TRIBUN WIKI

21 Mei Memperingati Hari Apa? Mengenal Sejarah Hari Reformasi Nasional saat Soeharto Tumbang

Tanggal 21 Mei selalu diperingati sebagai Hari Reformasi Nasional. Pada saat itu, Soeharto, Presiden ke 2 tumbang.

Tayang:
Editor: Array A Argus
Kontan.co.id
MUNDUR- Presiden RI ke 2, Soeharto saat membacakan surat pengunduran dirinya pada Mei 1998. 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Banyak masyarakat yang sering bertanya-tanya, 21 Mei memperingati hari apa?

Jawabannya adalah Hari Reformasi Nasional.

Setiap tanggal 21 Mei, bangsa Indonesia mengenang salah satu titik balik paling bersejarah yang mengubah wajah politik dan sosial Tanah Air, yakni runtuhnya rezim Orde Baru dan lahirnya era demokrasi.

Baca juga: MENOLAK Gelar Soeharto Jadi Pahlawan, Daftar Buku yang Dilarang Diedarkan Pada Era Orde Baru

Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah di balik tanggal 21 Mei dan mengapa Hari Reformasi Nasional sangat penting untuk terus diingat oleh setiap generasi.

Sebab, tanggal 21 Mei ini erat kaitannya dengan tumbangnya Soeharto, Presiden ke 2 Indonesia yang didesak mundur oleh mahasiswa dan masyarakat.

FOTO BERSAMA- Presiden RI ke 2 Soeharto dan Prabowo Subianto saat berfoto bersama.
FOTO BERSAMA- Presiden RI ke 2 Soeharto dan Prabowo Subianto saat berfoto bersama. (Instagram)

Sejarah Singkat 21 Mei 1998: Berakhirnya Era Orde Baru

Untuk memahami mengapa tanggal 21 Mei begitu krusial, kita harus menengok kembali pada krisis multidimensi yang melanda Indonesia pada periode 1997-1998.

Baca juga: Biodata DJ Patricia Schuldtz, Menantu Tommy Soeharto, Istri Darma Mangkuluhur, Benarkah Mualaf?

Krisis moneter yang parah memicu lonjakan harga kebutuhan pokok, yang berujung pada hilangnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.

Ketidakpuasan ini semakin memuncak akibat maraknya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di bawah pemerintahan yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Gerakan perlawanan yang dimotori oleh mahasiswa mencapai puncaknya pada pertengahan bulan Mei.

Baca juga: Foto Marsinah dan Soeharto Jadi Sorotan, Dulu Heboh Marsinah Diduga Disekap di Markas Militer

Pada 12 Mei 1998, terjadi Tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur akibat tembakan aparat. Insiden berdarah ini memicu kemarahan publik berskala nasional, mendorong jutaan rakyat dan mahasiswa turun ke jalan untuk menduduki Gedung DPR/MPR RI dan menuntut reformasi total.

Desakan rakyat yang tak terbendung akhirnya membuahkan hasil. Tepat pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto membacakan pidato pengunduran dirinya di Istana Negara.

Kekuasaan kemudian langsung diserahkan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie yang dilantik menjadi Presiden ke-3 RI.

Peristiwa lengsernya Soeharto pada hari itulah yang kini kita peringati sebagai Hari Reformasi Nasional.

Baca juga: Ribka Tjiptaning, Penulis Buku Aku Bangga Jadi Anak PKI Sebut Soeharto Pembunuh Dilaporkan ke Polisi

Makna dan Tujuan Peringatan Hari Reformasi Nasional

Meskipun tidak berstatus sebagai hari libur nasional, peringatan Hari Reformasi Nasional memiliki arti yang sangat vital bagi kelangsungan bernegara.

Peringatan ini bukan sekadar rutinitas sejarah, melainkan sarana refleksi untuk memastikan cita-cita tahun 1998 tetap berjalan.

Berikut adalah makna dan tujuan utama dari peringatan 21 Mei bagi bangsa Indonesia:

Presiden kedua RI, Soeharto
Presiden kedua RI, Soeharto (Getty Images/Maya Vidon-White)

Baca juga: Titiek Soeharto Sentil Menhut soal Bencana di Sumatera: Jangan Terus-menerus Menyalahkan Curah Hujan

  • Mengenang Pengorbanan Pahlawan Demokrasi: Hari ini menjadi momen penghormatan bagi para pahlawan reformasi—terutama para mahasiswa dan masyarakat sipil korban Tragedi Trisakti maupun Semanggi—yang telah mengorbankan nyawa demi kebebasan yang kita nikmati saat ini.
  • Mengevaluasi Enam Agenda Reformasi: Tanggal 21 Mei menjadi pengingat untuk terus mengawal cita-cita reformasi yang meliputi: pemberantasan KKN, penegakan supremasi hukum, kebebasan pers, otonomi daerah yang luas, pencabutan dwifungsi ABRI (TNI/Polri), dan amandemen UUD 1945.
  • Menjaga dan Mengukuhkan Demokrasi: Peralihan dari rezim otoriter menuju negara demokrasi adalah pencapaian mahal. Peringatan ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga iklim demokrasi, kebebasan berpendapat, serta menciptakan pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
  • Menginspirasi Generasi Muda: Bagi generasi yang lahir setelah tahun 1998, hari ini adalah pelajaran berharga bahwa perubahan positif dan keadilan bisa diraih apabila rakyat bersatu padu.

Baca juga: Jasa Soeharto dan Gus Dur yang Dianggap Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

Bagi Indonesia, peristiwa 21 Mei membuktikan bahwa reformasi bukanlah sebuah tujuan akhir yang selesai dalam satu hari, melainkan proses panjang yang berkelanjutan. 

Mengetahui 21 Mei memperingati hari apa adalah langkah awal bagi kita semua untuk terus mengambil peran dalam memajukan bangsa menuju Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.(tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter   dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved