Anwar Congo Penjagal PKI dari Medan Meninggal Dunia

Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah beserta artis Sultan Djorghi tampak hadir di masjid tempat di salatkan-nya almarhum.

"Yapto sempat kirim ajudan untuk kusuk Anwar. Setelah dikusuk tidak ada efek," sebutnya.

Sebelum sakit saraf kejepit, tahun 2014 Anwar pernah alami usus bocor dan sakit luar biasa.

"Saat itu dibawa ke RS Mitra Sejati dan ditangani dokter yang dulu pernah menjadi anggota Pemuda Pancasila dan melakukan operasi kepada Anwar," jelas Salma. 

Film "The Act of Killing" atau "Jagal" yang bercerita tentang eksekusi anggota Partai Komunis Indonesia tahun 1965 masuk nominasi film dokumenter terbaik Oscar 2014.

Pembuat film ini berhasil membujuk para "jagal" termasuk Anwar Kongo untuk menceritakan pembantaian kader PKI.

Film garapan sutradara Joshua Oppenheimer itu bersaing dengan "Cutie and the Boxer" garapan Zachary Heinzerling dan Lydia Dean Pilcher, "Dirty Wars" karya Richard Rowley dan Jeremy Scahill, "The Square" karya Jehane Noujaim dan Karim Amer dan "20 Feet from Stardom".

Joshua Oppenheimer
Joshua Oppenheimer (sensesofcinema.com)

Bagi sutradara Joshua Oppenheimer, terpilihnya film itu sebagai salah satu nominasi Oscar lebih dari sekadar penghargaan kepada sineas.

Ia berharap film itu juga bisa membuat masyarakat semakin kritis menuntut keadilan dari para pemimpin yang melakukan kejahatan, baik itu genosida atau korupsi.

"Hanya beberapa bulan dari sekarang, rakyat Indonesia akan berangkat ke Tempat Pemungutan Suara untuk memilih presiden baru. Dengan salah satu calon kuat yang bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan, dan masih diteruskannya glorifikasi sejarah genosida untuk membangun iklim ketakutan, ada risiko nyata bahwa negeri ini akan mundur kembali ke kediktatoran militer," kata dia dalam siaran pers.

Pembuat film berharap nominasi ini akan menjadikan film "Jagal" dan persoalan impunitas diangkat di halaman depan surat kabar Indonesia.

Poster film the Act of Killing yang bercerita tentang pembunuhan massal di Indonesia tahun 1960-an.
Poster film the Act of Killing yang bercerita tentang pembunuhan massal di Indonesia tahun 1960-an. (ACT OF KILLING)

"Dan orang-orang Indonesia segera membicarakan bagaimana impunitas yang berkaitan dengan pembunuhan massal telah menyebabkan kekosongan moral yang dipenuhi ketakutan, korupsi, dan premanisme."

Joshua menggarap film "The Act of Killing" bersama sutradara anonim yang menginginkan film itu bisa selalu menjadi pengingat bagi masyarakat untuk melawan lupa bahwa kebenaran belum diungkapkan dan keadilan belum ditegakkan.

Pinisepuh Pemuda Pancasila (PP), Yan Paruhum Lubis atau populer dipanggil Ucok Majestik
Pinisepuh Pemuda Pancasila (PP), Yan Paruhum Lubis atau populer dipanggil Ucok Majestik (Tribun Medan / Liston)

Apa pendapat pelaku sejarah lainnya mengenai film yang mendapat sambutan luas masyarakat internasional ini?

Pada tahun 2014, tak lama setelah film Jagal mendapat nominasi Oscar, Tribun Medan menjumpai Pinisepuh Pemuda Pancasila (PP), Yan Paruhum Lubis atau populer dipanggil Ucok Majestik.

Lubis, 80 tahun, adalah satu-satunya pendiri Pemuda Pancasila di Sumut yang masih hidup.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved