Pembelian Alutsista TNI dari Luar Negeri Melorot Tajam, Ini Pemicunya hingga Pengamat Sebut Positif

"Turun peringkat bukan berarti kita tidak punya uang ... tapi kita juga bisa membangun, merancang, memproduksi dan menguasai teknologi."

Editor: Tariden Turnip
kompas.com
Pembelian Alutsista TNI dari Luar Negeri Melorot Tajam, Ini Pemicunya hingga Pengamat Sebut Positif . Tank Harimau hasil pengembangan bersama antara PT. Pindad dan FNSS Turki melakukan uji daya gerak di Pantai Bocor, Desa Setrojenar, Buluspesantren, Kebumen, Jateng, Sabtu (11/8). 

#Pembelian Alutsista TNI dari Luar Negeri Melorot Tajam, Ini Pemicunya hingga Pengamat Sebut Positif 

TRIBUN-MEDAN.COM - Arab Saudi, Australia, dan China menjadi pembeli senjata dan perlengkapan militer terbesar di dunia pada tahun 2018, menurut lembaga Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).

Peringkat Australia melonjak dari peringkat keempat di tahun 2017, menjadi pembeli senjata impor terbesar kedua di dunia, setelah Arab Saudi.

Sementara peringkat Indonesia yang pernah menduduki peringkat kelima, telah turun ke peringkat 22, yang artinya pembelian impor alat utama sistem senjata, atau alutsista, telah turun signifikan.

Sejumlah pengamat militer dan pertahanan di Indonesia mengatakan merosotnya peringkat Indonesia disebabkan karena membandingkan tren belanja militer yang secara global sedang mengalami peningkatan.

Negara Pengimpor Senjata Militer Terbanyak

Rangking 2017 Negara
1 Arab Saudi
4 Australia
6 China
2 India
3 Mesir
5 Indonesia
Sumber: Stockholm International Peace Research Institute

"Secara domestik belanja militer Indonesia justru mengalami kenaikan.

Tapi kalau dibaca secara tren di kawasan dan global pembelanjaan alutsista kita mungkin kurang cepat atau kurang besar," ujar Muhammad Haripin, pengamatan pertahanan dari LIPI.

Menurut data yang ia miliki malah sebaliknya, telah terjadi peningkatan signifikan dari impor alat utama sistem senjata pada periode 2017-2018, karena Indonesia mengakuisisi tank tempur Leopard MBT sebanyak 150 unit dari Jerman.

Tank Leopard milik TNI
Tank Leopard milik TNI (tribunnews)

Pengamat pertahanan dan militer lainnya, Connie Rahakundini Bakrie mengatakan penurunan impor alutista bisa dikatakan sebagai sebuah "prestasi".

Kemana larinya anggaran pertahanan?

Di Indonesia, Kementerian Pertahanan menjadi salah satu instansi pemerintah yang mendapatkan anggaran paling besar dalam APBN 2020.

Alokasi anggaran Kemenhan mencapai Rp 131,2 triliun, atau meningkat 19,7 persen dari tahun 2019, untuk memenuhi kebutuhan belanja pegawai di tubuh TNI dan serta belanja alutsista.

"Supaya pertahanan bisa terjaga dengan baik, sehingga harus meningkatkan persenjataan" ujar Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani di Kantor Kemenkeu, pekan lalu.

Tapi menurut Connie anggaran pengadaan yang meningkat ini jauh dari harapan untuk secara signifikan meningkatkan kesiapan dan gelar TNI.

"Anggaran 2020 itu akan terserap ke Komando Gabungan Wilayah Pertahanan 2 serta satuan baru, seperti Komando Operasi Khusus, selain juga belanja pegawai," tambahnya.

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 42 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia, yang diteken Presiden Jokowi, 3 Juli 2019, TNI punya dua satuan baru yakni Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia (Koopssus) TNI, dan  Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) TNI.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved