TRIBUN WIKI

Makna Penting Hari Kebangkitan Nasional yang Diperingati Tiap 20 Mei

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) adalah awal kebangkitan semangat nasionalisme dan persatuan rakyat Indonesia.

Tayang:
Editor: Array A Argus
Komdigi
LOGO HARKITNAS- Ilustrasi logo Hari Kebangkitan Nasional 2026. 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Hari Kebangkitan Nasional 2026 akan diperingati pada tanggal 20 mei 2026.

Pertanyaannya, kenapa tanggal 20 Mei dipilih sebagai Hari Kebangkitan Nasional?

Apa sih makna dari Hari Kebangkitan Nasional ini?

Untuk menjawab hal itu, mari kita bahas satu persatu, mulai dari sejarahnya.

Baca juga: Mengenal Lululemon, Merk Olahraga dan Athleisure dengan Kualitas Terbaik

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan menggelar upacara di lapangan apel Kantor Bupati Labuhanbatu Selatan, Jalan Lintas Sumatera Kotapinang–Gunung Tua, Desa Sosopan, Kecamatan Kotapinang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada Selasa (20/5/2025).
Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan menggelar upacara di lapangan apel Kantor Bupati Labuhanbatu Selatan, Jalan Lintas Sumatera Kotapinang–Gunung Tua, Desa Sosopan, Kecamatan Kotapinang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada Selasa (20/5/2025). (Tribun Medan/ IST)

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Sejarah Hari Kebangkitan Nasional tak ujug-ujug timbul begitu saja.

Peringatan dan momen penting ini lahir ketika Belanda masih bercokol di Indonesia.

Pada abad ke-20, di tengah kekuasaan kolonial Belanda, para pelajar yang memiliki pengetahuan luas menuangkan sebuah gagasannya.

Baca juga: Sosok Novi Chindo dan Tukang Cilok Viral, Diduga Cuma Settingan

Dr. Wahidin Sudirohusodo mengatakan, bahwa pendidikan dan peningkatan derajat rakyat pribumi sangat penting di masa kolonialisme pada masa itu. 

Apa yang disampaikan Dr Wahidin kemudian disambut antusias oleh para mahasiswa STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) di Batavia, yang dipimpin Dr. Soetomo dan kawan-kawannya.
 
Pada 20 Mei 1908, mereka sepakat mendirikan organisasi bernama Budi Utomo.

Tujuan awalnya adalah memajukan pendidikan, kebudayaan, dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Jawa dan Madura.

Baca juga: Profil dan Sejarah Bus ALS, 2 Kali Tanggal 6 Mei Selalu Ada Penumpang Tewas

Meski awalnya berfokus pada ranah budaya dan pendidikan, organisasi ini menjadi tonggak sejarah karena merupakan organisasi modern pertama yang beranggotakan rakyat pribumi dan bekerja demi kepentingan bersama.

Berdirinya Budi Utomo memicu lahirnya banyak organisasi pergerakan lain: Sarekat Islam (1912), Indische Partij (1912), hingga organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, yang puncaknya bersatu dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Baca juga: Sejarah April Mop dan Fakta Uniknya, Ini Prank Terkenal di Dunia

Penetapan Hari Kebangkitan Nasional

Lebih dari 40 tahun kemudian, tepatnya tahun 1948, Indonesia baru saja merdeka namun menghadapi berbagai tantangan berat: Belanda belum mengakui kedaulatan, serta ancaman perpecahan di dalam negeri.

Atas usulan Ki Hadjar Dewantara, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional dalam sebuah upacara di Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Baca juga: Sejarah Masjid Al-Ghaudiyah Medan yang Namanya Diambil dari Perkampungan di Negara Iran

Penetapan ini bertujuan menjadikan momen lahirnya Budi Utomo sebagai simbol persatuan dan semangat kebangkitan seluruh bangsa.
 
Secara resmi, penetapan ini kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, yang menetapkan 20 Mei sebagai hari nasional yang diperingati setiap tahun, namun bukan hari libur.

Makna dan Arti Penting

Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang berdirinya satu organisasi, tetapi memperingati lahirnya rasa kesatuan dan identitas sebagai bangsa Indonesia.

Baca juga: Pesta Tapai, Jejak Sejarah Perdagangan di Kabupaten Batubara

Ini adalah masa di mana rakyat mulai sadar bahwa perjuangan melawan penjajahan dan membangun kemajuan harus dilakukan bersama-sama, bukan lagi secara terpisah-pisah menurut daerah masing-masing.

Semangat inilah yang menjadi dasar kekuatan bangsa hingga akhirnya tercapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
 
Sampai sekarang, peringatan ini tetap relevan sebagai pengingat untuk terus membangun bangsa, menjaga persatuan, dan memajukan kualitas hidup serta pendidikan seluruh rakyat Indonesia.

Baca juga: Sejarah PT Garuda Mas Perkasa, Pabrik Sendal Merk Swallow yang Kebakaran

Logo Hari Kebangkitan Nasional 2026

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah merilis logo Hari Kebangkitan Nasional 2026.

Tema yang diangkat Komdigi dalam peringatan Harkitnas ke-118 ini adalah "Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara".

Bersamaan dengan tema tersebut, Komdigi juga merilis logo yang warga bisa unduh secara gratis untuk keperluan publikasi acara.

Berikut link download logo Hari Kebangkitan Nasional 2026 dalam format PNG hingga JPEG:

>>kLIK DI SINI UNTUK MENDAPATKAN LOGO HARI KEBANGKITAN NASIONAL 2026<<

Makna Logo

Logo Harkitnas 2026 ini menampilkan angka 118 berwarna biru dan emas dengan gambar kepala garuda dan daun di angka 8.

Angka 118 menjadi identitas dari Harkitnas ke-118 sekaligus simbol semangat yang terus tumbuh bergerak maju.

Warna biru dipilih karena melambangkan kepercayaan, ketangguhan, dan masa depan yang cerah.

Sementara, warna kuning keemasan menjadi representasi dari energi, harapan, dan kemakmuran.

Adanya elemen kepala burung garuda di bulatan angka 8 ini menjadi representasi lambang negara Indonesia, yaitu Garuda.

Garuda melambangkan kekuatan, keteguhan, kewibawaan, dan energi yang menggambarkan bahwa kebangkitan bangsa harus ditopang oleh daya juang yang besar serta semangat untuk menjadi negara yang tangguh dan berdaulat.

Selain itu, kepala garuda juga merepresentasi energi bangsa yang terus menyala, menjadi dorongan untuk membangun Indonesia lebih kuat secara fisik, sosial, ekonomi, dan strategis.

Sedangkan, elemen daun pada bulatan bawah angka 8 menjadi simbol pangan, yang bermakna kehidupan, pertumbuhan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.

Daun dipilih sebagai metafora bahwa ketahanan pangan adalah sumber utama kehidupan bangsa.

Elemen ini juga menegaskan pentingnya kemandirian pangan sebagai landasan bangsa yang sehat, sejahtera, dan berdaulat.(tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved