Berita Viral

REAKSI Tegas Taiwan Menanggapi Trump Usai Bertemu Presiden China: Kami Berdaulat dan Independen

Pemerintah Taiwan menegaskan statusnya sebagai wilayah yang "berdaulat dan independen" pada Sabtu (17/5/2026).

Tayang:
Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/AFP/BRENDAN SMIALOWSKI VIA KOMPAS.COM
Presiden China Xi Jinping (kiri) saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026.(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI VIA KOMPAS.COM) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Pemerintah Taiwan menanggapi keras pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News sehari  saat ia meninggalkan Beijing setelah pertemuan dengan pemimpin China, Xi Jinping.

Merujuk pada Taiwan, Trump menyatakan dalam wawancara tersebut bahwa ia tidak mendukung adanya pihak yang menuntut kemerdekaan.

Taiwan sendiri merupakan pulau yang berpemerintahan mandiri, namun diklaim oleh Beijing sebagai wilayah teritorinya.

Taiwan menegaskan statusnya sebagai wilayah yang "berdaulat dan independen" pada Sabtu (17/5/2026). Akan tetap menjaga status quo lintas selat (cross-strait status quo). 

Isu kedaulatan Taiwan sendiri merupakan konflik geopolitik berkepanjangan yang berakar dari masa Perang Saudara China pada tahun 1940-an.

China hingga kini mengklaim pulau yang memiliki pemerintahan mandiri tersebut sebagai bagian dari wilayah teritorinya.

Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Trump memberikan sinyal yang dinilai lebih ambivalen terkait komitmen AS membela Taiwan dibandingkan para pendahulunya.

Trump secara terang-terangan menyatakan keenggannnya memicu konflik militer terbuka dengan China.

"Anda tahu, kita diharuskan menempuh perjalanan 9.500 mil [15.289 kilometer] untuk berperang. Saya tidak mencari hal itu. Saya ingin mereka tenang. Saya ingin China tenang," ujar Trump dalam wawancara tersebut.

Trump juga menegaskan bahwa AS tidak mendukung adanya langkah sepihak dari Taiwan untuk memisahkan diri hanya karena merasa mendapat sokongan dari Washington.

 "Kita tidak ingin ada perang. Jika Anda membiarkannya tetap seperti apa adanya, saya pikir China akan menerima hal itu. Namun kita tidak ingin seseorang berkata, 'Mari kita merdeka karena Amerika Serikat mendukung kita,'" tambah Trump.

Kepada para wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menceritakan bahwa Xi Jinping memiliki sikap yang sangat keras menolak kemerdekaan Taiwan.

Menanggapi hal tersebut, Trump mengaku dirinya "tidak memberikan komitmen apa pun" terkait isu sensitif ini.

Selain itu, Trump mengisyaratkan belum memutuskan apakah akan menandatangani paket penjualan senjata baru senilai 11 miliar dollar AS (sekitar Rp 171,6 triliun) ke Taiwan, meski kesepakatan tersebut telah disetujui oleh Kongres AS.

"Saya belum menyetujuinya. Kita akan lihat apa yang terjadi. Saya mungkin akan melakukannya. Saya mungkin juga tidak melakukannya," kata Trump.

Peringatan keras Xi Jinping soal isu Taiwan

Ketegangan antara Taipei dan Beijing membayangi seluruh rangkaian kunjungan diplomatik Trump ke China.

Media pemerintah China melaporkan bahwa Presiden Xi Jinping secara langsung memperingatkan Trump bahwa isu Taiwan adalah persoalan paling krusial dalam hubungan bilateral AS-China.

"Jika salah penanganan, kedua negara bisa bertabrakan atau bahkan terlibat dalam konflik, membawa seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya," tegas Xi Jinping kepada Trump, dilansir dari Al Jazeera, Sabtu.

Secara resmi, Washington menganut kebijakan "Satu China"  atau One China Policy.

Melalui kebijakan ini, AS mengakui, tetapi tidak membenarkan, terhadap klaim Beijing bahwa Taiwan adalah bagian dari China.

AS juga tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan pemerintah di Taipei.

AS selama bertahun-tahun menerapkan kebijakan ambiguitas strategis terkait apakah mereka akan mengintervensi secara militer jika China menyerang Taiwan.

Pada tahun 2022, pendahulu Trump, Joe Biden, sempat menyatakan dalam program 60 Minutes bahwa AS akan membantu Taiwan jika terjadi "serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Namun, pemerintahan Biden segera menarik kembali pernyataan itu dan menegaskan tidak ada perubahan kebijakan resmi.

Meski demikian, berdasarkan undang-undang tahun 1979, AS tetap diwajibkan memasok senjata defensif dan menjaga hubungan dagang yang erat dengan Taiwan.

Merespons dinamika ini, Kementerian Luar Negeri Taiwan menyatakan bahwa posisi dasar Amerika Serikat "tetap tidak berubah".

Taipei juga memastikan akan terus memperdalam hubungannya dengan Washington.

Menutup pernyataannya, Taiwan secara tegas menunjuk China sebagai sumber instabilitas utama di kawasan Asia Timur.

"Penjualan senjata ke Taiwan bukan hanya komitmen keamanan bagi Taiwan, tetapi juga pencegah bersama terhadap ancaman regional," tulis Kementerian Luar Negeri Taiwan dalam pernyataan resminya.

(*/Tribun-medan.com)

Baca juga: TERUNGKAP Trump Sudah Tulis Surat Wasiat untuk Wakilnya jika Ia Dibunuh saat Kunjungan ke China

Baca juga: USAI Bertemu Presiden Xi Jinping, Presiden Trump Peringatkan Taiwan Agar Tidak Deklarasi Kemerdekaan

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved