Ketika Rocky Gerung Sebut Rizieq Shihab Lebih Pancasilais Ketimbang Jokowi

Hal itu ia sampaikan kala menjadi tamu undangan di program Mata Najwa edisi Rabu, 21 Oktober 2020.

Editor: AbdiTumanggor
Tangkapan Layar YouTube realita TV
Rocky Gerung. 

Sebelumnya, Rocky Gerung diminta oleh Najwa Shihab untuk memberi nilai satu tahun pemerintahan Jokowi-Maruf Amin.

Rocky Gerung lalu mengeluarkan skor A minus.

"A- itu, A buat kebohongan dan minus (-) buat kejujuran," kata dia seperti TribunNewsmaker kutip dari tayangan Mata Najwa.

Rocky kemudian menyinggung hasil jajak pendapat surat kabar Kompas.

Menurut Rocky, jajak pendapat itu menunjukkan bahwa 45,2 persen masyarakat tak puas dengan kinerja pemerintahan Jokowi-Maruf.

"Sekarang di bawah 50 persen, itu artinya ini tahun pertama lo udah hilang."

"Ini seperti malam pertama pasangannya enggak puas, mestinya perkawinanya bubar kan,” tutur Rocky.

Baca juga: Mulai Januari 2021 Gaji PNS, TNI-Polri, Pegawai BUMN-BUMD, dan Karyawan Swasta Dipotong 2,5 Persen

Baca juga: Debat Sengit Irma Suryani vs Rocky Gerung, Irma: Di Zaman Soeharto Orang Seperti Rocky Sudah Hilang

Baca juga: Rocky Gerung Tegaskan Akan Mendukung Nikita Mirzani, Rocky Gerung: Nikita Adalah Kita

Rocky Gerung: Saya Gak Pernah Marah Pada Pak Jokowi Sebagai Manusia

tribunnews
Rocky Gerung (Kolase TribunNewsmaker - YouTube Resonansi TV)

Sebelumnya, Rocky sempat blak-blakan mengungkap alasannya sering memberikan kritik pedas pada Presiden Jokowi dalam Podcast di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored.

Secara tegas, Rocky mengatakan bahwa dirinya tidak ingin memberikan ruang kepada pemerintahan.

Menurut Rocky, jika dirinya memberikan ruang kosong itu, berarti ia memberikan apresiasi pada kekuasaan.

"Soal kritik pada presiden saya memang tidak ingin menyisakan ruang, sebab begitu ruang itu disisakan tadi, seolah memberi applause pada kekuasaan," ujar Rocky Gerung.

Rocky juga menilai bahwa tidak adanya kritikan terhadap kinerja presiden justru akan membuat pendukung presiden berhura-hura.

Utamanya, para pendukung yang tidak memiliki argumen.

"Lalu gerombolan penjilat, kaum fanatik yang tanpa argumen mendukung presiden itu lalu hura-hura," sambungnya.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved