Brimo Polda Sumut

Sejak Bencana, Dedikasi Brimob Sumut Tak Lekang di Batang Toru

Personel Satuan Brimob Polda Sumatera Utara membersihkan bagian depan rumah Ibu Nurimah di Desa Aek Ngadol, Kecamatan.

Editor: Arjuna Bakkara
TRIBUN MEDAN/IST
Personel Satuan Brimob Polda Sumatera Utara membersihkan bagian depan rumah Ibu Nurimah di Desa Aek Ngadol, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Selasa (27/1/2026). Selain mengoperasikan dapur lapangan di sekitar Posko 1 Brimob Batalyon C Pelopor, Brimob juga melakukan pembersihan rumah warga, termasuk di sisi samping rumah Bapak Suwandi, sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana. 

TRIBUN-MEDAN.COM, TAPANULI SELATANDi tengah sisa lumpur yang belum sepenuhnya kering dan rumah-rumah yang masih beraroma lembap, personel Satuan Brimob Polda Sumatera Utara memilih tetap tinggal. Bukan untuk patroli bersenjata, melainkan untuk memastikan dapur tetap mengepul dan halaman rumah warga kembali bisa dipijak tanpa rasa khawatir.

Sejak Selasa (27/1/2026), dapur lapangan Brimob masih beroperasi di sekitar Posko 1 Brimob Batalyon C Pelopor, Desa Aek Ngadol, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Dari tenda sederhana itulah makanan hangat terus dibagikan—menjadi penopang bagi warga yang kehilangan peralatan dapur, bahkan kehilangan ruang aman di rumah mereka sendiri.

Di sisi lain posko, sejumlah personel berseragam loreng terlihat sibuk menyekop sisa material bencana. Mereka membersihkan bagian depan rumah Ibu Nurimah, lalu berpindah ke sisi samping rumah Bapak Suwandi. Pekerjaan yang tampak sederhana itu justru menjadi langkah penting agar rumah-rumah tersebut kembali layak ditempati.

“Bagi kami, kehadiran polisi bukan hanya soal pengamanan. Di situasi seperti ini, kemanusiaan harus menjadi yang utama,” kata Danton I Kompi 1 Satgas Aman Nusa II, Iptu Erwinsyah Putra Siregar, di sela kegiatan.

Ia menegaskan, dapur lapangan dan kerja pembersihan bukan sekadar program simbolik, melainkan bagian dari upaya memulihkan martabat warga. “Kami ingin masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman, sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Bagi sebagian warga Batang Toru, bantuan semacam ini bukan hanya soal nasi dan sekop. Ia adalah isyarat bahwa mereka tidak ditinggalkan setelah bencana mereda dari pemberitaan. Di antara sisa reruntuhan dan tanah basah, kehadiran Brimob menjadi penanda sederhana negara masih ada, setidaknya dalam bentuk tangan-tangan yang ikut membersihkan lumpur.(Jun-tribun-medan.com).

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved