Berita Medan

Niesya Ridhania Harahap, Perempuan Medan yang Siap Harumkan Indonesia di Miss Petite Global 2026

Bagi Niesya, terpilih sebagai delegasi Indonesia bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan amanah besar untuk membawa nama bangsa.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
IST
Niesya Ridhania Harahap, dipercaya mewakili Indonesia di ajang bergengsi Miss Petite Global 2026 yang diikuti 24 negara dari berbagai belahan dunia. 

Menariknya, sejumlah busana yang akan dikenakan dipersiapkan bersama desainer dari Medan.

Baginya, ini menjadi kesempatan mengenalkan kreativitas daerah ke panggung dunia.

Selain persiapan teknis, Niesya juga memperkuat dua jalur advokasi yang selama ini ia bangun, yakni pelestarian seni budaya melalui Sanggar Seni Mataniari serta gerakan Minority Literacy melalui Receptive Institute.

“Pageant bukan cuma soal tampil cantik, tapi juga soal isu apa yang kita perjuangkan di dunia nyata,” tegasnya.

Direktur Sanggar Seni di Usia Muda

Di tengah kesibukan sebagai delegasi pageant, Niesya juga aktif memimpin komunitas seni.

Ia dipercaya menjadi Direktur Sanggar Seni Mataniari sejak 2022, melanjutkan estafet kepemimpinan setelah sang ayah wafat.

Namun perjalanan Niesya di komunitas tersebut telah dimulai jauh sebelumnya. Ia bergabung sebagai anggota sejak 2015.

Menurutnya, memimpin komunitas seni tradisi di usia muda bukan perkara mudah. Ia harus belajar memahami karakter para seniman tradisi sekaligus menjembatani seni budaya agar tetap relevan bagi generasi muda.

“Saya banyak belajar bagaimana menghadapi seniman tradisi, memahami problem mereka, dan bagaimana menghubungkan seni budaya tradisi yang dianggap kuno agar menarik bagi generasi muda di era digital,” ujarnya.

Bakat seni Niesya tumbuh sejak kecil. Ia lahir dari keluarga yang lekat dengan dunia akademik dan kebudayaan.

Ayahnya, Irwansyah Harahap, dan ibunya, Rithaony Hutajulu, merupakan dosen Etnomusikologi Fakultas Ilmu Budaya USU dan alumni University of Washington, Amerika Serikat.

Sejak kecil, rumah Niesya kerap menjadi tempat berkumpul seniman dan akademisi. Ia belajar menyanyi dari sang ibu, serta mengikuti les piano dan balet sejak usia enam tahun.

“Seni adalah rumah. Seni adalah cara saya memahami dunia, menyembuhkan diri, dan berkomunikasi dengan orang lain. Lewat seni saya belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, budaya itu hidup,” katanya.

Karier seninya juga tak main-main. Bersama kelompok musik Suarasama dan Mataniari, Niesya pernah tampil di Jerman, Belgia, Belanda, Spanyol, hingga festival seni internasional seperti Europalia Arts Festival dan Frankfurt Book Fair.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved