TERUNGKAP Jaringan ISIS Sel Papua Rencanakan Aksi Pengeboman Polres Manokwari, Ini Kata Mabes Polri

Mabes Polri mengungkap fakta lain soal aksi kerusuhan di Papua. Kepolisian menyebut adanya kelompok teroris jaringan ISIS yang beroperasi di Papua.

Editor: Juang Naibaho
KOMPAS.com/Devina Halim
Fakta Baru Siswa Pakai Mobil Fortuner Ugal-ugalan Sempat Dikabarkan Plat Polisi Palsu, Ternyata Asli. Foto: Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo 

"Itu sel-selnya memang dia dalam arti kata masih melakukan rekrutmen, kemudian penguasaan wilayah, dan dia terus akan melakukan amaliyah dengan sasaran anggota kepolisian," ucapnya.

Lebih lanjut, jenderal bintang satu itu menegaskan apabila kelompok teroris jaringan ISIS ini berbeda dengan kelompok separatis Papua seperti KKB.

"Beda (dengan kelompok separatis Papua), beda haluan," tandasnya.

Baca: Suami Kalap Bunuh Istri Akibat Sering Minta Pulang ke Rumah Ortu, Jenazah Terkapar di Kasur

Baca: Bajing Loncat Beraksi Siang Bolong di Kota Medan, Curi Dua Goni Isi Pikap, TONTON VIDEO. .

Deklarasi Damai

Sementara itu, proses pemulihan pasca-kerusuhan di Kota Jayapura, terus berjalan dalam tempo yang cukup cepat.

Delapan hari pasca-kerusuhan, yakni pada Kamis (8/9/2019) malam, deklarasi damai sudah dilakukan oleh 34 komponen masyarakat se-Kota Jayapura.

Deklarasi dilakukan di hadapan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Gubernur Papua Lukas Enembe.

Dari unsur agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Papua terus mendorong agar nuansa dikotomi dihilangkan.

FKUB juga meminta semua pihak berpikir sebagai sebuah kesatuan di bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Jangan ada lagi kelompok nusantara, jangan ada lagi kelompok orang asli Papua, kita ini satu, semua warga Indonesia," cetus Ketua FKUB Papua Pendeta Lipius Biniluk, di Jayapura, Jumat (6/9/2019).

Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun mengingatkan bahwa proses pembangunan suatu daerah atau bahkan sebuah negara tidak akan berjalan optimal bila situasi keamanan tidak kondusif.

Untuk itu, dia meminta seluruh komponen dan elemen masyarakat di Papua dapat bahu-membahu untuk mengendalikan masyarakat.

"Modal terpenting bagi semua komunitas untuk membangun bukan lah sumber daya alam, sumber daya manusia iya, tapi stabilitas keamanan adalah yang terpenting," kata Tito.

Baca: Keponakan JR Saragih Berpangkat Kapten TNI AD Meninggal Dunia

Baca: Usai Bertemu Bahas Gejolak Papua, Ini Kata Tokoh Intelijen dan Jenderal Lapangan Jebolan Kopassus

Waktunya Saling Memaafkan

Bekas luka yang tertinggal pasca kerusuhan 29 Agustus 2019, dipastikan belum hilang.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved