Berita Viral
Pilu Tuti Daulay, Ibu Hamil Ditandu 30 Kilometer di Tapsel, Sang Bayi Meninggal Dunia di Perut
Kisah memilukan datang dari Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan.
TRIBUN-MEDAN.COM - Kisah memilukan datang dari Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara.
Seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay harus ditandu warga sejauh 30 kilometer menuju RSUD Sipirok karena akses jalan rusak parah dan tidak adanya fasilitas kesehatan di desanya.
Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (9/5/2026), dan viral setelah dibagikan di media sosial.
Tuti ditandu menggunakan kayu dan kain oleh sekitar 20 warga yang bergantian.
Perjalanan ditempuh selama enam jam berjalan kaki.
Kondisi jalan yang rusak membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak bisa masuk.
Dalam video yang beredar di media sosial, Tuti terlihat mengerang kesakitan sepanjang perjalanan.
Baca juga: Fakta Pilu Ibu Hamil Ditandu Warga Sejauh 30 Kilometer di Tapsel, Bayi Meninggal saat Tiba di RS
Kehilangan Bayi
Sesampainya di RSUD Sipirok, dokter menyatakan bahwa bayi dalam kandungan Tuti sudah meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan medis.
Operasi dilakukan pada Minggu (10/5/2026), dan Tuti berhasil diselamatkan, namun bayinya tidak bisa diselamatkan.
Suaminya, Rinto Aritonang, mengungkapkan kesedihan mendalam atas kejadian ini.
Baca juga: Bupati Gus Irawan Jenguk Tuti Daulay, Ibu Hamil Hendak Melahirkan Ditandu Warga 30 Km di Tapsel
Kondisi Desa Dalihan Natolu
- Desa dihuni 24 kepala keluarga.
- Tidak ada puskesmas atau tenaga kesehatan.
- Listrik hanya menggunakan tenaga surya.
- Jalan belum pernah tersentuh pembangunan alat berat.
- Warga sudah puluhan tahun mendambakan pembangunan jalan, fasilitas kesehatan, dan penerangan listrik.
Baca juga: Istrinya Hamil Ditandu 30 Km di Tapsel, Suami: Bayi Kami di Kandungan Sudah Gak Ada Nyawa Lagi
Respons Pemerintah Daerah
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menjenguk Tuti Daulay di Sipirok.
Ia mengakui medan di Desa Dalihan Natolu sangat berat dan berada di kawasan hutan lindung, sehingga pembangunan jalan terkendala izin kehutanan.
Pemerintah daerah telah mengajukan program TMMD 2025 untuk membuka akses jalan dengan bantuan TNI, namun izin belum diberikan.
Selain itu, pemerintah menambah 15 pos kesehatan desa di Tapanuli Selatan, meski tetap terbatas dan harus merujuk pasien ke rumah sakit.
Kisah Tuti Daulay bukan sekadar tragedi keluarga, melainkan cerminan nyata ketidaksetaraan akses kesehatan di Indonesia, khususnya di daerah terpencil.
Solidaritas warga yang menandu Tuti menunjukkan kekuatan gotong royong, tetapi juga menegaskan betapa mendesaknya pembangunan infrastruktur dasar.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk memperhatikan daerah terpencil.
Jalan, fasilitas kesehatan, dan listrik bukan sekadar kebutuhan, melainkan penentu hidup dan mati bagi masyarakat desa.
Harapan warga Dusun Aek Nabara kini tertuju pada janji pembangunan agar tragedi serupa tidak terulang.
(Ase/Tribun-medan.com)
Artikel Sebelumnya Baca: Bupati Gus Irawan Jenguk Tuti Daulay, Ibu Hamil Hendak Melahirkan Ditandu Warga 30 Km di Tapsel
| DISERBU Netizen, MC LCC 4 Pilar MPR, Shindy Lutfiana Muncul Minta Maaf: Tidak Patut Saya Sampaikan |
|
|---|
| Aipda HI Divonis 3 Tahun Penjara Kasus Rudapaksa Keponakan, Modus Minta Tolong Rapikan Kasur |
|
|---|
| NOVEL BASWEDAN Heran Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Cuma Dianggap Kenakalan: Ganggu Akal Sehat |
|
|---|
| Istrinya Hamil Ditandu 30 Km di Tapsel, Suami: Bayi Kami di Kandungan Sudah Gak Ada Nyawa Lagi |
|
|---|
| Kamaruddin Ganti Nama Jadi Khaleb Simanjuntak, Penyakit Sang Pengacara Kini Jadi Sorotan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ditandu-melahirkan-tribunmedan1.jpg)