BEI Lebih Dekat ke Masyarakat, Pasar Modal Jadi Semakin Kuat

Hingga Oktober tahun ini pertumbuhan investor di wilayah kerja BEI Sumut meningkat 145 persen dari target.

TRIBUN MEDAN/HO
PENGURUS dan dosen Unimed berfoto bersama di Galeri Investasi BEI Unimed, Jumat (27/11/2020). Bekerja sama dengan Universitas Negeri Medan (Unimed) dan Indo Premier Sekuritas, tahun ini BEI kembali melakukan peresmian Galeri Investasi BEI Unimed. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pasar modal kini kian dekat dengan masyarakat khususnya generasi milenial.

Hal ini tidak lepas dari upaya PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti Sekolah Pasar Modal (SPM) dan peresmian Galeri Investasi di universitas.

Meski ada pandemi, BEI tetap berusaha untuk melakukan edukasi mengenai pasar modal misalnya dengan memanfaatkan platform digital.

Kini SPM dilakukan secara online melalui aplikasi video conference. Selain itu gencar juga dilakukan Instagram Live dengan berbagai macam program seperti bincang bersama analis, edukasi, dan market review. Bahkan sosialisasi go public untuk calon emiten juga dilakukan secara online.

"Sebelumnya kegiatan itu sudah kita lakukan ada yang offline, ada yang online. Namun sekarang kita full online bahkan kami pun masih Work From Home. Kantor hanya buka untuk pelayanan tertentu saja. Itupun tamu wajib pakai masker dan tidak masuk ke dalam kantor," kata Kepala Kantor Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumut, M Pintor Nasution.

Namun di sisi lain, edukasi yang dilakukan secara online ini bisa menjangkau banyak orang termasuk milenial. Interaksi program live di media sosial BEI Sumut, @idx_sumut kian tinggi. Manfaatnya terlihat dari pertumbuhan jumlah investor yang meningkat drastis. 

Pintor mengatakan, hingga Oktober tahun ini pertumbuhan investor di wilayah kerjanya meningkat 145 persen dari target.

"Jadi target kami tahun ini 13.500 SID tapi hingga Oktober 2020 sudah mencapai 19.000. Ini bisa jadi karena banyak aktivitas kantor, sekolah, kampus terhenti, masyarakat jadi banyak menggunakan media sosial. Nah kita selama pandemi ini juga memanfaatkan media sosial untuk edukasi. Jadi ketemu, ini juga dilihat dari meningkatnya interaksi hingga pengikut media sosial kita," katanya.

Baca juga: LOWONGAN KERJA Hari Ini: Bursa Efek Indonesia Buka 11 Posisi, Lowongan untuk Lulusan D-3 dan S-1

Trainer BEI Sumut Ferdinan Sihombing mengatakan semakin bertumbuhnya jumlah investor diharapkan pasar modal bisa semakin kuat ke depan. 

"Tujuan kita adalah bagaimana meningkatkan jumlah investor. Kita lihat semenjak kampanye Yuk Nabung Saham di 2015 digalakkan dari dulunya pasar modal kita didominasi investor asing, kini pertumbuhan investor domestik sudah yang lebih tinggi," katanya. 

Sampai Oktober 2020, sebanyak 51,06 persen value transaksi didominasi dari investor domestik. Padahal sebelum adanya kampanye Yuk Nabung Saham sekitar 60 sampai 65 persen investor asing. 

"Pasar modal kita jadi semakin stabil. Contoh nyatanya pada 2008 ketika krisis berawal dari Amerika, IHSG jatuh sampai minus 55 persen. Investor asing menjual sahamnya membuat IHSG kita terdampak," katanya. 

Diakuinya memang investor asing juga banyak menjual saham pada 2020. Net sell asing hingga akhir November 2020 mencapai sekitar Rp 40 triliun. 

"Tapi IHSG hanya minus sekitar 9 persen. Padahal jumlah value yang dijual asing sudah sangat besar. Itu karena pertumbuhan investor domestik yang sangat besar, sehingga aksi investor asing tidak terlalu berpengaruh pada pasar modal Indonesia," kata Ferdinan. 

Bukan hanya menggaet investor baru, BEI juga tetap melakukan upaya agar investor tidak keluar dari bursa di tengah pandemi ini. Awal pandemi diakui Pintor transaksi di bursa mengalami penurunan. Namun seiring membaiknya perekonomian dan kabar positif penemuan vaksin, banyak investor yang mulai kembali bertransaksi. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved