Perang Israel Iran

Penutupan Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global, Sumut Berpotensi Terdampak dari BBM hingga Ekspor CPO

Wacana penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai berpotensi memicu gejolak besar terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia dan Sumut.

|
TRIBUN MEDAN/DOK GOOGLE MAPS
SELAT HORMUZ - Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik vital distribusi sekitar sepertiga ekspor minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi global dan berdampak hingga ke Indonesia. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Wacana penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai berpotensi memicu gejolak besar terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia dan Sumatera Utara (Sumut).

Pengamat Ekonomi Sumut dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario, mengatakan Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran tersempit namun paling vital di dunia, karena sekitar 33 persen ekspor minyak global mengalir melalui kawasan tersebut setiap tahunnya.

“Jika Iran benar-benar menutup Selat Hormuz, maka rantai pasokan energi global akan terganggu dalam jangka pendek. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi otomatis akan terdampak,” ujarnya.

Menurut Wahyu, penutupan jalur strategis itu dapat mendorong harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus 100 sampai 150 dolar AS per barel.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut akan langsung berdampak pada anggaran subsidi energi. Meski penerimaan negara dari sektor energi berpotensi naik, beban subsidi BBM dipastikan melonjak drastis.

“Tekanan terhadap APBN akan sangat signifikan. Pemerintah berada dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas fiskal dan melindungi daya beli masyarakat,” katanya.

Apabila harga minyak dunia bertahan tinggi dalam waktu lama, hampir dapat dipastikan akan terjadi kenaikan harga BBM dan gas di dalam negeri. Dampaknya akan merambat ke berbagai sektor.

Biaya logistik meningkat, harga bahan pokok terdorong naik, dan inflasi menjadi sulit dihindari. Kondisi ini juga berisiko memperlemah nilai tukar rupiah akibat melebar­nya defisit transaksi berjalan.

Investor asing, lanjutnya, cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia saat terjadi gejolak global. Hal ini akan menambah tekanan di pasar keuangan domestik.

“Bank Indonesia kemungkinan harus menaikkan suku bunga untuk menahan depresiasi rupiah. Namun kebijakan itu bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Wahyu.

Daya Beli Masyarakat Sumut Terancam

Wahyu menilai, inflasi tinggi akibat kenaikan harga BBM dan bahan pokok akan sangat menekan daya beli masyarakat Sumut, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang bergantung pada upah harian di sektor pertanian dan industri pengolahan.

Efek berantai tersebut berpotensi memperlemah konsumsi domestik, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Selain sektor energi, penutupan Selat Hormuz juga akan meningkatkan biaya asuransi perdagangan dan menurunkan volume kapal yang melintas ke kawasan Timur Tengah. Dampaknya, biaya impor maupun ekspor Indonesia akan ikut membengkak.

Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di Indonesia. Dalam jangka panjang, ekspor CPO terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Sumut.

Namun gangguan jalur pelayaran menuju Timur Tengah dan Eropa dua pasar utama CPO Indonesia berpotensi menyulitkan kapal pengangkut komoditas tersebut untuk berlayar. Akibatnya, volume ekspor CPO bisa mengalami penurunan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved