Asahan Terkini

Pemodal SPPG Asahan Murka, Bangunan Dapur MBG Dibongkar

Merasa tertipu, pemodal SPPG bongkar bangunan dapur MBG di Desa Mekar Sari, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan, Senin (11/5/2026).

Tayang:
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Tria Rizki

Merasa Tertipu, Pemodal SPPG di Asahan Bongkar Bangunan Dapur MBG

TRIBUN-MEDAN.COM, KISARAN - Puluhan orang membongkar bangunan satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Mekar Sari, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan, Senin (11/5/2026).

Pembongkaran ini dilakukan oleh pemodal SPPG yang merasa ditipu oleh pengelola SPPG yang macet memberikan fee keuntungan SPPG.

Rizal, salah satu pemodal SPPG mengaku pembongkaran ini terjadi akibat tidak adanya kesepakatan antara pengelola dan pemodal.

"Pembongkaran ini terjadi karena tidak ada hasil dari kami (pengelola dan pemodal), mereka menghianati kami, mereka menipu kami, dan dapur ini berjalan pun atas bangunan kami," kata pemodal Rizal.

Katanya, pihak pemodal tidak diberikan hasil dari fee SPPG hingga sudah melakukan mediasi dan menunggu hasil yang tak kunjung ada.

"Kami sudah menyurati, baik secara langsung untuk mediasi. Tapi, sampai saat ini tidak juga. Maka, hari inilah kami ambil sikap bersama, maka dapur ini kami ambillah hak yang bagian dari dapur kami," katanya.

Sehingga, pihaknya mengeksekusi bangunan yang dianggap pernah dibangun oleh pemodal dengan cara dibongkar.

"Perjanjiannya dengan ibu Sri Kumala, mereka punya titik koordinat dan tempat sebidang tanah. Sedangkan kami, full bangunan dari kami," jelasnya.

Ungkapnya, Sri Kumala adalah perpanjangan tangan dari Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan (YPPSDP).

"Yayasannya ada di Jakarta, yayasan YPPSDP, dia (Sri Kumala) hanya sebagai perpanjangan tangan," katanya.

Sehingga, akibat tidak adanya kepastian dari pihak pengelola, pihak pemodal akhirnya mengambil sikap untuk membongkar mandiri yang dianggap hak pemodal.

"Kami bongkar itu yang pertama sesuai dengan yang ada di nota-nota bon yang kami punya. Kalau bangunan yang sudah ada tidak kami runtuhkan," katanya.

Mulai dari seng, kayu, hingga batu akan diambil kembali oleh pihak pemodal yang dianggap sebagai milik mereka.

"Memang dibulan pertama dan kedua kami menerima fee. Itu tidak kami pungkiri, tapi setelah itu ada ketidaknyamanan, kami berusaha untuk negosiasi tapi tidak jumpa negosiasinya," pungkasnya.

Hingga kini, pihak dari Polsek, Pemerintah dan Babinsa turun ke lokasi untuk melakukan negosiasi dengan pihak pemodal.

Namun, negosiasi masih belum diterima dan para pekerja terus membongkar seng dan bangunan SPPG.

Sementara, saat di Konfirmasi, Sri Kumala belum bersedia memberikan keterangan.

(cr2/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved