TRIBUN WIKI
10 Bangunan Era Kolonial di Kota Medan yang Beralih Fungsi, Nomor 4 Jadi Tempat Nongkrong Anak Muda
Ada 10 bangunan era kolonial di Kota Medan yang sampai hari ini masih bertahan, tapi sudah dialihfungsikan.
TRIBUN-MEDAN.COM,- Siapa diantara kalian yang suka jalan-jalan keliling Kota medan?
Jika kalian sering berkeliling di seputaran kota, pasti akan melihat sejumlah bangunan era kolonial yang masih bertahan hingga saat ini.
Meski ada yang bertahan, tapi fungsinya kini tak lagi sama.
Ada yang sama sekali sudah berubah fungsi, karena menyesuaikan perkembangan zaman.
Baca juga: Hotel De Boer atau Grand Inna, Hotel Tertua di Medan yang Pernah Didatangi Raja Leopold II
Di beberapa bangunan era kolonial ini, kamu masih bisa menemukan jejak-jejak sejarah perkembangan Kota Medan.
Mulai dari kantor pemerintahan, mal, hingga rumah sakit yang kini sudah tutup dan beralih fungsi.
Dengan mempelajari sejarah-sejarah bangunan era kolonial di Kota Medan ini, besar harapan bahwa kisah tersebut bisa diteruskan hingga ke anak cucu.
Sebab, jika kita tidak mengenali sejarah sendiri, maka sejarah itu akan hilang, meski bangunannya masih ada.
Oleh karena itu, kami pun coba suguhkan informasi beberapa bangunan era kolonial yang masih ada, tapi telah berubah fungsi.
Baca juga: Jejak Negeri Samurai di Tanah Deli, dari Masa Pendudukan dan Kuburan Jepang Deli Tua
10 Bangunan Era Kolonial yang Sudah Berubah Fungsi
Berikut ini adalah 10 bangunan era kolonial yang masih bertahan tapi sudah berubah fungsinya.
1. Balai Kota Lama Medan
Balai Kota Lama mulai digunakan sejak Medan resmi menjadi Gemeente pada 1909.
Selama puluhan tahun bangunan ini menjadi pusat pemerintahan Kota Medan, mulai dari masa Hindia Belanda hingga Indonesia merdeka.
Sekitar 1990, seluruh aktivitas pemerintahan dipindahkan ke Balai Kota baru di Jalan Kapten Maulana Lubis.
Baca juga: Sejarah Pasar Horas Pematangsiantar yang Menjadi Jantung Perdagangan Kota
Kini bangunan berarsitektur klasik tersebut menjadi bagian dari kompleks Grand CityHall dan dimanfaatkan sebagai restoran serta ruang pertemuan, sementara fasad aslinya tetap dipertahankan sebagai bangunan cagar budaya.
Kajian arsitektur menunjukkan gedung ini masih mempertahankan karakter arsitektur klasik Eropa yang kuat.
2. Hotel De Boer (Grand Inna Dharma Deli)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Gedung-Warenhuis-supermarket-pertama-di-Medan.jpg)