Ramadhan 2020

Jalankan Ibadah Puasa di Swiss, Nony Rindu Masakan Indonesia hingga Buat Pempek Sendiri

Di Zürich suasana Ramadan tidak begitu terasa karena tidak ada pengeras suara masjid yang bisa didengar secara leluasa.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/HO
NONY Natadia Ernel, perempuan asal Tanjungpinang yang kini tengah menjalani puasa di Zürich, Swiss bersama sang suami. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Berpuasa di sebuah Kota di Swiss bernama Zürich menjadi pengalaman tersendiri bagi Nony Natadia Ernel.

Perempuan asal Tanjungpinang, Riau yang merantau ke Zürich untuk menemani sang suami yang tengah menyelesaikan pendidikan S3 di ETH Zürich, sebuah institusi pendidikan tinggi di Zürich sejak November 2019 lalu.

Bagi Nony menghabiskan Ramadan di Zürich sangat berbeda jika dibandingkan dengan di Indonesia.

Hal tersebut karena penduduk muslim di Zürich yang berjumlah sangat sedikit dari persentase jumlah penduduk Swiws secara keseluruhan.

Ini merupakan pengalaman kedua Nony menghabiskan puasa di Zürich.

Sebelumnya ia datang ke kota ini saat pertengahan hingga akhir bulan Ramadan.

"Ini kali kedua Ramadan di Zürich sebelumnya di tahun 2018, karena kebetulan liburan kuliah dua bulan, jadi nyusul suami ke sini. Sebentar, cuma enggak full soalnya aku datang di pertengahan Ramadan hingga lebaran di sini. Nah, baru 2020 ini aku benar benar mulai Ramadan di sini," tulis Nony saat diwawancarai Tri bun Medan via aplikasi whatsapp, Sabtu (9/5/2020).

Nony mengatakan, di Zürich suasana Ramadan tidak begitu terasa karena tidak ada pengeras suara masjid yang bisa didengar secara leluasa.

Suara adzan juga hanya bisa didengar melalui aplikasi di telepon genggam.

"Ramadan di Zürich berbeda pasti suasananya. Karena total masyarakat muslim di Swiss hanya sebanyak 5.4 persen berdasarkan indexmundi.com dan penggunaan speaker adzan enggak bisa didengar selayaknya yang sering kita denger di Indonesia. Jadi suasana Ramadan nya benar-benar berbeda," ungkap Nony.

Selain itu, terang Nony, juga tidak ada pedagang takjil yang biasanya selalu dijumpai di Indonesia. Nony juga memasak menu sahur dan berbuka sendiri di rumah untuk menghemat biaya karena makanan dan biaya hidup lainnya di Zürich dan Swiss pada umumnya tergolong sangat mahal.

Makanan favorit yang juga sering Nony masak adalah pempek.

"Jadi karena takjilan enggak ada dan biaya hidup yang cenderung lebih mahal di sini yaitu berada di posisi kedua tertinggi di dunia berdasarkan finance.yahoo.com membuat kita mesti nyiapin sendiri makanan yang kita mau makan baik untuk sahur maupun buka puasa bahkan kalau kangen dengan pekmpek pun kita buat sendiri," katanya.

Putus Penyebaran Covid19, Bank Sumut Ajak Nasabah Manfaatkan Sumut Mobile

Untuk keseharian berpuasa di Zürich, Nony mengatakan waktu berpuasa berkisar 17 sampai 18 jam.

Waktu ini tergolong lebih panjang jika dibandingkan dengan durasi berpuasa di Indonesia yang hanya berkisar 12 jam.

"Secara keseharian waktu puasa kita lebih panjang hari ini waktu sholat subuh masuk pukul 03.57 dan waktu buka puasanya pada pukul 20.45," katanya.

Selama berpuasa, Nony mengaku tidak mengalami kesulitan karena beraktivitas hanya di dalam rumah dan hanya pergi di saat ada kepentingan yang mendesak.

Mengenai makanan, tak hanya karena mahal, makanan di Zürich juga didominasi dengan bahan keju sehingga tidak begitu cocok dengan lidah warga Indonesia seperti Nony. Ia mengatakan lebih memilih memasak masakan Indonesia yang bahan-bahannya bisa didapatkan di toko Turki.

"Karena makanan khas di sini biasanya keju kejuan pasti kita milihnya masak makanan ala Indonesia. Kita suka tempe banget apa lagi tempe orek basah ala warteg, dendeng juga suka. Nah di sini ada Asian Store dan toko turkey jadi untuk tempe biasanya beli di sana dan tempah juga lumayan lengkap di toko turkey," katanya.

Ramadan Pertama di London, Begini Cara Rica Asrosa Obati Rindu Kampung Halaman

Ambil Hikmah Selama Pandemi

Meskipun tidak memiliki kesempatan untuk merasakan Ramadan seutuhnya di Zürich tahun ini karena virus corona, perempuan kelahiran 13 November 1992 ini mengaku tetap mengambil hikmah dari masa pandemi ini.

Hikmah tersebut adalah dirinya bisa tetap bersama dengan orang terkasih yakni sang suami.

"Sayangnya karena pandemi jadi tidak bisa bener bener dirasakan momen ramadan karena di sini batasan orang berkumpul diberlakukan seperti pembatasan jumlah orang berkumpul yang tidak boleh lebih dari 5 orang (akan dikenakan denda) jadi impact nya kita enggak bisa pergi ke masjid," katanya.

"Namun di balik musibah wabah pandemi ini pasti ada hikmahnya seperti bisa lebih dekat dengan pasangan, dan tetap bisa kok silaturahim dengan orang tua meski via hanya via telepon," ungkap Nony.

Ia mengatakan, hal yang paling dirindukannya dari keluarga di Tanjungpinang adalah momen berkumpul bersama, sahur, berbuka, dan beribadah bersama dengan keluarga.

"Kalau yang paling dirindukan di Indonesia pasti orangtua, karena yang biasanya buka puasa atau sahur bareng, sholat tarawih atau tadarusan bareng sekarang enggak bisa dikarenakan harus tinggal jauh dari keluarga," katanya.

Lulusan program magister di Universitas Indonesia ini berharap di bulan Ramadan kali ini ia masih tetap bisa memaksimalkan ibadahnya meski di tengah pandemi. Ia juga berharap wabah pandemi ini segera usai agar semua orang bisa berkumpul dengan keluarga terkasih.

"Harapannya walaupun kita sedang mengalami musibah skala global dan harus diterapkannya PSBB yang enggak hanya terjadi di Indonesia tapi juga terjadi di sini. Justru mestinya membuat kita lebih dekat dengan orang tersayang di rumah. Di balik bencana pasti ada kebaikan. Semoga kita semua dapat memaksimalkan ibadah di bulan yang penuh ampunan ini dan sama sama berdoa semoga wabah ini segera usai," pungkasnya.(cr14/tri bun-medan. com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved