China Pamer Arogansi di ZEE Natuna, Indonesia Pamer Mesra dengan Jepang, Ini Penjelasan Pengamat

China Pamer Arogansi di ZEE Natuna, Indonesia Pamer Mesra dengan Jepang, Ini Penjelasan Pengamat

Editor: Tariden Turnip
facebook/presiden joko widodo
China Pamer Arogansi di ZEE Natuna, Indonesia Pamer Mesra dengan Jepang, Ini Penjelasan Pengamat. Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan TNI di Selat Lampa, Natuna, 8 Januari 2020 

Tak hanya dengan Menlu Jepang Motegi Toshimitshu, di hari yang sama Presiden Jokowi juga menerima kunjungan delegasi SoftBank yang dipimpin oleh CEO SoftBank Masayoshi Son. SoftBank merupakan perusahaan telekomunikasi dan media asal Jepang. Pertemuan keduanya membahas rencana SoftBank berinvestasi dalam pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur.

Dalam pertemuan tersebut, Jokowi menyampaikan potensi investasi dan sejumlah proyek pembangunan di ibu kota baru. "Luas wilayah Jakarta sekitar 66.000 hektare sedangkan jika kita bandingkan dengan ibu kota baru luasnya (disiapkan) mencapai 256.000 hektare," papar Jokowi.

Son sendiri mengaku tertarik untuk berinvestasi dan bekerja sama dalam pembangunan di ibu kota baru, khusunya dengan konsep kota pintar dan kota hijau yang diusung pemerintah dalam pembangunan tersebut. "Ibu kota baru memiliki peluang-peluang investasi yang saya kira bisa kita diskusikan ide potensialnya," tutur Son.

CEO Softbank Masayoshi Son (kedua dari kiri) bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Merdeka, Jumat (10/01/2020).
CEO Softbank Masayoshi Son (kedua dari kiri) bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Merdeka, Jumat (10/01/2020). (Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr)

CEO Softbank Masayoshi Son (kedua dari kiri) bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Merdeka, Jumat (10/01).

Son juga mengaku sejak Juli tahun lalu telah melakukan pembicaraan terkait ekosistem mobil listrik yang akan mereka investasikan dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Kemesraan Indonesia Jepang terjadi saat China pamer arogansi di Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna.

Bahkan China mengerahkan kapal coast guard nya mengawal kapal kapal ikan China mencuri ikan di sana.

Menjadi penyeimbang

Kepada DW Indonesia, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, mengatakan saat ini investasi dari negara luar dibutuhkan Indonesia untuk meningkatkan kondisi perekonomian di tengah pelemahan ekonomi global. Bhima pun berpendapat Jepang bisa menjadi penyeimbang di antara negara-negara tradisional yang berinvestasi di Indonesia.

"Sekarang kalau melihat data investasinya Cina meroket cukup cepat, sekarang di peringkat nomor tiga investasi paling tinggi di Indonesia. Padahal 10 tahun yang lalu belum seperti itu. Kalau semakin banyak investasi dari non Cina dirasa jadi penyeimbang agar Indonesia tidak didikte oleh Cina," ujar Bhima saat diwawancarai DW Indonesia, Jumat sore (10/01).

Selain itu, Jepang dinilai memiliki historis yang panjang dengan Indonesia. Negeri matahari terbit itu diketahui telah mulai berinvestasi "di era orde baru khususnya untuk pembangunan infrastruktur dan otomotif," jauh sebelum negara-negara lain berinvestasi.

Lebih lanjut Bhima menilai kualitas investasi Jepang lebih baik ketimbang Cina.

"Mulai dari kualitas fisik atau infrastruktur, kualitas transfer skill dan knowledge, dimana kalau investasi Cina masih ada unskilled labor, tenaga-tenaga kerja yang skillnya rendah dipaksa masuk. Kalau Jepang lebih menghargai SDM lokal," terang Bhima.

Jaminan bagi investor?

Demi menarik investor-investor asing menanamkan modalnya di Indonesia, Bhima pun menilai perbaikan regulasi, reformasi perizinan, serta peningkatanan indeks daya saing perlu dilakukan pemerintah Indonesia. Ini senada dengan janji Jokowi yang terus menekankan akan dipermudahnya proses perizinan dan memangkas hal-hal yang mempersulit investasi.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved