Berita Olahraga

Tampil di Tengah Cedera, Nur Ferry Pradana Raih 3 Emas di ASEAN Para Games Thailand

Nama Nur Ferry Pradana kembali berkibar di pentas internasional. Atlet para atletik asal Sumatra Utara itu tampil luar biasa.

TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
MEDALI EMAS - Atlet para atletik Sumut Nur Ferry Pradana (kanan) foto bersama Ketua NPC Sumut Alan Sastra Gintinh (kiri) setelah meraih medali emas di ASEAN Para Games XIII Thailand. Nur Ferry menyumbang tiga medali emas untuk Indonesia di APG Thailand. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Nama Nur Ferry Pradana kembali berkibar di pentas internasional. Atlet para atletik asal Sumatra Utara itu tampil luar biasa pada ajang ASEAN Para Games (APG) XIII Thailand, dengan menyumbangkan tiga medali emas sekaligus untuk kontingen Indonesia.

Nur Ferry menjadi salah satu bintang Merah Putih setelah sukses naik podium tertinggi pada nomor lari 100 meter T47, 200 meter T47, dan 400 meter T47. Torehan tersebut terasa semakin istimewa karena diraih di tengah kondisi fisik yang jauh dari ideal.

Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan perjuangan berat yang dialami Nur Ferry. Ia mengungkapkan bahwa ia mengalami cedera lutut serius sekitar 40 hari sebelum keberangkatan ke Thailand. Cedera itu bahkan memaksanya menjalani penanganan medis intensif hingga sehari sebelum pertandingan.

“Alhamdulillah sangat bersyukur. Tahun ini menjadi tantangan tersendiri karena selain melawan lawan, saya juga harus melawan diri sendiri. Empat puluh hari sebelum berangkat saya mengalami cedera lutut dan sampai H-1 masih menjalani penanganan lanjutan, termasuk tindakan ortopedi untuk penyedotan cairan akibat luka di tulang rawan,” ungkap Nur Ferry kepada Tribun Medan, Rabu (28/1/2026). 

Menurutnya, cedera tersebut berdampak besar terhadap performanya sebagai sprinter. Bahkan, tim medis tidak merekomendasikan dirinya untuk tampil pada multi event olahraga tingkat Asia Tenggara bagi atlet disabilitas tersebut, karena kondisinya sudah masuk Grade 3.

“Dampaknya (cedera) sangat besar dan sebenarnya tidak memungkinkan serta tidak disarankan dokter untuk bertanding. Kondisi lutut saya sudah masuk Grade 3, jadi kemarin itu sebenarnya saya tidak disarankan berangkat,” jelasnya.

Situasi itu sempat membuat mental dan psikisnya terpuruk. Namun, doa serta dukungan keluarga menjadi kekuatan utama yang membangkitkan semangat juangnya untuk bisa tampil maksimal pada penampilan keempatnya di APG tersebut. 

“Walaupun mental saya sempat jatuh, saya berpikir masih banyak orang-orang yang sayang, yang selalu mendoakan dan mendukung saya. Saya juga sudah lama meninggalkan keluarga di Pelatnas, anak dan istri. Saya tidak ingin mengecewakan mereka. Dari situ saya bangkit lagi dan berjuang meski dengan penuh risiko,” tuturnya.

Dengan kondisi lutut yang belum pulih sepenuhnya, Nur Ferry mengakui tidak bisa tampil maksimal. Ia hanya mengandalkan daya tahan dan pengalaman untuk bertahan hingga garis finis di setiap nomor yang diikutinya. 

“Saya tidak bisa tampil lepas seperti biasanya. Untuk sprinter dengan kondisi seperti ini jelas tidak maksimal, jadi saya hanya mengandalkan endurance terakhir dan berusaha mengamankan posisi. Alhamdulillah bisa,” katanya.

Sepanjang kariernya, Nur Ferry telah mengoleksi segudang prestasi membanggakan. Ia pernah meraih empat emas dan satu perak di ASEAN Para Games Malaysia 2017, kemudian menambah dua perak di Asian Para Games Jakarta 2018. Prestasinya berlanjut dengan satu emas di Peparnas Papua 2021, disusul empat emas dan satu perak pada ASEAN Para Games Solo 2022.

Pada 2023, Nur Ferry kembali menunjukkan dominasinya dengan meraih satu emas di Fazza Dubai, lima emas di ASEAN Para Games Kamboja, serta satu perak dan satu perunggu di Asian Para Games Hangzhou, China. Di level nasional, ia menyabet satu emas di Peparnas Solo 2024, sebelum akhirnya kembali mengibarkan Merah Putih lewat tiga emas di ASEAN Para Games Thailand 2025.

Selama pertandingan, kata Ferry, rasa sakit pada lututnya dapat ditekan berkat penanganan cepat dari tim medis. Namun, rasa nyeri kembali terasa setelah ia menyelesaikan pertandingan yang dihadapi. 

“Rasa sakit itu sudah ditangani sebelum pertandingan. Setelah lomba baru mulai terasa lagi, jadi saat bertanding tidak terlalu terasa karena ada penanganan awal dari tim dokter,” ujarnya.

Bagi Nur Ferry, keluarga menjadi kunci utama dari seluruh pencapaiannya di APG ke-13 itu. Keinginannya pulang membawa kabar bahagia menjadi motivasi terbesarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved