Komunitas Ryuzaki Dojo Medan Wadahi Pemuda Belajar Seni Bela Diri Jepang Ala Samurai
Komunitas Ryuzaki Dojo Medan Wadahi Pemuda Belajar Seni Bela Diri Jepang Ala Samurai
"Kita bandingkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini, banyak dari sifat sifat dari tujuh filosofis tadi itu banyak yg sudah mulai terkikis. Disinilah kita mencoba membangun kembali mental yg baik tersebut.
Satu lagi yang paling penting, yaitu kita belajar teknik membunuh adalah dengan tujuan untuk tidak pernah menggunakannya," kata Ahmad.
Memasuki tahun ketiga merintis Ryuzaki Dojo Medan, Ahmad menuturkan banyak kesan dalam merintis komunitas yang kini beranggotakan 25 orang. Ia menuturkan bahwa pengalaman paling berkesan saat masa awal hanya berlatih berdua sebelum memiliki 20an anggota.
"Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika aku masih berlatih berdua di Lapangan Merdeka selama sebulan, sampai ada ibu-ibu yang tertarik dan ikut mendaftar sebagai member bersama keponakannya, dan pertama kali membuka stand di event Bunkasai USU dengan segala suka-dukanya," ungkapnya.
Anggota Ryuzaki Dojo Medan, Sawung Djabo yang bergabung pada tahun 2019 ini juga awalnya tertarik untuk bergabung setelah melihat penampilan Ryuzaki Dojo Medan di acara Bunkasai USU.
"Saat itu saya melihat ryuzaki dojo ini berada di sebuah event Jejepangan yaitu Bunkasai USU 2019. Saya awalnya memang sudah tertarik dengan seni bela diri berpedang dari Jepang. Saat mengetahui komunitas ini saya langsung bergabung," ujar Sawung.
Saat ini Sawung sudah menguasai beberapa teknik dasar, diantaranya Kenjutsu.
"Saat ini saya masih menguasai teknik dasar kenjutsu (pedang) yang terdiri dari empat Waza, dan yang masih saya pelajari adalah Bojutsu (tongkat) dan Naginata Jutsu (Naginata)," ujarnya.
Senada dengan Sawung, Putri Ghuban yang bergabung sejak tahun 2018 ini turut diajak oleh Ahmad. Putri mengaku sudah tertarik dengan seni bela diri Jepang dan sudah menguasai beberapa teknik.
"Saya dari dulu sangat tertarik ikut seni bela diri, tapi dulu sering terhalang waktu. maka ketika mendapat ajakan dari bang Ahmad, tawaran ini tidak saya sia-siakan. Kalau teknik-teknik dasar sudah saya kuasai, teknik Kenjutsu juga sudah semua, dari Waza 1 hingga 4. Sekarang saya baru mulai latihan teknik Bojutsu, Tapi ya karna mewabahnya Covid 19 ini, latihan kami hentikan," kata Putri.
Dalam setiap latihan, para anggota komunitas menggunakan Boken atau pedang kayu untuk berlatih. Mengikuti standar Katori, Ryuzaki Dojo Medan menggunakan Boken dengan panjang 97 cm. Boken biasanya dapat dibeli di toko online dengan kisaran harga Rp. 150 ribu.
Komunitas Ryuzaki Dojo Medan saat ini masih menggunakan Lapangan Merdeka sebagai tempat latihan. Ke depannya, Ahmad memiliki target ingin memiliki tempat latihan khusus untuk tempat berlatih.
"Kami sementara ini masih berlatih di ruang publik di lapangan merdeka. Kedepannya, aku berencana untuk memiliki gedung Dojo sendiri yang lebih representatif dan sambil mengembangkan beberapa kurikulum pengayaan lainnya, terutama yang berkaitan dengan seni budaya tradisional," pungkasnya.
(cr13/tri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ryuzaki-dojo-medan.jpg)