Harga Bahan Pokok Masih Tinggi, Pasca Banjir dan Longsor Ekonomi Warga Tapteng Lesu
Pantauan Tribun Medan, di Kota Pandan dan Sibolga, pasar-pasar tradisional sudah mulai aktif berjualan.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Usai bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, warga mulai menghadapi berbagai kesulitan untuk keberlangsungan hidupnya.
Mulai dari permasalahan krisis air bersih, ekonomi, gas, dan listrik di sejumlah kecamatan yang masih mati, hingga harga bahan sembako dan pokok.
Pantauan Tribun Medan, di Kota Pandan dan Sibolga, pasar-pasar tradisional sudah mulai aktif berjualan.
Seperti di Pasar Kalangan Pandan yang terletak di Jalan Lintas Padangsidimpuan-Sibolga. Seluruh pemilik kios di pasar ini, sudah mulai menjajakan jualannya. Hanya beberapa kios yang masih belum buka.
Namun, Pasar Kalangan ini cukup sepi pembeli. Padahal, sebelum bencana, Pasar Kalangan ini selalu ramai diserbu khususnya warga Kecamatan Pandan, dan Tukka. Hal itu dikarenakan lokasi pasar ini dekat dengan dua kecamatan tersebut.
Selain itu, semua yang dijajakan oleh pedagang tidak seperti biasanya. Hari ini tidak ada yang menjual ikan laut atau ikan sungai, hanya menjual ikan teri dan ikan asin. Tidak ada yang jual daging sapi. Padahal, biasanya Pasar Kalangan ini bisa dikatakan pasar tradisional yang cukup lengkap.
Baca juga: Hari ke-13 Akses masih Terbatas, Warga Desa Suka Maju Langkat Butuh Obat-obatan dan Sembako
Sementara, seluruh pedagang bumbu giling diserbu warga. Mereka lebih memilih membeli bumbu giling dibanding cabai. Hal itu dikatakan seorang pedagang bumbu giling dan bahan makanan Idar (43) kepada Tribun Medan.
Menurut Idar, saat ini kondisi listrik di Tapteng pasca bencana belum 100 persen hidup secara merata. Masih banyak kecamatan yang listriknya belum hidup hingga saat ini.
Untuk itu, kata Idar, mereka memilih membeli cabai giling. Sebab, jika listrik mati, mereka tetap bisa masak sambal tanpa blender.
"Pasca banjir ini harga sembako memang masih naik. Tapi enggak drastis kayak hari pertama bencana terjadi. Dan, saat inj banyak warga yang membeli bumbu giling. Karena listrik masih mati hidup," katanya saat ditemui Tribun Medan di kios jualannya, Rabu (10/11).
Menurutnya, pembeli tetap ramai, tapi mereka membeli dalam jumlah yang lebih sedikit. Hal itu disebabkan, belum pulihnya ekonomi warga Tapteng pasca banjir bandang.
"Tetap ramai pembeli, ada kemarin mereka beli banyak-banyak untuk stok tapi itu ketika masih bencana. Satu minggu bencana itu ramai sampai stok saya habis.Sekarang pembeli tetap ada, tapi mereka beli sedikit-sedikit. Enggak kayak biasanya," jelasnya.
Untuk saat ini yang masih mahal dan sulit didapatkan di Tapteng adalah bawang merah.
“Bawang merah ini Rp 60 ribu. Dari dulu harganya enggak jauh dari situ. Dan ini naik tapi nggak drastis. Bawang merah ini sulit didapatkan. Barangnya suka kosong," katanya.
Dikatakannya, langka dan naiknya harga bawang merah disebabkan akses jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus serta karena faktor cuaca.
| Kapolri dan Ketua Komisi IV DPR RI Salurkan 16 Truk Logistik bagi Korban Bencana di Tapteng |
|
|---|
| Personel Polda Sumut Bersihkan Selokan dan Lingkungan Warga di Tapanuli Tengah |
|
|---|
| Polsatwa K-9 Polda Sumut Pulihkan Senyum Anak-anak Korban Banjir Batang Toru |
|
|---|
| Di Tengah Lumpur, Batalyon C Pelopor Menguatkan Harapan Warga Aek Ngadol |
|
|---|
| Catat! Ini Jalan Darat Teraman Bebas Longsor Masuk ke Tapteng, Sementara Cuma Ada 2 Rute |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Seorang-pembeli-sedang-membeli-cabai-di-Pasar-Kalangan-Pandan-_1.jpg)