Ramadhan 2020
Jalankan Ibadah Puasa di Swiss, Nony Rindu Masakan Indonesia hingga Buat Pempek Sendiri
Di Zürich suasana Ramadan tidak begitu terasa karena tidak ada pengeras suara masjid yang bisa didengar secara leluasa.
"Secara keseharian waktu puasa kita lebih panjang hari ini waktu sholat subuh masuk pukul 03.57 dan waktu buka puasanya pada pukul 20.45," katanya.
Selama berpuasa, Nony mengaku tidak mengalami kesulitan karena beraktivitas hanya di dalam rumah dan hanya pergi di saat ada kepentingan yang mendesak.
Mengenai makanan, tak hanya karena mahal, makanan di Zürich juga didominasi dengan bahan keju sehingga tidak begitu cocok dengan lidah warga Indonesia seperti Nony. Ia mengatakan lebih memilih memasak masakan Indonesia yang bahan-bahannya bisa didapatkan di toko Turki.
"Karena makanan khas di sini biasanya keju kejuan pasti kita milihnya masak makanan ala Indonesia. Kita suka tempe banget apa lagi tempe orek basah ala warteg, dendeng juga suka. Nah di sini ada Asian Store dan toko turkey jadi untuk tempe biasanya beli di sana dan tempah juga lumayan lengkap di toko turkey," katanya.
• Ramadan Pertama di London, Begini Cara Rica Asrosa Obati Rindu Kampung Halaman
Ambil Hikmah Selama Pandemi
Meskipun tidak memiliki kesempatan untuk merasakan Ramadan seutuhnya di Zürich tahun ini karena virus corona, perempuan kelahiran 13 November 1992 ini mengaku tetap mengambil hikmah dari masa pandemi ini.
Hikmah tersebut adalah dirinya bisa tetap bersama dengan orang terkasih yakni sang suami.
"Sayangnya karena pandemi jadi tidak bisa bener bener dirasakan momen ramadan karena di sini batasan orang berkumpul diberlakukan seperti pembatasan jumlah orang berkumpul yang tidak boleh lebih dari 5 orang (akan dikenakan denda) jadi impact nya kita enggak bisa pergi ke masjid," katanya.
"Namun di balik musibah wabah pandemi ini pasti ada hikmahnya seperti bisa lebih dekat dengan pasangan, dan tetap bisa kok silaturahim dengan orang tua meski via hanya via telepon," ungkap Nony.
Ia mengatakan, hal yang paling dirindukannya dari keluarga di Tanjungpinang adalah momen berkumpul bersama, sahur, berbuka, dan beribadah bersama dengan keluarga.
"Kalau yang paling dirindukan di Indonesia pasti orangtua, karena yang biasanya buka puasa atau sahur bareng, sholat tarawih atau tadarusan bareng sekarang enggak bisa dikarenakan harus tinggal jauh dari keluarga," katanya.
Lulusan program magister di Universitas Indonesia ini berharap di bulan Ramadan kali ini ia masih tetap bisa memaksimalkan ibadahnya meski di tengah pandemi. Ia juga berharap wabah pandemi ini segera usai agar semua orang bisa berkumpul dengan keluarga terkasih.
"Harapannya walaupun kita sedang mengalami musibah skala global dan harus diterapkannya PSBB yang enggak hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi di sini. Justru mestinya membuat kita lebih dekat dengan orang tersayang di rumah. Di balik bencana pasti ada kebaikan. Semoga kita semua dapat memaksimalkan ibadah di bulan yang penuh ampunan ini dan sama sama berdoa semoga wabah ini segera usai," pungkasnya.(cr14/tri bun-medan. com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/nonny-natadia.jpg)