Breaking News

Komunitas Ryuzaki Dojo Medan Wadahi Pemuda Belajar Seni Bela Diri Jepang Ala Samurai

Komunitas Ryuzaki Dojo Medan Wadahi Pemuda Belajar Seni Bela Diri Jepang Ala Samurai

Editor: Juang Naibaho
HO
Komunitas Ryuzaki Dojo Medan latihan menggunakan boken atau pedang kayu di Lapangan Merdeka Medan beberapa waktu lalu. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Bagi masyarakat yang menyukai tradisi Jepang, pasti tidak asing lagi jika negeri Sakura ini memiliki banyak ragam seni bela diri yang populer di seluruh dunia.

Karate, Kempo, dan Judo merupakan sebagian seni bela diri asal Jepang yang dimainkan hingga menjadi perlombaan resmi secara profesional.

Menjamurnya seni bela diri ini di Indonesia, membuat sekelompok pemuda membentuk suatu komunitas. Diantaranya ada Ryuzaki Dojo Medan, komunitas yang berfokus untuk mempelajari seni bela diri asal Jepang.

Pendiri Ryuzaki Dojo Medan, Ahmad Bukhari Saragih mengungkapkan bahwa komunitas yang ia dirikan pada tahun 2017 ini berawal dari keikusertaannya bergabung di salah satu akademi Samurai saat berkuliah di Yogyakarta. Ketika pulang ke Medan, ia meminta izin kepada pelatih untuk membuka cabang di Medan.

"Sekitar September tahun 2017, aku mulai melatih kedua orang teman itu sebagai murid pertama di Dojo kami. Waktu itu latihan perdana kita di lapangan basket Unimed. Lalu kemudian pindah ke Lapangan Merdeka dengan niatan awal promosi dan memang lebih proposional lokasinya yang pas di tengah kota Medan, sehingga mudah dijangkau dari manapun," ungkap Ahmad, Kamis (9/4/2020).

Dalam proses latihannya, Ahmad menjelaskan bahwa komunitas ini mengambil style dari 'Tenshin-Sho Den Katori Shinto Ryu' atau cukup disebut Katori. Ia menuturkan bahwa Katori ini merupakan teknik yang termasuk cukup tua di Jepang.

"Katori ini lahir di zaman tradisional yang mana pada masa itu, para Samurai yang berlaga di medan pertempuran masih mengenakan Yoroi atau Armor atau Zirah lengkap, dan Katori ini juga termasuk teknik yang tertua di Jepang," jelas Ahmad.

Ryuzaki Dojo Medan rutin melakukan latihan dua kali dalam seminggu yaitu Rabu dan Minggu di Lapangan Merdeka Medan.

Ahmad menuturkan bahwa dalam setiap latihannya, ada beberapa teknik yang dipelajari yaitu teknik Kenjutsu (pedang), Iaijutsu (sword drawing), Naginatajutsu (tombak golok), Soojutsu, Shurikenjutsu, dan Ninjutsu.

Ia juga menjelaskan bahwa setiap teknik yang diajarkan tergabung dalam rangkaian Waza yaitu latihan secara berpasangan kecuali teknik Iaijutsu dan Sword Swing yang pengaplikasiannya untuk individu.

"Targetnya agar kita dapat meningkatkan ketrampilan seni bela diri senjata seperti itu serta nilai positif dari kebudayaan Jepang yang bisa bermanfaat untuk kita. Jadi dari sini, kita bisa olahraga sekaligus mengasah keterampilan seni khususnya budaya Jepang, tutur Ahmad.

Samurai sendiri memiliki tujuh filosofi yang dikenal dengan istilah Go Rin Go Jyo yaitu Jin (kebaikan), Gi (keadilan), Rei (kesopanan), Chi (kebijaksanaan), Shin (kejujuran), Makoto (ketulusan), Chu-ko (berbakti).

Ahmad menjelaskan dalam sejarahnya, Samurai dikenal sebagai kesatria yang berbakti kepada orang tua dan menebar kebajikan kepada setiap orang.

"Seorang Samurai itu seorang kesatria yang tulus dan berbakti kepada tuannya dan mempunyai tradisi untuk menebar kebajikan terhadap siapapun, sopan dan tidak merendahkan siapapun bahkan kepada musuhnya sendiri, mampu menempatkan diri untuk bersikap bijaksana, jujur dan adil dalam menghadapi suatu kondisi," jelas Ahmad.

Ahmad juga menuturkan bahwa melalui komunitas Ryuzaki Dojo Medan ini, ia ingin menerapkan tujuh aspek filosofis dalam setiap anggota.

"Kita bandingkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang ini, banyak dari sifat sifat dari tujuh filosofis tadi itu banyak yg sudah mulai terkikis. Disinilah kita mencoba membangun kembali mental yg baik tersebut.
Satu lagi yang paling penting, yaitu kita belajar teknik membunuh adalah dengan tujuan untuk tidak pernah menggunakannya," kata Ahmad.

Memasuki tahun ketiga merintis Ryuzaki Dojo Medan, Ahmad menuturkan banyak kesan dalam merintis komunitas yang kini beranggotakan 25 orang. Ia menuturkan bahwa pengalaman paling berkesan saat masa awal hanya berlatih berdua sebelum memiliki 20an anggota.

"Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika aku masih berlatih berdua di Lapangan Merdeka selama sebulan, sampai ada ibu-ibu yang tertarik dan ikut mendaftar sebagai member bersama keponakannya, dan pertama kali membuka stand di event Bunkasai USU dengan segala suka-dukanya," ungkapnya.

Anggota Ryuzaki Dojo Medan, Sawung Djabo yang bergabung pada tahun 2019 ini juga awalnya tertarik untuk bergabung setelah melihat penampilan Ryuzaki Dojo Medan di acara Bunkasai USU.

"Saat itu saya melihat ryuzaki dojo ini berada di sebuah event Jejepangan yaitu Bunkasai USU 2019. Saya awalnya memang sudah tertarik dengan seni bela diri berpedang dari Jepang. Saat mengetahui komunitas ini saya langsung bergabung," ujar Sawung.

Saat ini Sawung sudah menguasai beberapa teknik dasar, diantaranya Kenjutsu.

"Saat ini saya masih menguasai teknik dasar kenjutsu (pedang) yang terdiri dari empat Waza, dan yang masih saya pelajari adalah Bojutsu (tongkat) dan Naginata Jutsu (Naginata)," ujarnya.

Senada dengan Sawung, Putri Ghuban yang bergabung sejak tahun 2018 ini turut diajak oleh Ahmad. Putri mengaku sudah tertarik dengan seni bela diri Jepang dan sudah menguasai beberapa teknik.

"Saya dari dulu sangat tertarik ikut seni bela diri, tapi dulu sering terhalang waktu. maka ketika mendapat ajakan dari bang Ahmad, tawaran ini tidak saya sia-siakan. Kalau teknik-teknik dasar sudah saya kuasai, teknik Kenjutsu juga sudah semua, dari Waza 1 hingga 4. Sekarang saya baru mulai latihan teknik Bojutsu, Tapi ya karna mewabahnya Covid 19 ini, latihan kami hentikan," kata Putri.

Dalam setiap latihan, para anggota komunitas menggunakan Boken atau pedang kayu untuk berlatih. Mengikuti standar Katori, Ryuzaki Dojo Medan menggunakan Boken dengan panjang 97 cm. Boken biasanya dapat dibeli di toko online dengan kisaran harga Rp. 150 ribu.

Komunitas Ryuzaki Dojo Medan saat ini masih menggunakan Lapangan Merdeka sebagai tempat latihan. Ke depannya, Ahmad memiliki target ingin memiliki tempat latihan khusus untuk tempat berlatih.

"Kami sementara ini masih berlatih di ruang publik di lapangan merdeka. Kedepannya, aku berencana untuk memiliki gedung Dojo sendiri yang lebih representatif dan sambil mengembangkan beberapa kurikulum pengayaan lainnya, terutama yang berkaitan dengan seni budaya tradisional," pungkasnya.

(cr13/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved