Sumut Terkini

Jejak Kemanusiaan Jemaat Muslim Ahmadiyah di Tengah Bencana Sumatera

Di Sumatera Utara, 30 ribu rumah rusak bahkan hilang, akibat banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Anugrah Nasution
Jemaah Muslim Ahmadiyah bersama relawan Humanity Fist membagikan makanan dari dapur umum kepada korban banjir di Dusun Bukit Suling, Desa Rantau Pauh, Aceh Tamiang, Desember 2025 lalu. 

TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN - Bencana banjir Sumatera menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada 26 November 2025 lalu.

Di Sumatera Utara, 30 ribu rumah rusak bahkan hilang, akibat banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pertengahan Januari 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor 1.189 jiwa Sumatera. Di Sumatera Utara, 231 jiwa meninggal dunia.

Banjir di Sumut membuat jalan rusak, listrik padam dan jaringan internet terganggu. Mulai dari Kabupaten Deliserdang, Langkat, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Sibolga, Tebingtinggi hingga Tapanuli Tengah, teredam banjir.

Data Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, banjir membuat 30 ribu rumah warga di Sumut rusak dan ratusan ribu teredam.

Rumah Siti Mariana (68), di jalan Multatuli, kecamatan Medan Maimun, kota Medan, Sumatera Utara terendam air setinggi atap.

Janda 7 anak itu terpaksa mengungsi selama lebih 14 hari di masjid tidak jauh dari rumahnya.

Saat ditemui di rumahnya, Siti tengah bersama cucunya memperbaiki dinding yang jebol akibat banjir.

Sambil berjualan jajanan, Siti menceritakan rumah peninggalan suaminya hampir rubuh akibat diterjang air.

Pada 26 November 2025, saat air sungai Deli meluap, rumah Siti tinggal menyisakan atap yang terlihat.

"Ini rumah yang nampak hanya atap aja kemarin banjir. Makanya dinding jebol sangking derasnya air," kata kata Siti saat ditemui tribun-medan, Rabu (10/1/2026).

Kediaman Siti berada di bantaran sungai Deli, salah satu kawasan padat penduduk. Hujan 6 hari tanpa henti membuat rumah rumah warga teredam berminggu-minggu.

Saat air perlahan naik, Siti yang sudah sepuh dan tinggal sendiri sebenarnya sudah memindahkan barang barang ke loteng rumah.

Jelang subuh, air tinggi hingga teras rumah. Saat itu, lengan Siti sedang terkilir, karena itu masih memilih bertahan di dalam rumah. 

Beberapa jam kemudian, dia diberitahu air sungai meluap. Siti kemudian dievakuasi warga meninggalkan rumah. Tak lama, air naik hingga ke atap rumah. Tersisa baju yang melekat dibadan. Siti kemudian mengungsi di masjid bersama ratusan warga yang senasib dengannya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved