Ngopi Sore
Saya Nonton TVRI Lagi
Helmy Yahya bukan cuma mengubah wajah TVRI di layar televisi. Ia juga mengubah cara pandang para karyawan TVRI terhadap diri mereka sendiri.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Minggu, 19 Januari 2020, saya duduk di depan televisi menonton pertandingan siaran langsung bulu tangkis Indonesia Master 2020. Saya menonton mulai pertengahan set kedua pertandingan nomor tunggal puteri, Rachanok Intanon melawan Carolina Marin. Waktu menunjukkan pukul 14.15. Ini partai kedua dari keseluruhan lima partai, dan saya kemudian duduk menonton sampai partai penghabisan. Sekitar pukul 19.00.
Setelah itu, tayangan bergeser ke pertandingan lainnya. Indonesia Basketball League (IBL), Prawira Bandung versus Indonesia Patriots.
Kurang lebih empat jam kemudian, di selingi dua acara lain yang saya tonton secara sekadar (sambil lalu mengerjakan aktivitas lain), acara berlanjut ke siaran sepak bola. Siaran langsung juga. Bentrok paling akbar di kancah sepak bola Inggris, Liverpool kontra Manchester United. Laga berkesudahan saat angka-angka jarum jam mendekati pukul dua dinihari.
Semua acara ini mengalir lewat TVRI. Dari Intanon melawan Marin sampai Liverpool kontra United, total televisi di rumah saya tidak berganti saluran selama hampir 12 jam.
Ini jelas satu rekor yang sadis. Sebab sepanjang bisa saya ingat, sebelumnya, tidak pernah ada saluran yang mampu bertahan mengalir tanpa putus, tanpa dijeda, tanpa digeser ke saluran lain, selama itu.
Saat menyadarinya, hampir berselang 2 x 24 jam kemudian pascatanpa sengaja membaca perkembangan kisruh manajerial TVRI, saya merasa takjub sendiri. Bukan hanya karena durasi saluran TVRI yang mampu bertahan tanpa dijeda dan digeser, melainkan juga lantaran pada akhirnya saya menonton TVRI lagi. Benar-benar menonton.
Selama ini, barangkali tak kurang 25 tahun, saya cuma punya satu acara favorit di TVRI. Itu pun tidak sepanjang tahun. Hanya satu bulan; bulan mana pun seturut kehadiran Ramadan. Yakni kumandang azan Maghrib. Usai azan, saluran kembali digeser.
Apa boleh buat. Saat itu, tidak ada satu alasan pun yang bisa membuat saya bertahan tidak menggeser saluran. Memang tidak ada acara yang menarik. Tidak ada yang menghibur. Rata-rata acara yang ditawarkan justru lebih banyak mengingatkan saya pada era orde baru: kaku dan membosankan.
Entahlah, tidak perlu menonton. Mendengar namanya saja, bayangan kekakuan dan kebosanan itu langsung melesat-lesat tanpa saya cegah. Bayangan Toeti Adhitama, Anita Rahman, Rini Sutomo, Sambas, Hasan Ashari Oramahi, Sazli Rais, Yasir Denhas, Yan Partawijaya dan Max Sopacua datang berganti-ganti. Lalu acara 'Dunia Dalam Berita', 'Dari Desa ke Desa', dan pertemuan Kelompencapir di mana Presiden Soeharto bisa bicara tak putus dua jam lamanya. Belakangan sekali saya baru tahu bahwa Kelompencapir ini ternyata merupakan akronim 'Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa'.
Tentu saja ada yang menghadirkan romantisme membubung rindu. Sebutlah 'Selekta Pop', 'Aneka Ria Safari', 'Ria Jenaka', 'Ayo Menggambar', dan juga film-film serial lepasnya. Untuk menyebut beberapa saja ada 'Little House on The Prairie', 'Hawai Five O', 'ChiPs', 'The A Team' dan 'Remington Steele'.
Dari 'Remingston Steele' inilah saya mengenal Pierce Brosnan, aktor Irlandia yang bertahun- tahun kemudian menjadi pemeran James Bond. Serial dalam negeri tak kalah memukau. Belum lekang di ingatan 'Losmen' dan 'Rumah Masa Depan'.
Namun semenjak kehadiran stasiun-stasiun televisi swasta, lalu kemudian saluran televisi berbayar dan televisi internet, TVRI tak lagi jadi pilihan. Dibandingkan stasiun-stasiun yang muncul belakangan, terutama apabila disandingkan bersebelah-sebelahan, TVRI akan segera tampak kuno. Ketinggalan zaman. Ibarat orang tua dan pemuda milenial. Di lain sisi, TVRI terasa benar sekadar sebagai corong pemerintah.
Sampai kemudian, nyaris secara mendadak, perubahan besar terjadi. Bukan cuma logo yang desainnya tampak keren dan jauh lebih dinamis (meski sedikit banyak mengingatkan pada logo DW, stasiun televisi Jerman), ragam acaranya juga. Terutama siaran-siaran olahraganya. Saya sempat melihat beberapa kali tayangan dokumenter wild life.
Ada juga Jelajah Kopi, Pesona Indonesia. Acara yang menggambarkan kehebatan, keindahan kuliner, natural beauty dari seluruh penjuru Tanah Air. TVRI juga membuat sitkom dengan bintang-bintang yang selama ini hanya wara-wiri di stasiun televisi swasta.
Atas perubahan-perubahan ini, peringkat TVRI menanjak. Survei Nielsen pada pekan 33 tahun 2019 menunjukkan TVRI berada di peringkat 12, naik tiga peringkat dari posisi sebelumnya. Jika menilik pada data-data lembaga yang sama di tahun-tahun sebelumnya, kita akan mendapati fakta bahwa TVRI adalah "juara bertahan" di posisi buncit itu. Tidak tergoyahkan sejak Nielsen mulai menyusun daftar peringkat audience share untuk saluran televisi Indonesia.
Artinya apa? Orang-orang mulai menonton TVRI lagi. Bukan sekadar menonton Azan Maghrib. Menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Orang-orang menonton TVRI karena acara- acaranya yang memang mulai bisa ditonton lagi. Kali, bahkan lebih hebat. Lantaran tanpa dibarengi rasa terpaksa. Dulu di masa jaya, TVRI adalah pemain tunggal. Sekarang tidak.
Begitulah, di saat TVRI sedang merangsek, nyaris secara mendadak pula terbetik kabar mengejutkan. Dewan Pengawas TVRI memecat Helmy Yahya dari jabatannya sebagai Direktur Utama. Padahal, semua perubahan yang boleh dibilang menakjubkan ini terjadi setelah Helmy masuk TVRI di tahun 2017.
Alasan Dewan Pengawas, sebagai direktur utama, Helmy dinilai telah melakukan sejumlah pelanggaran prosedural dan administratif. Di antaranya terkait pembelian hak siar Liga Inggris dari Mola TV, stasiun televisi berbayar milik PT Djarum. Konon, menurut para anggota Dewan Pengawas, harga hak siar ini sungguh sangat mahal --untuk ukuran TVRI.
Helmy melawan. Dia menggugat balik Dewan Pengawas. Mengemukakan pembelaan tertulis. Rekan-rekan Helmy di jajaran direksi ikut membelanya. Sebagian besar karyawan juga. Secara bersama-sama, mereka melakukan aksi menyegel ruang kerja Dewan Pengawas. Kemarin, mereka menggelar aksi unjuk rasa terbuka.
Saya tidak membaca pembelaan tertulis Helmy. Namun saya sempat membaca wawancaranya dengan sebuah portal online pada tahun 2018, dan dari pembacaan ini saya jadi paham mengapa ia mendapat pembelaan begitu rupa.
Helmy Yahya bukan cuma mengubah wajah TVRI di layar televisi. Ia juga mengubah cara pandang para karyawan TVRI terhadap diri mereka sendiri. Perubahan-perubahan yang dilakukannya membuat mereka merasa bangga. Paling tidak dari sisi penampilan, mereka sekarang tidak lagi "minder" apabila berdiri bersisi-sisian dengan orang-orang dari televisi-televisi swasta. Termasuk yang "berjiwa muda" dan penuh gaya macam NET TV atau Kompas TV. Sekarang TVRI juga kelihatan jauh lebih segar.
Di era Helmi pula, para karyawan TVRI tidak lagi bekerja dengan semangat pegawai pemerintah yang berfilosofi asal siap sesuai anggaran. Di era Helmi, karyawan TVRI bekerja layaknya karyawan televisi swasta yang saban detik dituntut berinovasi; bagaimana menyiasati anggaran untuk hasil maksimal. Tiap-tiap langkah yang diambil selalu mengacu pada audience dan market share. Apakah produk yang ditayangkan berpotensi menjadi tontonan laku atau tidak.
Saya menonton TVRI lagi setelah tak kurang 25 tahun cuma menonton Azan Maghrib --itu pun cuma di bulan Ramadan. Saya menonton TVRI lagi karena memang ada tontonan yang saya rasa benar-benar menarik. TVRI di era Helmy Yahya telah melakukan perubahan dan lompatan-lompatan besar. Bukan cuma layanan saluran konvensional. TVRI juga bermain di ranah digital yang kualitasnya juga boleh dikata sama sekali tak memalukan.
Saya merasakan itu. Semestinya, para petinggi negeri ini juga merasakannya. Para anggota DPR. Menteri-menteri. Juga Pak Jokowi.
Mestinya mereka merasakan. Kecuali sampai hari ini ternyata memang mereka tidak tahu. Mereka menonton tv kabel. Mereka menonton tv internet atau tv provider macam Netflix, Amazon Prime, Hulu, atau Xfinity, tapi tidak menonton TVRI.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tentang-tvri3.jpg)