Tinggal di Kuburan Selama 2 Tahun, Maruba Siahaan (62) Luput dari Pendataan Bantuan Sosial Covid-19

MARUBA Siahaan (62) bisa jadi adalah satu dari sekian warga kurang mampu yang luput dari perhatian di masa pandemi Covid-19 ini.

Penulis: Alija Magribi | Editor: Juang Naibaho
Tribun-Medan.com/Alija Magribi
Maruba Siahaan, pria lanjut usia beraktivitas di komplek pemakaman Kristen di Pematangsiantar. Di sini ia membangun gubuk untuk tempat tinggalnya. 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Alija Magribi

MARUBA Siahaan (62) adalah satu dari sekian warga kurang mampu yang luput dari perhatian pemerintah di masa pandemi Covid-19 ini.

Bagaimana tidak, di usia senjanya, Maruba yang hidup sendirian di komplek perkuburan Kristen, tak pernah mendapatkan bantuan sosial apapun.

Maruba Siahaan tinggal di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Mual Nauli di Kelurahan Sihopat Suhu, Kecamatan Siantar Timur, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Di sini, ia membangun gubuk non-permanen ala kadarnya dari berbagai barang bekas.

Sudah dua tahun Maruba tinggal di sana.

Ia membangun sendiri tempat tinggalnya itu dari terpal bekas, baliho, dan bambu yang banyak terdapat di sekitar daerah itu.

Ayah empat anak ini mengisahkan sudah dua tahun tinggal seorang diri di lokasi yang tak biasa itu.

Di gubuk sederhana yang dibangunnya itulah Maruba tinggal seorang diri. Tanpa listrik.

"Dulu saya tinggal di Pekanbaru. Setelah istri saya meninggal, saya kembali ke Siantar, kota kelahiranku.

Sudah hampir dua tahun tinggal di sini karena mau tinggal di mana lagi, saya tidak punya rumah. Mau tinggal sama anak malu," ungkapnya.

BREAKING NEWS, Cerita Jambret Sadis Tebas Jari Ternyata Rekayasa, Erdina Boru Sihombing Tersangka

Preman Adang dan Bacok Anggota TNI yang Bertugas Hingga Meninggal, Begini Kronologis Lengkapnya

WARNING PEMKO MEDAN! Nama - nama Penerima Bansos Harus Tempel di Kelurahan, Sekda:Jangan Main-main

Maruba mengaku mendapat kepercayaan dari warga menjadi penjaga makam di sana, termasuk mengggali makam sembari mengumpulkan barang bekas.

Dia juga memanfaatkan ruang kosong antarmakam dengan menanam cabai, ubi, dan jagung.

Sesekali Maruba menjalah ikan di sungai yang mengalir dekat TPU yang ia tinggali.

"Ya kadang gali makam, cari barang bekas, kalau ada keluarga ziarah, saya bersihkan makam, terus menjalah ikan di sungai. Tapi sekarang jarang orang ziarah di sini," kata Maruba.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved