Virus Corona

Kelelawar Penyebar Virus Corona, ternyata Nyaris Tidak Bisa Menua bahkan Bisa Hidup Selama 41 Tahun

WHO mengatakan pada Selasa (21/4/2020) semua bukti yang ada menunjukkan bahwa virus corona baru berasal dari kelelawar di China akhir tahun lalu.

Editor: Tariden Turnip
dok
Kelelawar Penyebar Virus Corona, ternyata Nyaris Tidak Bisa Menua bahkan Bisa Hidup Selama 41 Tahun . Kelelawar buah dan kelelawar putih 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) membantah  teori konspirasi yang menyebut virus Corona-SARS-CoV-2 berasal dari laboratorium di Wuhan di China tengah. 

WHO mengatakan pada Selasa (21/4/2020) bahwa semua bukti yang ada menunjukkan bahwa virus corona baru berasal dari kelelawar di China akhir tahun lalu dan tidak dimanipulasi atau dibangun di laboratorium.

"Semua bukti yang ada menunjukkan bahwa virus itu berasal dari hewan dan tidak dimanipulasi atau dibangun di laboratorium atau di tempat lain," kata juru bicara WHO Fadela Chaib dalam jumpa pers di Jenewa seperti yang dikutip Reuters. "Mungkin saja, kemungkinan virusnya berasal dari hewan."

Tidak jelas bagaimana virus itu melompati penghalang spesies bagi manusia, tetapi "pasti" ada hewan inang perantara, tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, saat para ilmuwan masih meneliti asal-usul virus, pada saat ini, para ahli percaya bahwa Covid-19 kemungkinan berasal dari kelelawar menjangkiti manusia melalui hewan perantara yang tidak diketahui.

Pakar virologi, Profesor Shi Zhengli, yang melakukan penelitian virus kelelawar di Institut Wuhan.

Terakhir awal Februari lalu, ia mempublikasikan artikel ilmiah tentang virus kelelawar dalam jurnal ilmiah Nature.

Artikel tentang potret ilmuwan ini muncul di harian South China Morning Post edisi 6 Februari. Disebutkan, periset ini melakukan pengambilan sampel kotoran kelelawar di gua-gua di 28 provinsi Cina.

Di Wuhan, Pofesor Shi membangun arsip lengkap untuk virus kelelawar, seperti dilansir Spektrum dan Scientific American.

Awal 2019 Shi bersama timnya mempublikasikan hasil penelitian ekstensif tentang virus corona pada kelelawar. Laporan menyebut, kelelawar tapal kuda sebagai inang strain virus corona yang serupa dengan virus yang muncul kemudian di Wuhan.

Berkat kerja team yang dia pimpin itulah, para ilmuwan dapat melakukan sekuensi cepat genom virusnya, juga mempublikasikannya dengan cepat. Hal ini menciptakan peluang bersejarah yang tidak diduga sebelumnya, untuk mempercepat penelitian dan pembuatan vaksinnya.

Walau begitu, hingga beberapa minggu terakhir ini, Profesor Shi Zhengli terus menjadi sasaran serangan terus-menerus di media sosial di Asia maupun di kawasan lainnya di dunia.

Hal tersebut memicu pembelaan dari rekan penelitinya, Peter Daszak pimpinan the EcoHealth Alliance, NGO di New Yorkm yang berfokus pada riset ilmiah dan pencegahan pandemi.

Daszak mengatakan dalam sebuah wawancara dalam acara Democracy Now di National Public Radio, sebuah lembaga penyiaran publik di AS, bahwa tudingan virusya bocor dari laboratorium di Wuhan adalah tidak berdasar. Ia menyebutkan, bekerja selama 15 tahun bersama laboratorium dan sama sekali tidak menyimpan virus SARS-CoV-2.

“Ini politisasi asal mula pandemi, yang sangat tidak menyenangkan, mengkaitkan asal-usul pandemi dengan laboratorium,” ujar Daszak.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved