Likuifaksi yang Tenggelamkan Rumah Warga Palu Berpotensi Terjadi di Sumut, Ini Daerah Paling Rentan!

Di Sumut, likuefaksi pernah terjadi di Tarutung saat gempa 27 April 1987.

EPA
Kelurahan Petobo di Palu merupakan salah satu daerah yang mengalami likuefaksi. 

TRIBUN-MEDAN.com-Seluruh wilayah pantai timur dan pantai barat di Sumatera Utara berpotensi likuifaksi dengan dengan tingkat kerentanan likuefaksi sedang lebih banyak berada di pantai barat.

Inilah gambaran dari Atlas Zona Likuifaksi yang dirilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2019.

Pencairan tanah atau likuefaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak, sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat.

Likuefaksi terjadi  saat gempa Palu 28 September 2018, membuat tanah bergeser dan berpindah hingga menyebabkan seluruh permukiman hancur.

Di Sumut, likuifaksi pernah terjadi di Tarutung saat gempa 27 April 1987.

Atlas Zona Likuifaksi berisi lokasi yang berpotensi terjadi likuifaksi dari Aceh sampai Papua.

Pada peta edisi perdana itu Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam sambutan tertulisnya menyatakan atlas ini berusaha memberikan informasi yang mudah dipahami tentang kondisi kerentanan likuefaksi di Indonesia.

"Latar belakang pembuatan atlas ini adalah karena kejadian yang menyebabkan banyak korban jiwa di Palu dengan tipe likuefaksi aliran nan langka terjadi di Indonesia," kata anggota tim penulis atlas, Taufiq Wira Buana, di Bandung, Sabtu (12/10/19).

Pada atlas, warna magenta yang menandakan zona kerentanan tinggi, likuefaksi dapat terjadi secara merata. Struktur tanah umumnya menjadi rusak parah hingga hancur. Tipe kerusakan struktur tanah yang terjadi berupa likuefaksi aliran, pergeseran lateral, penurunan tanah, atau berupa semburan pasir.

Di zona kuning yang kerentanannya sedang, likuefaksi bisa terjadi secara tidak merata dan struktur tanah umumnya rusak. Tipe kerusakan tanah yang terjadi berupa pergeseran lateral, penurunan tanah, dan semburan pasir.

Di zona hijau adalah kerentanan rendah, likuefaksi tergolong jarang terjadi. Umumnya likuefaksi yang terjadi berupa titik-titik semburan pasir dan sedikit menimbulkan kerusakan pada struktur tanah.

Pada atlas ini, daerah di Sumatera Utara yang ditandai sebagai zona hijau atau daerah kerentanan rendah adalah bagian Pantai Timur di Kabuten Langkat, Medan, Deliserdang, Serdangbedagai, Batubara, dan Asahan, Labuhanbatu Utara, dan Labuhanbatu.

Di daerah sekitar Danau Toba juga terdapat zona hijau, yaitu daerah Doloksanggul.

Adapun zona kuning mencakup wilayah Stabat, Medan, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu, Tobasamosir (Balige), Tapanuli Tengah (Barus dan Pandan), Sibolga, Tapanuli Selatan, Padanglawas, Madina (Natal), Nias, Nias Barat, dan Nias Utara.

Di Sumatera Utara terdapat juga zona magenta atau kerentanan tinggi seperti di Palu yaitu Karo (Kutabuluh, Merdinding), dan Padanglawas (Sibuhuan).

Daerah di Sumut yang rentang likuefaksi.
Daerah di Sumut yang rentang likuefaksi. (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral)

Skala peta likuefaksi ini masih belum detail yaitu 1:100.000, namun  sudah memadai karena selain memberi indikasi awal kejadian likuefaksi, atlas tersebut bisa dipakai sebagai informasi awal untuk perencanaan regional seperti pemilihan lokasi untuk pengembangan kawasan.

Anda bisa mengunduh atlas Zona Likuefaksi disini. (*)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved