Berita Viral

Prabowo Sebut Orang Desa Tak Pakai Dolar, Gerindra Jelaskan Maksud Bahasa Pemimpin untuk Rakyat

Menurutnya seorang pemimpin memang cenderung menggunakan bahasa yang lebih optimis dan menenangkan ketika berbicara kepada rakyat.

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
PRESIDEN PRABOWO - Presiden Prabowo Subianto menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing. 

TRIBUN-MEDAN.com - Politikus Gerindra sekaligus Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, memberikan pembelaan terhadap pidato Presiden RI Prabowo Subianto terkait pernyataannya orang desa tak pakai dolar AS.

Ia menegaskan bahwa konteks ucapan Prabowo disampaikan saat berhadapan langsung dengan para petani.

Menurutnya, seorang pemimpin memang cenderung menggunakan bahasa yang lebih optimis dan menenangkan ketika berbicara kepada rakyat.

“Ketika memang di saat yang bersamaan para pengamat dan beberapa tokoh misalnya di media sosial maupun media mainstream seolah-olah memprovokasi kepanikan,” kata Sugiat diikutip dari Kompas TV, Senin (18/5/2026).

Baca juga: Pindad Bakal Wujudkan Permintaan Prabowo Buat Mobil Berbahan Kaca, Dirut: Tunggu Tanggal mainnya

Ia menambahkan, “Saya pikir apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo itu adalah bahasa untuk rakyatnya, bahasa pemimpin untuk rakyatnya.”

Sugiat juga menilai gaya komunikasi Prabowo akan berbeda ketika berada dalam forum resmi seperti rapat kabinet.

Dalam situasi tersebut, ia menyebut presiden akan menggunakan pendekatan yang lebih teknis dan solutif.

VBV“Bahasanya pasti dan bersifat yang solutif lah,” katanya.

Ketika ditanyakan mengenai kegaduhan yang timbul dari pernyataan Prabowo Subianto, Sugiat memberikan respons.

Baca juga: VIDEO PENCURI Sawit Tembak Kepala Satpam Kebun saat Ketahuan Beraksi

Menurut Sugiat, kegaduhan berasal dari kelompok yang ingin terus memprovokasi kepanikan di masyarakat. 

Ia menilai kelompok tersebut seperti mendapatkan peluru.

"Kalau kita misalnya apa yang disampaikan Pak Prabowo bahwa masyarakat desa itu tidak terpengaruh oleh dolar. Kalau kita misalnya belajar dari sejarah krisis yang pernah terjadi di Indonesia, apakah krisis tahun 1960-an misalnya atau krisis pada tahun 98," katanya.

Ia lalu mengungkit krisis moneter pada tahun 1998. Dimana, penyelamat Indonesia berasal dari ekonomi kerakyatan yang menjadi bantalan ekonomi.

"98 itu kan yang terkena di sektor perbankan maupun sektor korporasi besar. Sementara rakyat ekonomi rakyat pada saat itulah yang membuat bangsa ini tetap bisa bangkit kembali," katanya.

Oleh karena itu, Sugiat mengungkit adanya provokasi bila dolar AS tembus Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu maka Indonesia akan kolaps.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved