Survey BI Sumut, Juli 2020 Penjualan Eceran Masih Terkontraksi

Berdasarkan Survey Penjualan Eceran (SPE) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumut menunjukkan adanya perbaikan pada penjualan eceran selama Juli 2020

Tribun-Medan.com/Septrina Ayu Simanjorang
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berdasarkan Survey Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumut menunjukkan adanya perbaikan pada penjualan eceran selama Juli 2020, meski masih dalam fase kontraksi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPw BI Sumut), Wiwiek Sisto Widayat mengatakan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2020 tumbuh terbatas 0,87% (mtm).

Hal ini terutama dipicu peningkatan penjualan suku cadang dan aksesori. Pelaku usaha memprakirakan penjualan eceran akan meningkat pada September 2020 dan menunjukkan optimisme di tengah upaya pemulihan ekonomi.

"Hasil SPE juga mengindikasikan kenaikan harga jual pada tiga bulan mendatang yakni pada September 2020 meski terbatas. Hal ini sejalan dengan realisasi IHK yang mencatat inflasi
pada Juli 2020,' katanya.

Sementara itu lanjut Wiwiek pelaku usaha memprakirakan penjualan eceran pada tiga bulan mendatang yakni September 2020 akan meningkat, menunjukkan optimisme pelaku usaha mulai bangkit seiring penerapan era adaptasi kebiasaan baru dan upaya pemulihan ekonomi nasional.

Sementara melalui survei konsumen yang dilakukan pada Agustus 2020 mengindikasikan sikap pesimis konsumen terhadap kondisi ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang masih berada dibawah angka 100.

Pesimisme ditunjukkan dari melemahnya pandangan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini (IKE) dan ekspektasi ke depan (IEK).

Sedangkan berdasarkan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan kegiatan usaha di Sumut pada triwulan II 2020 menurun dibanding triwulan sebelumnya. Penurunan ini kata Wiwiek terjadi pada seluruh Lapangan Usaha (LU) utama.

"Pelaku usaha memprakirakan kegiatan usaha akan membaik pada triwulan III 2020, kecuali LU konstruksi karena turunnya daya beli masyarakat dan belum optimalnya realisasi proyek Pemda. Purchasing Manager Index (PMI) juga diprakirakan masih terkontraksi, mencerminkan pesimisme pelaku usaha sektor manufaktur," ujarnya.

Ia menambahkan pada triwulan II 2020, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) primer tumbuh melambat dibanding triwulan sebelumnya, didorong perlambatan indeks properti kecil dan besar seiring melemahnya daya beli akibat pandemi. Sementara, properti menengah masih tumbuh stabil,
mengindikasikan permintaan properti masyarakat kelas menengah lebih terjaga.

"Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Pasar Sekunder, pada triwulan II 2020, harga tanah dan rumah secara agregat stabil dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan harga terjadi pada rumah tipe kecil, sedangkan menengah dan atas tumbuh terbatas," ujarnya.

Menurut Wiwiek harga properti diprakirakan akan terkontraksi pada triwulan III 2020. Sementara, berdasarkan survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom), pada triwulan II 2020, keterbatasan daya beli dan kontraksi ekonomi menyebabkan permintaan dan penawaran properti komersial terdeselerasi.

"Harga dan permintaan hotel paling merosot dibanding jenis properti lainnya. Seiring kebijakan Work From Home (WFH) dan minimnya aktivitas pariwisata di tengah pandemi," pungkasnya.

(sep/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved