Pembelian Alutsista TNI dari Luar Negeri Melorot Tajam, Ini Pemicunya hingga Pengamat Sebut Positif
"Turun peringkat bukan berarti kita tidak punya uang ... tapi kita juga bisa membangun, merancang, memproduksi dan menguasai teknologi."
Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sebagai Inspektur Upacara meresmikan Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia (Koopssus TNI) di lapangan Satpamwal Denma Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur pada Selasa (30/7/2019).
Baca: Pasukan Elite TNI Koopssus yang Baru Diresmikan Dibekali Kemampuan Intelijen dan Penindakan Cepat
Baca: Satuan Elite Koopssus TNI Diresmikan, Sosok Brigjen TNI Rochadi Dilantik sebagai Komandannya
Sedangkan peresmian 3 (tiga) Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) TNI dan sekaligus pelantikan tiga Panglima Kogabwilhan (Pangkogabwilhan), dilakukan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (27/9/2019).
Baca: INILAH 3 Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) TNI yang Dipimpin Jenderal Bintang Dua
Bukan berarti Indonesia tak punya uang
Sementara pengamat pertahanan dari Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran Bandung, Muradi menilai merosotnya peringkat Indonesia dalam hal belanja perlengkapan militer disebabkan strategi nasional di bidang alutsista.
Sama seperti pengamat lainnya, Muradi mengatakan Indonesia tidak lagi hanya impor saja dalam pengadaan alutsista.
"Turun peringkat bukan berarti kita tidak punya uang ... tapi kita juga bisa membangun, merancang, memproduksi dan menguasai teknologi," ujarnya kepada ABC Indonesia.
Tak hanya itu, meski dengan anggaran terbatas, TNI tetap memperkuat alutsista dengan salah satu caranya lewat mengakuisisi.
"Jadi Indonesia punya target pengadaan 1000 tank, solusinya kita joint kerjasama dengan Turki membuat Tank Harimau."
Contoh lainnya, Indonesia baru saja negosiasi pembelian pesawat tempur KF-X dari Korea dan sepakat melakukan 'co-production' dengan negara tersebut.
Negara Pengekspor Senjata Militer Terbanyak
Sumber: Stockholm International Peace Research Institute
Tak ingin tergantung negara lain
Muhammad Haripin mengatakan pengadaan alutsista mengacu pada 'Minimum Essential Force', sebuah strategi untuk mencapai kekuatan pokok minimum sebagai pertahanan yang ideal dan disegani di tingkat regional dan internasional.
"Kalau lihat dokumen MEF, kita butuh banyak anggaran untuk patroli maritim, Angkatan Laut juga butuh kapal patrol ... dan daftar belanja kita banyak sebenarnya, anggaran terus naik."
Dengan perdagangan alutsista yang semakin dinamis, Indonesia pun sekarang banyak memiliki pilihan, seperti membelinya dari Swedia, Perancis, bahkan China.
Kerjasama militer dengan banyak negara juga sejalan dengan status Indonesia sebagai negara bebas aktif, seperti yang diutarakan Muradi.
"Agar kalau terjadi apa-apa kita tidak tergantung dengan negara atau blok tertentu" katanya.
Yang terpenting, menurut Connie, adalah mewujudkan kekuatan TNI sebagai poros maritim, dirgantara dan permukaan di dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tank-harimau-produksi-pt-pindad.jpg)