Ramadan Pertama di London, Begini Cara Rica Asrosa Obati Rindu Kampung Halaman

Di Indonesia jam 6-7 malam sudah bisa berbuka puasa, di sini saya harus menahan lapar lebih lama sampai jam 9 malam

Editor: Salomo Tarigan
HO/tri bun medan
Dokumentasi Rica Asrosa sebelum diberlakukan penerapan lockdown di London 

TRI BUN-MEDAN.com - Suasana Ramadan di negeri yang berpenduduk muslim minoritas terasa beda.

Hal ini yang dirasakan Rica Asrosa saat pertama kali jalani Ramadan di London, Inggris.

Rica menginjakkan kaki di London sejak tujuh bulan lalu untuk menempuh pendidikan program MSc Advanced Materials Science di University College London, Inggris.  

"Perbedaannya terasa sangat signifikan di waktu lamanya kita berpuasa. Jika di Indonesia jam 6-7 malam sudah bisa berbuka puasa, di sini saya harus menahan lapar lebih lama sampai jam 9 malam. Juga waktu salat yang berbeda sekali dengan di Indonesia membuat terasa sedikit aneh," ungkap Rica melalui WhatsApp, Jumat (8/5/2020).

Ia menuturkan bahwa awalnya sempat bingung untuk waktu makan dan tidur lantaran jam berbuka dan sahur yang begitu dekat.

"Bingung kapan makan kapan tidurnya, soalnya jam 11 malam baru selesai Isya dan sedangkan jam 2 pagi sudah harus sahur lagi," tuturnya.

Bagi Rica, masakan ibu ketika bulan Ramadan menjadi hal yang begitu ia rindukan sejak menetap di kota besar yang dijuluki "The Smoke" ini.

"Yang paling saya rindukan adalah masakan ibu saya. Karena saya tidak terlalu jago dalam memasak serta sangat pemilih dalam makanan membuat saya tidak memiliki nafsu makan seperti saya di Indonesia. Selain itu, saya merindukan takjil yg dijual di jalanan ketika di Indonesia," ujar Rica.

Jauh dari tanah air, Rica harus belajar mandiri. Selama bulan Ramadan, gadis berdarah Aceh-Melayu ini mencoba belajar masak makanan Indonesia untuk mengobati rasa rindunya terhadap masakan sang ibu.

"Jika sangat ingin atau rindu dengan makanan sesuatu, saya dan teman berusaha untuk memasaknya sendiri walaupun tidak seoriginal di Indonesia. Contohnya kemarin kami memasak roti canai, pie susu, risol isi keju dan telur serta ayam penyet. Pasta dan Roti Croissant menjadi makanan favorit tambahan saya selama saya berada di sini," kata Rica.

Bagi Rica, walau Islam menjadi agama minoritas di London, ia mengungkapkan bahwa toleransi warga London terhadap muslim sangat terjalin baik.

"Warga London sangat terbuka dalam hal apapun, jadi semua memberi space dan toleransi yang baik selama Ramadan," ungkapnya.

Tambahnya, ia mengungkapkan bahwa pengalaman berkesan saat ia diberikan coklat oleh pemilik rumah yang mereka sewa.

"Pengalaman berkesan selama Ramadan yaitu ketika landlord atau pemilik rumah yang kami sewa memberikan sepaket coklat dan kurma. Kemudian, ketika saya berbelanja di toko dekat rumah, bertemu dengan para warga London muslim dan mereka menyapa serta menanyakan bagaimana puasa saya," kata Rica.

Saat bulan Ramadan, London biasaya punya acara khusus seperti acara Open Iftar di Trafalgar Square. Namun, Rica menginformasikan bahwa kegiatan ini harus ditiadakan di tengah pandemi Covid-19 yang turut melanda London dan belahan dunia lainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved