Siantar Terkini

Pakaian Adat Khas Simalungun Jadi Busana Resmi pada Paripurna Hari Jadi ke-155 Kota Siantar

Pakaian adat khas Simalungun menjadi dress code resmi pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Pematangsiantar.

|
Penulis: Alija Magribi | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/Alija Magribi
Forkopimda Kota Pematangsiantar kompak memakai pakaian adat khas Simalungun dalam Rapat Paripurna Hari Jadi ke-155 Kota Pematangsiantar, Jumat (24/4/2026) 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Pakaian adat khas Simalungun menjadi dress code resmi pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Pematangsiantar Peringatan Hari Jadi ke-155 Kota Pematangsiantar, di Gedung Harungguan DPRD Pematangsiantar, Jumat (24/4/2026) pagi. Suasana ini menjadi berbeda di banding saat rapat-rapat biasanya. 

Tampak seluruh pemegang undangan yang terdiri dari Pimpinan OPD, Anggota DPRD, Pemangku Adat Hingga Ahli Waris Raja Pematangsiantar Sang Naualuh Damanik hadir memakai balutan hiou serta bullang/gotong sebagai penutup kepala. 

"Peringatan Hari Jadi ke-155 Kota Pematangsiantar dengan tema "Siantar Rumah Kita" mengandung makna Kota Pematangsiantar adalah rumah bagi kita semua, tempat kita tumbuh, berkarya, dan membangun masa depan," ujar Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi dalam pidatonya di Rapat Paripurna DPRD Kota Pematangsiantar Peringatan Hari Jadi ke-155 Kota Pematangsiantar, di Gedung Harungguan DPRD Pematangsiantar, Jumat (24/04/2026) pagi.

Menurut Wesly, Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar akan terus berupaya untuk menyusun kebijakan demi pemerataan pembangunan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, meningkatkan tata kelola pemerintahan, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif guna membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Pematangsiantar. 

"Kami juga berupaya untuk mempertahankan, meningkatkan, dan meraih prestasi sebagai tanggung jawab kami kepada masyarakat," katanya.

Wesly juga memaparkan pencapaian Indikator Kinerja Daerah di tahun 2025, di antaranya Indeks Pembangunan Manusia mencapai 81,71; dan usia harapan hidup 75,42 tahun, berada di atas capaian provinsi dan nasional; tingkat pengangguran terbuka juga menurun menjadi 7,74 persen; dan berbagai prestasi serta pencapaian lainnya.

Dilanjutkannya, Kota Pematangsiantar dibangun di atas fondasi yang kokoh oleh Raja Sang Naualuh Damanik, dengan 8 Poda atau sufat-sifat luhur yang menjadi kearifan lokal masyarakat Kota Pematangsiantar. Sifat-sifat luhur yang diwariskan oleh Raja Sang Naualuh Damanik akan senantiasa menjadi pedoman moral untuk bersama-sama menjaga dan membangun Kota Pematangsiantar.

"Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepala ahli waris Raja Sang Naualuh Damanik, masyarakat, forkopimda, pimpinan dan seluruh anggota DPRD Kota Pematangsiantar atas dukungan dan kerja sama yang baik. Sehingga kita bisa meningkatkan keharmonisan dan kondusivitas di Kota Pematangsiantar," sebutnya.

Implementasi atas keharmonisan dan kondusivitas dimaksud semakin nyata dengan naiknya peringkat Kota Pematangsiantar ke peringkat 4 secara nasional dalam kategori Kota Toleran pada tahun 2026.

"Semoga pencapaian ini dapat kita gunakan sebagai momentum untuk meningkatkan motivasi dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat dan bagi stakeholder yang turut berkontribusi bagi Kota Pematangsiantar," kata Wesly.

Dalam kesempatan tersebut, Wesly mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-155 Kota Pematangsiantar.

“Dengan tema “Siantar Rumah Kita”. Saya bangga menjadi orang Siantar. Mari berkolaborasi, bekerja sama, dan saling mendukung demi mewujudkan Kota Pematangsiantar yang Cerdas, Sehat, Kreatif, dan Selaras,” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua DPRD Kota Pematangsiantar Timbul Marganda Lingga dalam sambutannya menyampaikan, Peringatan Hari Jadi ke-155 Kota Pematangsiantar bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk melihat masa lalu sebagai rangkaian sejarah yang bernilai, menjadi referensi dalam menapaki masa kini, serta menatap masa depan. Peringatan hendaknya menjadi sarana introspeksi demi kemajuan Kota Pematangsiantar yang lebih baik.

“Kita patut bersyukur atas hari kelahiran Kota Pematangsiantar pada 24 April 1871, yang juga berkaitan dengan kelahiran Raja Sang Naualuh. Beliau adalah putra daerah yang berjuang melawan penjajahan Belanda, hingga akhirnya diasingkan ke Bengkalis dan wafat di sana,” katanya.

Peringatan, lanjutnya, harus mampu meneladani nilai-nilai yang dimiliki Raja Sang Naualuh, yaitu: pengasih, melayani, jujur, berani, saling menghormati, dan membangun. Ia juga dikenal memiliki iman yang kuat, rendah hati, konsisten antara perkataan dan perbuatan, berpihak kepada rakyat, menentang penindasan, serta dekat dengan masyarakat.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved