Berita Nasional
Baru Terungkap Skenario AS-Israel Siapkan Ahmadinejad Gantikan Ali Khamenei usai Serang Iran
Nama Ahmadinejad disebut muncul sebagai figur yang dipertimbangkan dalam skenario transisi politik Iran.
TRIBUN-MEDAN.com - Nama Mahmoud Ahmadinejad kembali menjadi perhatian internasional setelah muncul laporan bahwa dirinya sempat dipertimbangkan dalam skenario pergantian kekuasaan di Iran pascaperang Israel-Amerika Serikat.
Mantan Presiden Iran itu disebut masuk dalam kalkulasi politik dan intelijen untuk memimpin pemerintahan baru setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada fase awal konflik.
Laporan yang dikutip dari The New York Times menyebutkan, beberapa hari setelah serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat, Presiden AS Donald Trump secara terbuka berharap ada “seseorang dari dalam” Iran yang mengambil alih kekuasaan.
Nama Ahmadinejad disebut muncul sebagai figur yang dipertimbangkan dalam skenario transisi politik Iran.
Namun, operasi yang dirancang disebut tidak berjalan sesuai rencana sejak hari pertama perang.
Rumah Ahmadinejad Disebut Jadi Target Serangan
Menurut laporan tersebut, rumah Ahmadinejad di kawasan Narmak, Teheran Timur, ikut terkena serangan udara Israel.
Operasi itu disebut bertujuan melumpuhkan perimeter penjagaan untuk membebaskan Ahmadinejad dari status tahanan rumah.
Ahmadinejad dilaporkan selamat meski mengalami luka-luka.
Setelah insiden tersebut, ia disebut kecewa terhadap rencana pergantian kekuasaan itu dan tidak lagi muncul di hadapan publik.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi langsung dari Ahmadinejad terkait laporan tersebut.
Sosok Kontroversial yang Pernah Memimpin Iran
Mahmoud Ahmadinejad merupakan salah satu tokoh politik paling kontroversial dalam sejarah modern Iran. Ia lahir pada 28 Oktober 1956 di kota Aradan dari keluarga sederhana sebelum kemudian pindah ke Tehran saat masih kecil.
Ahmadinejad menempuh pendidikan teknik sipil di Iran University of Science and Technology hingga meraih gelar doktor di bidang transportasi. Sebelum dikenal luas di panggung politik internasional, ia lebih dulu berkarier sebagai akademisi, birokrat, dan pejabat daerah di beberapa provinsi Iran.
Karier politik Ahmadinejad mulai menanjak setelah Iranian Revolution. Ia dikenal sebagai figur konservatif dengan pendekatan populis yang dekat dengan masyarakat kelas bawah. Namanya mulai menjadi sorotan nasional ketika menjabat sebagai Wali Kota Tehran pada 2003.
Gaya hidup sederhana, retorika keras, dan citra merakyat membuat popularitasnya meningkat hingga akhirnya memenangkan pemilihan presiden Iran tahun 2005 dengan mengalahkan mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani.
Selama menjabat Presiden Iran periode 2005–2013, Ahmadinejad dikenal dengan kebijakan ekonomi populis, subsidi besar-besaran, serta sikap politik yang keras terhadap Barat. Ia menjadi tokoh penting dalam penguatan program nuklir Iran dan sering melontarkan pernyataan kontroversial terkait Israel, Amerika Serikat, dan isu Holocaust.
Pidato-pidatonya di forum United Nations kerap memicu kritik internasional, namun di dalam negeri ia tetap memiliki basis pendukung kuat, terutama dari kelompok konservatif dan rakyat kelas menengah ke bawah.
Pada awal pemerintahannya, Ahmadinejad dianggap dekat dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Namun hubungan keduanya mulai merenggang menjelang akhir masa jabatannya akibat perbedaan pandangan politik dan konflik internal pemerintahan.
Setelah tidak lagi menjadi presiden pada 2013, Ahmadinejad tetap aktif di dunia politik Iran. Ia beberapa kali mencoba kembali mencalonkan diri sebagai presiden, meski sebagian pencalonannya ditolak oleh Dewan Garda Iran.
Hingga kini, Mahmoud Ahmadinejad masih menjadi figur berpengaruh dalam dinamika politik Iran. Pendukungnya menilai ia sebagai pemimpin sederhana yang berani melawan dominasi Barat dan dekat dengan rakyat kecil.
Sementara para pengkritiknya menilai kebijakan ekonomi serta retorika politiknya justru memperburuk kondisi Iran dan meningkatkan tekanan internasional terhadap negara tersebut.
Meski tidak lagi memegang jabatan resmi, nama Ahmadinejad tetap sering muncul dalam pembahasan politik Timur Tengah, hubungan Iran dengan Barat, serta perkembangan isu nuklir Iran.
Hubungan Ahmadinejad dan Washington Jadi Sorotan
Perubahan sikap Ahmadinejad terhadap Amerika Serikat sebenarnya mulai menjadi perhatian sejak 2019.
Dalam wawancara dengan The New York Times, ia sempat menyampaikan pandangan yang lebih terbuka terhadap Presiden Donald Trump.
“Trump adalah seorang pria yang bertindak. Dia adalah seorang pengusaha dan oleh karena itu dia mampu menghitung biaya dan manfaat serta membuat keputusan,” ujar Ahmadinejad kala itu.
“Kami katakan kepadanya, mari kita hitung biaya dan manfaat jangka panjang bagi kedua negara kita dan jangan berpikiran sempit,” sambungnya.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi baru terkait kemungkinan adanya komunikasi tidak langsung antara lingkaran Ahmadinejad dan pihak Barat.
Kedekatan kelompok Ahmadinejad dengan jaringan luar negeri sebelumnya juga sempat menjadi kontroversi di Iran. Mantan kepala stafnya, Esfandiar Rahim Mashai, pernah menghadapi tuduhan terkait dugaan spionase.
Selain itu, perjalanan Ahmadinejad ke Guatemala pada 2023 serta ke Hungary pada 2024 dan 2025 ikut memunculkan spekulasi politik baru. Apalagi, Hongaria dikenal memiliki hubungan diplomatik yang dekat dengan Israel.
Laporan menyebut Ahmadinejad berada di Hongaria tidak lama sebelum agresi Israel pecah pada Juni tahun lalu.
Sikapnya yang memilih diam di media sosial selama konflik berlangsung juga memicu tanda tanya di kalangan publik Iran.
Gedung Putih dan Mossad Belum Beri Penjelasan Detail
Pihak Gedung Putih tidak memberikan komentar rinci terkait dugaan operasi pembebasan Ahmadinejad. Namun juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan operasi militer AS disebut berjalan sesuai target.
“Sejak awal, Presiden Trump telah menjelaskan tujuannya untuk Operasi Epic Fury, menghancurkan rudal balistik Iran, membongkar fasilitas produksinya, menenggelamkan angkatan lautnya, dan melemahkan proksinya,” tutur Anna Kelly.
“Militer AS telah memenuhi atau melampaui semua tujuannya, dan sekarang, para negosiator kami sedang berupaya mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri kemampuan nuklir Iran untuk selamanya,” sambungnya.
Sementara itu, badan intelijen Israel, Mossad, menolak memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Meski sudah tidak menjabat sejak 2013, Mahmoud Ahmadinejad tampaknya masih dipandang sebagai figur yang memiliki pengaruh di internal politik Iran. Basis dukungan dari kelompok konservatif dan masyarakat akar rumput membuat namanya tetap relevan dalam berbagai spekulasi politik kawasan Timur Tengah.
Namun, jika laporan tersebut benar, keterlibatan Ahmadinejad dalam skenario transisi kekuasaan berpotensi memicu kontroversi besar. Sebab, rekam jejak politiknya selama ini justru identik dengan sikap anti-Barat dan garis keras terhadap Israel maupun Amerika Serikat.
Di sisi lain, perubahan sikap politik Ahmadinejad dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan dinamika baru di tubuh elite politik Iran, terutama di tengah tekanan geopolitik dan konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Artikel sudah tayang di Kompas.com
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| 'Orang Desa Gak Pakai Dolar' Jadi Bahan Olokan, Mahfud MD: Gimana Cara Kasih Tahu Prabowo? |
|
|---|
| Tak Ada Larangan Nobar Film Pesta Babi, Yusril: Kita Tidak Pernah Menjajah Papua |
|
|---|
| ANIES Baswedan Sebut RI Sedang Tak Baik-baik Saja, Pemerintah Dinilai Boros dan Tak Peka |
|
|---|
| Pindad Bakal Wujudkan Permintaan Prabowo Buat Mobil Berbahan Kaca, Dirut: Tunggu Tanggal mainnya |
|
|---|
| Sosok Profesor Sigit Puji Santosa yang Diminta Prabowo Bikin Mobil Presiden Berbahan Kaca |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Mahmoud-Ahmadinejad-masih-hidup.jpg)