Petani Sayur di Tanahkaro Cuma Bisa Gigit Jari Sejak Virus Corona Merebak

Penyebaran virus Corona di Indonesia turut membawa dampak buruk bagi para petani di Tanahkaro

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Array A Argus
Tribun-Medan.com/Muhammad Nasrul
Aktivitas petani yang menjual hasil kebunnya ke pengepul sayur mayur di Pasar Roga, Jalan Jamin Ginting, Desa Rumah Berastagi, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Rabu (1/4/2020). 

Kalau permintaan sayur minim, yang berkurang juga aktivitas pengiriman," ungkap Surya.

Tidak hanya mengeluhkan soal minimnya permintaan sayur, pria asal Kabanjahe ini juga sempat mengeluh karena ada pembatasan operasional 12 ruas jalan di Kota Medan.

Pembatasan jalan ini, sambungnya, turut berdampak pada bisnis pengiriman.

BERITA FOTO Jalan Ditutup Antisipasi Penyebaran Corona, Digunakan Warga Dengan Bermain Bola di Medan

"Kalau jalan ditutup, ya kita mutar-mutar ngirimnya.

Otomatis minyak juga bertambah," ungkap Candra.

Untuk menyiasati buka tutup 12 jalur itu, Candra bersama pengusaha angkutan lain turut menyesuaikan jadwal pengiriman sayur.

Dengan begitu, ongkos yang dikeluarkan saat pengiriman barang bisa disesuaikan dengan biaya sewa dari pemilik barang.

10 Hari Diisolasi, Artis Andrea Dian Umumkan Hasil Rapid Test Corona Negatif: Aku Bisa Pulang!

"Sekarang ini kami main agak malam lah turun ke Medan.

Kalaupun ada penutupan, ya kami cari tempat berhenti," ungkap Candra.

Dengan kondisi seperti ini, tidak tertutup kemungkinan pengiriman sayur juga terhambat.

Ambil Dari Petani
Ketua Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Karo, Martin Sitepu mengkhawatirkan ada warga yang bisa terpapar virus jika terlalu lama berkumpul di keramaian.

Apalagi, aktivitas jual beli di Pasar Roga masih padat.

Ia pun mengajak dan mengimbau semua pengepul untuk "jemput bola" dari petani.

BERITA FOTO Berjibaku Melawan Virus Corona, Edy Rahmayadi Berdoa Bersama Para Perawat di Medan

"Ya, harapan kita kalau bisa seperti dulu lagi. Misalnya ada agen besar dari Medan ini mengambil sayur, maka dia harus datangi petani.

Dengan begitu, potensi kumpul- kumpul dapat diminimaisir," kata Martin.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved