Kaukus Muda Siantar: Pemimpin Siantar Tahun 2020 Harus Dapat Rekomendasi Orang Muda
Pemimpin dipilih bukan karena figurnya sebagai tokoh, tetapi mereka yang mau memimpin kota Siantar dengan segudang masalahnya.
TRIBUN-MEDAN.com-Siantar harus berbenah dalam waktu yang singkat ini melihat master plan pemerintah pusat yang menjadikan Danau Toba sebagai destinasi utama bagi pariwisata nasional.
Analisis yang teliti dibutuhkan untuk dapat mengimbangi pembenahan kota dan pembangunan daerah sekitarnya agar kota ini tetap menjadi destinasi idola dan siklus ekonomi masyarakat tetap terjaga. Kreatifitas pada akhirnya akan menjadi kunci mencari solusi dalam pemecahan persoalan-persoalan yang ada. Namun kreatifitas oleh masyarakat membutuhkan intervensi politik pemimpin kota ini.
Persoalan ini mengemuka dalam dialog publik “Siantar 2020: Siapa Figur Anak Muda?” yang diselenggarakan Kaukus Muda Siantar (KaMuS) di Patarias Coffee Shop Pematangsiantar, Kamis (1/8/2019).
Pembicara dalam dialog ini adalah pegiat pemuda kreatif, Tumpak Hutabarat; Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Kota Pematangsiantar, Reinward Simanjuntak; Direktur Eksekutif Institute of Law and Justice (ILAJ), Fawer Full Sihite; dosen STIE Sultan Agung dan Pasca sarjana USI, Dr. Kartini Harahap, S.Sos, M. Si; dan pegiat pendidikan dan founder Siantar Explore, Yowanda Rahmazam. Dialog ini dimoderasi oleh dosen FISIP USU, Fernando Sihotang.
Fernando Sihotang dan Tumpak Hutabarat adalah inisiator dibentuknya forum politik yang diperkenalkan sebagai Kaukus Muda Siantar (KaMuS). KaMuS merupakan instrumen yang diperuntukkan untuk mengedukasi orang-orang muda agar melek dan tidak apatis terhadap politik. Pun forum ini dapat dijadikan sebagai jembatan bagi jalannya komunikasi politik antar sesama warga dan kepada pemerintah. Karena karakternya sebagai wadah yang terbuka dan tidak terikat struktur.
Pada sesi pembukaan, moderator diskusi Fernando Sihotang menegaskan bahwa inisiatif dialog ini ditujukan untuk membahas persoalan-persoalan kota Siantar yang nantinya mesti menjadi referensi bagi pemimpin Siantar pada tahun 2020 mendatang.
Pemimpin dipilih bukan karena figurnya sebagai tokoh, tetapi mereka yang mau memimpin kota Siantar dengan segudang masalahnya.
“Kedekatan calon pemimpin dengan masalah kota Siantar adalah syarat mereka layak dijadikan sebagai figur anak muda,” pungkasnya.
Fernando mengajak peserta yang datang dari lintas generasi untuk mewujudkan demokrasi yang substansial dengan mengadopsi gagasan yang dituliskan oleh Paul Tillich dalam Love, Power and Justice (1960).
Interpretasi yang diberikan Fernando, bahwa konsep ideal kesejahteraan (kasih) itu harus diaplikasikan dalam bentuk kekuasaan agar dapat dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Namun untuk menghindari kekuasaan yang eksploitatif dan sewenang-wenang kekuasaan haruslah dijalankan dengan mengedepankan keadilan.
“Maka pemimpin kota Siantar di tahun 2020 mesti mendapat rekomendasi penuh dari orang-orang muda,” tambah Fernando yang memperoleh gelar master (S2) di Friedrich Alexander University Erlangen, Nurnberg – Germany di bidang Hak Asasi Manusia (Politik).
Tumpak Hutabarat berpendapat bahwa anak muda mestinya memiliki kesadaran politik dan melek politik, mampu bersikap kritis terhadap tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.
Beranjak dari pengalamannya berbicara di hadapan pemimpin-pemimpin dunia di forum-forum internasional dan melihat melimpahnya sumber daya pemuda Siantar yang tampil di dunia internasional dan memiliki posisi-posisi strategis di dunia bisnis dan pemerintahan, Tumpak berkeyakinanbahwa pemuda Siantar punya kapasitas mumpuni untuk menjadi pemimpin.
Ia dengan optimis meyakinkan bahwa pemimpin Siantar tahun 2020 harus dipimpin oleh orang muda atau setidaknya merupakan rekomendasi orang-orang muda yang ingin kota ini maju dan sejahtera. Sebagai pegiat pemuda kreatif, Tumpak memandang generasi millennial adalah generasi yang cerdas, cekatan, adaptif terhadap perkembangan teknologi yang lagi-lagi membutuhkan kreatifitas dan inovasi. Baginya, spirit kota adalah kreatifitas dan basis dari kreatifitas adalah komunitas.
“Siapa yang mampu mengelola kreatifitas dan memberdayakan komunitas maka ia memahami permasalahan kota ini dan layak untuk memimpin Siantar ke depan,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kaukus_muda_siantar.jpg)