, Departemen Perhubungan RI membentuk tim, dari Singapura juga mengirimkan tim rescue untuk membantu, dan tim investigasi.
Diberitakan Harian Kompas, 28 Desember 1997, kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) pesawat Boeing 737-300 SilkAir ditemukan tim penyelam SAR di lokasi jatuhnya pesawat pada Sabtu (27/12/1997) sekitar pukul 09.00 WIB.
Sementara itu, kotak hitam berisi pembicaraan di kokpit (cockpit voice recorder atau CVR) baru ditemukan pada 4 Januari 1998, seperti diberitakan Harian Kompas pada 5 Januari 1998.
Mengutip Harian Kompas, 2 Agustus 1998, titik terang muncul dalam penyelidikan jatuhnya pesawat Boeing 737-300 SilkAir.