DAMPAK COVID-19, Aktivitas Sektor Pariwisata Masih Sepi, Travel Agent Butuh Stimulus dan Bantuan
Tiket internasional sekarang ini juga tidak ada, 59 negara juga melarang warganya datang ke Indonesia, begitu juga sebaliknya WNI
Laporan Wartawan T r ibun-Medan/Natalin
T R IBUN-MEDAN.COM, MEDAN-
Sebagian besar Biro Perjalanan Wisata (BPW) masih menutup kantornya atau work from home (WFH), hal ini disebabkan sepinya aktivitas sektor pariwisata di tengah pandemi Covid-19.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia ASITA (Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies) Sumatera Utara (Sumut) Solahuddin Nasution mengatakan pendapatan biro perjalanan selama ini dalam keadaan normal biasanya diperoleh dari penjualan paket wisata, tiket pesawat, hotel dan transpor.
Namun, di tengah pandemi aktivitas sektor pariwisata ini hanya di bawah 10 persen.
"Kalau perjalanan paket wisata sama sekali tidak ada, penjualan tiket juga nilainya masih kecil, tidak sampai 10 persen," ujar Solahuddin.
Ia menjelaskan beberapa paket tour diantaranya, paket inbound tour, tour yang mendatangkan wisatawan dari luar negeri ke dalam negeri, paket outbound tour menjual paket wisata dari dalam negeri berwisata ke luar negeri.
Paket domestik tour, berwisata dari satu daerah ke daerah lain dalam satu negara dan paket umroh, paket holyland tour ziarah ke Yerusalem. "Keempat paket tour ini belum ada transaksi," ungkapnya.
Dijelaskannya, penjualan tiket domestik dan internasional juga masih rendah. Frekuensi penerbangan juga berkurang drastis.
"Orang yang melakukan penerbangan untuk saat ini untuk perjalanan dinas, urusan keluarga yang memang mendesak. Kalau untuk berwisata tidak ada. Siapa yang mau berwisata sekarang? Jadi harus dipahami pariwisata ini faktor trust (kepercayaan), berwisata berarti harus percaya melakukan perjalanan dalam kondisi nyaman," kata Solahuddin.
Selain itu, lanjutnya, 59 negara menolak masuk Warga Negara Indonesia (WNI) imbas pandemi Covid-19.
"Tiket internasional sekarang ini juga tidak ada, 59 negara juga melarang warganya datang ke Indonesia, begitu juga sebaliknya WNI susah diterima di negara-negara itu," ujar Solahuddin.
Ia mengaku, untuk pemesanan voucher hotel juga kebanyakan tamu sudah langsung memesan ke hotel, hanya sedikit yang booking hotel melalui BPW. Itu pun hanya tamu-tamu lokal menuju Berastagi, Parapat dan Samosir pada saat
weekend. Dari sisi penyewaan transpor, tidak semua BPW punya transpor. Kebanyakan transpor (bus) tidak jalan, dan hanya sedikit yang memesan mobil rental.
"Tidak ada pendapatan travel agent, untuk tetap bertahan, teman teman travel agent banyak yang mencoba beralih ke bidang usaha lain, memperkecil biaya pengeluaran. Yang pasti merumahkan karyawan, dan tidak ke kantor untuk mengurangi biaya listrik," ucapnya.
Ia menjelaskan makin tinggi angka pasien Covid-19, makin menurun aktivitas pariwisata, makin menurun angka pasien Covid-19 maka aktivitas pariwisata perlahan akan membaik. "Pariwisata ini yang paling duluan kena dampaknya, dan belakangan recorverynya, kalau kita tidak serius menangani pandemi ini berat untuk memulihkan sektor pariwisata," ucapnya.
Solahuddin berharap pandemi Covid-19 segera berlalu, pemerintah juga diharapkan dapat memperhatikan industri pariwisata dengan memberi stimulus dan bantuan secara khusus kepada travel agent.
(nat/t r ibun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/wisatawan-di-pantai-bebas-parapat.jpg)