TRIBUN WIKI
Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Hutan Dibabat Karena Alasan PSN
Film dokumenter Pesta Babi menggambarkan kerusakan hutan akibat pembukaan lahan di Papua Selatan oleh pemerintah.
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Nama “Pesta Babi” sendiri diambil dari tradisi adat paling sakral dan penting bagi masyarakat Papua.
Bagi mereka, babi bukan sekadar hewan ternak, melainkan simbol kekayaan, persaudaraan, kehormatan, dan hubungan erat antara manusia dengan alam serta leluhur.
Ritual pesta babi biasanya digelar untuk merayakan keberhasilan, menyelesaikan perselisihan, atau mengikat persahabatan antar suku.
Namun dalam film ini, makna itu berubah menjadi simbol perlawanan dan kesedihan: ketika tanah tempat mereka mencari makan, berburu, dan merawat ternak dirampas, maka identitas, budaya, dan masa depan mereka pun ikut terancam punah.
Melalui kesaksian langsung para tetua adat, pemuda, perempuan, dan anak-anak, penonton diajak melihat bagaimana kehidupan mereka berubah drastis: sungai yang dulunya jernih kini keruh dan tercemar, hewan buruan semakin sulit ditemukan, ladang tradisional rusak, dan mereka sendiri kerap diintimidasi, ditekan, atau dianggap menghalangi kemajuan jika berani menolak kehadiran perusahaan dan proyek tersebut.
Film ini tidak hanya bercerita tentang kerusakan lingkungan, tetapi juga mengungkap mekanisme kerja kekuasaan: bagaimana kebijakan negara, kepentingan korporasi besar, dan kehadiran militer bergabung menjadi satu kekuatan yang membuat masyarakat adat seolah tidak punya hak berbicara di tanah kelahiran mereka sendiri.
Para pembuat film menyebut fenomena ini sebagai bentuk kolonialisme baru, penjajahan yang tidak lagi membawa senjata untuk menaklukkan, melainkan menggunakan alasan pembangunan, ekonomi, dan hukum untuk mengambil sumber daya alam, lalu meminggirkan pemilik tanah asli hingga tidak punya ruang hidup lagi.
Di tengah semua tekanan itu, tergambar pula kekuatan perlawanan yang tumbuh: masyarakat adat mulai bersatu, menggunakan cara budaya, agama, dan organisasi untuk menyuarakan hak mereka, memasang ribuan tanda salib adat di seluruh wilayah, menulis surat penolakan, hingga berani berbicara ke publik luas demi menyelamatkan apa yang menjadi hak mereka sejak ribuan tahun lalu.
Di akhir cerita, penonton dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apa arti pembangunan jika harus merampas hak hidup, budaya, dan alam dari mereka yang telah menjaga bumi ini jauh sebelum batas negara dibuat?
Pesta Babi bukan sekadar dokumenter tentang Papua, melainkan cermin tentang bagaimana kekuasaan dan kepentingan ekonomi bisa mengubah nasib suatu bangsa, dan sekaligus menjadi bukti bahwa di mana pun tanah dirampas, akan selalu ada mereka yang berani bertahan dan berjuang demi tanah leluhur.(ray/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/film-dokumenter-Pesta-Babi.jpg)