Viral Penganut Saksi Yehuwa Dikeluarkan dari Sekolah, Pendeta-pendeta Kristen Angkat Suara

Menurut Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Batam, saat ini keduanya disekolahkan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Tribun Medan/Riski Cahyadi
Upacara Bendera 

Namun, orang tua murid tetap bersikeras tidak mau mengikuti aturan dan memegang keyakinan mereka untuk melarang anak-anak hormat bendera.

Mengapa mereka menolak hormat kepada bendera?

Herlina, orang tua murid tersebut, mengatakan saat bersekolah di SD swasta, keyakinan anaknya ini tak pernah dipersoalkan. Kemudian, anaknya melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 21 Batam hingga menginjak kelas 8.

"Sejak awal tidak ada masalah, kami dapat rekomendasi dari kepercayaan saya," kata Herlina, seperti dikutip dari tempo.co.

Namun belakangan, ia tiba-tiba dipanggil pihak sekolah karena anaknya selalu enggan memberi hormat kepada bendera Merah Putih tiap kali upacara bendera.

Perempuan in mengungkapkan, menurut kepercayaannya memang tidak boleh hormat kepada bendera, yang dia anggap sebagai "penyembahan".

Namun, untuk menghormati bendera kebangsaan, anaknya mengambil sikap tegap tiap kali lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.

"Jadi kalau hormat bendera, anak saya tegap," tutur Herlina.

Pendeta Gereja Komunitas Anugerah (GKA) Salemba, Suarbudaya Rahardian mengungkapkan keengganan umat Saksi Yehuwa mengambil sikap mengangkat tangan dalam menghormat kepada bendera karena itu dianggap sebagai simbol penyembahan.

Suarbudaya berkata, Alkitab Perjanjian Lama dan Baru menyebut mengangkat tangan dan bersujud itu hanya diberikan kepada Tuhan dan tidak boleh diberikan kepada mahkluk ciptaan.

"Hanya kepada Khalik saja itu boleh diberikan. Itu kan bagian dari ekspresi teologis menurut saya. Sama halnya seperti umat Muslim yang tidak menggambar figur-figur penting dalam agama. Itu bagian cara mereka dalam menghayati."

"Sayangnya, ekspresi teologis mereka bersinggungan dengan ekspresi nasionalisme yang sempit," ujar Suar.

Selama ini, kata dia, masyarakat Indonesia dicekoki dengan upacara bendera yang dilakukan setiap pekan, yang kemudian menjadi "cara menghormati Indonesia, bangsa dan negara".

"Tidak bisa ada ekspresi tunggal tentang nasionalisme yang dipaksakan. Kita gandrung terhadap negara dengan cara yang sempit, bagaimana kita dipaksa tunduk dengan apa yang disebut nasionalisme itu," kata dia.

Dengan nasionalisme sempit yang kini sedang berkembang, dia khawatir insiden yang terjadi terhadap dua siswa di Batam, bisa menimpa siapa saja. Dan menurutnya, hal ini "berbahaya jika dibiarkan".

"Hari ini Saksi Yehuwa, besok mungkin orang yang karena lupa tidak ikut upacara, atau lupa mengibarkan bendera, mereka dengan mudah dikriminalisasi sebagai orang yang tidak mendukung NKRI," ungkapnya.

Apa solusi ideal untuk kasus serupa?

Suarbudaya mengungkapkan negara harus hati-hati menyikapi benturan ekspresi teologis dan ekspresi nasionalisme semacam ini. Apalagi, Saksi Yehuwa bukanlah aliran agama yang liar, melainkan diakui secara resmi di Indonesia.

"Ini yang harus jadi semacam acuan, kalau mereka menghayati agama dengan tidak menghormati bendera pasti ini sudah diketahui dua puluh tahun sebelum mereka dicatatkan di Kementerian Agama," ujarnya.

"Jadi ini perkara komunikasi dan familiarisasi bagaimana kita mengenal sesuatu yang berbeda dengan tidak reaktif," lanjut Suar.

Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti mengakui, lazimnya memang sikap hormat dilakukan dengan mengangkat tangan. Semestinya, setiap warganegara pun melakukannya sesuai aturan yang berlaku, seperti tertuang dalam Permendikbud nomor 22 tahun 2018 tentang tata cara dalam upacara bendera.

Namun, Sekjen PGI Pendeta Gomar Gultom pun menegaskan, meski berbeda, hak-hak penganut Saksi Yehuwa harus diakui, termasuk hak untuk mendapatkan pendidikan.

Dia mengungkapkan perlunya tafsir yang fleksibel terhadap sikap hormat kepada simbol negara supaya tidak bertentangan dengan apa yang mereka yakini.

"Hormat kepada bendera kan ada rupa-rupa cara. Bisa dengan menundukkan kepala, bisa dengan angkat tangan. Kan itu rupa-rupa cara. Itu yang harus diatur sekolah. Sikap penghormatan kepada bendera kan bisa macam-macam," ujar Gomar.(*)

Artikel ini sudah tayang di BBC Indonesia dengan judul Saksi Yehuwa yang penganutnya dikeluarkan dari sekolah di Batam karena tolak hormat bendera: Ketika 'ekspresi teologis bersinggungan dengan nasionalisme sempit'

Sumber: bbc
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved