Kebutuhan Sawit Dalam Negeri Meningkat, Harga TBS di Petani Rp 2.000 Per Kilogram

Hal ini sejalan dengan peningkatan B30 yang kemungkinan mulai Juli tahun depan akan dapat ditingkatkan menjadi B40.

TRIBUN MEDAN/SEPTRIMA
KETUA Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun dan beberapa narasumber dalam Peringatan Hari Sawit Nasional yang digelar secara virtual, Rabu (18/11/2020). Diperkirakan pada 2021 permintaan sawit dalam negeri akan mengalami peningkatan. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN -  Produksi sawit Indonesia pada tahun 2021 diperkirakan akan mengalami peningkatan meski jumlahnya tidak banyak. Sementara permintaan untuk di dalam negeri diyakini juga akan naik.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun. "Kalau sekarang misalnya produksi CPO sekitar 47,5 juta ton maka tahun depan mungkin bertambah menjadi 48 juta ton hingga 48,5 juta ton," ujarnya dalam Peringatan Hari Sawit Nasional yang digelar secara virtual, Rabu (18/11/2020).

Ia mengatakan, kebutuhan dalam negeri diyakini akan terus bertambah. Hal ini sejalan dengan peningkatan B30 yang kemungkinan mulai Juli tahun depan akan dapat ditingkatkan menjadi B40.

Baca juga: TERNYATA Masih Sedikit Perusahaan Kelapa Sawit di Sumut yang Lakukan Kemitraan Inti Plasma

"Sementara di luar negeri memang masih ada kelemahan kita dalam hal kampanye atau pun promosi. India sebagai importir terbesar misalnya, saat ini konsumsi minyak sawitnya menurun sampai dengan 56 persen dibandingkan sebelum pandemi. Maka perlu dilakukan promosi yang gencar," katanya.

Secara keseluruhan, pada 2021, Derom mengatakan, harga masih akan bertahan tinggi seperti pada tahun ini. Dimana tahun ini harga CPO bahkan pernah mencapai USD 800 per ton.

"Apalagi pada saat yang bersamaan, minyak nabati dari negara yang lain juga terhambat ekspornya. Misalnya Argentina, produksi petani masih banyak tapi mereka menahan stok dan tidak mengekspornya. Terutama karena nilai mata uangnya yang sangat fluktuatif," katanya.

Karena itu, pada pasar internasional supply minyak nabati menjadi berkurang. Sehingga harga diperkirakan akan bertahan pada level yang dianggap baik seperti saat ini.

"Inilah yang saat ini bisa dinikmati para petani. Di beberapa tempat harga TBS (Tandan Buah Segar) di tingkat petani sudah mencapai Rp 1.850 hingga Rp 2.000 per kilogram," imbuhnya.

Webinar ini digelar dalam rangka Hari Sawit Nasional yang diperingati setiap tangga 18 November. Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dalam kata sambutannya yang dibacakan Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) Kasdi Subagio mengapresiasi atas inisiasi pelaksanaan peringatan Hari Sawit Nasional ini.

"Saya berharap peringatan ini tidak sekedar seremonial, tapi menjadi momentum yang sangat besar dalamrangka menggerakkan pengembangan perkelapasawitan Indonesia ke depan," ujarnya. 

Dampak pandemi Covid-19 ini memang melanda dunia termasuk Indonesia, tapi patut bersyukur bahwa meski perekonomian Indonesia terkontraksi pada triwulan III, tapi pada dasarnya kontraksi itu mengalami perbaikan dari triwulan sebelumnya.

"Dari posisi yang masih negatif tersebut kita patut mensyukuri kembali bahwa sektor pertanian memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap perekonomian karena pertumbuhan positif pada triwulan III ini tumbuh 2,15 persen dari triwulan II 2,19 persen," katanya.

Ia mengatakan, tantangan pengembangan kelapa sawit ke depan tidak hanya dalam konteks produktivitas kelapa sawit rakyat, tapi juga harus menyiapkan kualitas produk dan diversifikasi produk yang bersertifikat.
"Kementan juga berkomitmen membangun baik dari sisi kebijakan mau pun program yang bisa mendukung perkembangan pembangunan kelapa sawit dari hulu hingga ke hilir," katanya.

Dikatakannya, perkembangan luas sawit Indonesia juga cukup pesat. Data terbaru hingga saat ini luas tutupan perkebunan sawit di Indonesia mencapai 16,38 juta hektar. Ini menjadi kerangka penting dalam upaya meningkatkan produktivitas yang ada utamanya di sawit rakyat.

"Dalam hal ini, melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kita bisa melaksanakan upaya-upaya peningkatan produktivitas melalui peremajaan sawit rakyat. Peningkatan produktivitas sawit juga terus difasilitasi negara misalnya BPDPKS yang tidak hanya mendukung kegiatan-kegiatan saja tapi juga termasuk peremajaan sawit, sarana prasarana, research, dan peningkatan kapasitas SDM kita," pungkasnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved