Virus Corona

Corona Telan 15.887 Jiwa di Italia, Studi Sebut Jumlah Bisa 2 Kali Lipat, Banyak yang Tewas di Rumah

Hal ini dikatakan seorang peneliti melihat kondisi di Italia. Warga-warga kebanyakan mati saat berada di dalam rumah.

ANDREAS SOLARO / AFP
Warga Italia bernyanyi, melambaikan tangan, dan bertepuk tangan di sebelah spanduk bertuliskan "Forza ragazzi #andratuttobene, restiamo a casa" (Ayo, teman-teman #semuaakanbaikbaiksaja, tinggal di rumah saja), saat flash mob "Una canzone per l'Italia" ( Lagu untuk Italia) di distrik Magliana di Roma pada 15 Maret 2020. 

Menurutnya, banyak kematian dapat dihindari jika orang-orang di rumah segera menerima bantuan medis.

Akan tetapi, para dokter tidak memiliki cukup masker dan pakaian untuk melindungi diri mereka dari infeksi serta tidak dianjurkan melakukan kunjungan.

Kecuali, jika benar-benar diperlukan baru dokter dan petugas medis bisa mengunjungi pasien di rumah.

Ketika pekerja rumah sakit diberi akses prioritas ke masker, beberapa dokter keluarga mengatakan mereka pergi tanpa masker dan merasa tidak dapat mengunjungi pasien dengan aman.

Artis Cantik Ini Blak-blakan Ungkap Alami Pelecehan Seksual, Payudaranya Kena Begal saat Lari Pagi

Empat Artis ini Terpaksa Tutup Sementara Bisnisnya Akibat Wabah Virus Corona

Ilustrasi petugas medis, garda terdepan penanganan pandemi corona di Italia.
Ilustrasi petugas medis, garda terdepan penanganan pandemi corona di Italia. (AFP/Paolo Miranda)

Ketika orang yang diduga terinfeksi virus corona tak ada penanganan di rumah

Silvia Bertuletti (48) memerlukan waktu 11 hari untuk membujuk seorang dokter melalui telepon agar mengunjungi ayahnya yang mengalami demam dan kesulitan bernapas.

Ketika seorang dokter panggilan pergi ke rumahnya di dekat Bergamo, pusat penyebaran virus corona di bagian utara Italia pada Rabu (18/3/2020) malam, keadaaan sudah terlambat.

Ayahnya yang berusia 78 tahun dinyatakan meninggal pada pukul 1.10 pagi, Kamis (19/3/2020) dini hari atau sepuluh menit sebelum ambulans tiba.

Satu-satunya obat yang ia resepkan, melalui telepon, adalah obat penghilang rasa sakit ringan dan antibiotik spektrum luas.

"Ayah saya dibiarkan mati sendirian di rumah tanpa bantuan. Kami ditinggalkan begitu saja. Tidak ada yang layak mendapatkan perlakuan seperti itu," kata Bertuletti, warga Italia seperti dilansir Reuters dari Kompas.com.

Wawancara dengan keluarga, dokter, dan perawat di wilayah Lombardy menunjukkan bahwa banyak orang mengalami nasib sama seperti Bertuletti.

Seorang PNS/ASN Polda Sumut Positif Corona, Bertugas di Pelayanan Markas, Berikut Riwayat Penyakit

Artis Cantik Ini Blak-blakan Ungkap Alami Pelecehan Seksual, Payudaranya Kena Begal saat Lari Pagi

Perawat di sebuah rumah sakit di kota Milan Italia tampak kelelahan dalam pergantian shift kerja dengan rekannya.
Perawat di sebuah rumah sakit di kota Milan Italia tampak kelelahan dalam pergantian shift kerja dengan rekannya. (AFP/ Miranda)

Jumlah kematian resmi Italia sejauh ini mencapai 15.887 kasus atau hampir sepertiga dari total global.

Tetapi ada bukti yang berkembang bahwa jumlah itu jauh dari total sebenarnya karena begitu banyak orang sekarat di rumah.

Sebuah studi oleh surat kabar lokal L'Eco di Bergamo dan konsultan penelitian InTwig dengan menggunakan data yang disediakan oleh kota setempat, memperkirakan sekitar 5.400 orang meninggal di provinsi Bergamo selama bulan Maret, enam kali lebih banyak dari setahun yang lalu.

Sumber: TribunStyle.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved