Berita Internasional
Gencatan AS dengan Iran Masuk Fase Sekarat, Harga Minyak Dunia Langsung Naik
Polemik semakin memanas setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Washington yang dinilai terlalu menguntungkan pihak AS.
TRIBUN-MEDAN.com - Ketegangan hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan gencatan senjata dengan Teheran berada dalam fase “sekarat” dan sangat lemah.
Pernyataan tersebut muncul usai kedua negara terlibat baku tembak pada akhir pekan lalu yang memperburuk situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Polemik semakin memanas setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Washington yang dinilai terlalu menguntungkan pihak AS.
Penolakan itu dibalas Trump dengan kritik keras, bahkan menyebut tawaran dari Teheran sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima” di tengah negosiasi terkait isu nuklir Iran.
Trump bahkan melabeli proposal perdamaian yang diajukan Teheran sebagai "sampah".
Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah Teheran menolak tawaran Washington dan menyebutnya sebagai proposal yang dinilai terlalu menguntungkan AS sepihak.
Iran juga menuduh Trump mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal serta permintaan yang berlebihan.
Kondisi ini memicu kenaikan harga minyak dunia pada Senin , di mana patokan internasional Brent Crude naik menjadi 104 dolar AS per barel atau sekitar sekitar Rp1,81 juta.
Ketegangan ini menjadi latar belakang yang sulit bagi kunjungan kenegaraan Trump ke China minggu ini, mengingat China adalah konsumen energi utama dari kawasan Teluk.
Trump Tuding Iran Tak Konsisten
Meski situasi memanas, Trump mengaku masih percaya bahwa solusi diplomatik masih sangat mungkin terjadi.
Menurutnya, hal itu dikarenakan para pemimpin Iran sering kali berubah pikiran.
"Mereka adalah orang-orang yang sangat tidak terhormat," ujar Trump seperti yang dilansir dari NBC News.
Trump juga menuduh para pemimpin Iran awalnya menyetujui salah satu poin krusial dalam perundingan, yakni penyerahan stok uranium yang diperkaya.
Namun kemudian, Trump mengklaim bahwa Iran menarik kembali tawaran tersebut.
"Dua hari lalu, mereka berkata, 'Kalian harus mengambilnya'", kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih.
"Namun mereka berubah pikiran karena mereka tidak menuangkannya ke dalam dokumen tertulis", lanjutnya.
Trump juga menambahkan bahwa Iran sempat menyebut hanya AS dan China yang memiliki kemampuan untuk menangani material tersebut.
Rencana Trump Terkait Nuklir
Trump juga membantah kritik yang menyebut dirinya tidak memiliki solusi jelas untuk mengakhiri konflik ini.
"Anda tahu, orang-orang bertanya, apa rencana solusinya? Yang jelas saya punya rencana terbaik yang pernah ada". ungkap Trump.
Trump pun mengungkapkan solusi akhir yang ia maksud
"Rencana saya sangat sederhana: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir", tegas Trump.
Sebelumnya pada hari Minggu, melalui unggahan di Truth Social, Trump juga menyebut proposal Iran "Benar-benar tidak dapat diterima".
"Saya baru saja membaca jawaban dari apa yang disebut sebagai 'Perwakilan' Iran dan saya tak menyukainya" tulis Trump kala itu tanpa merinci detail isi rencana tersebut.
Tanggapan Iran
Pernyataan Trump tersebut segera menuai respons dari Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menuduh AS memiliki "pandangan sepihak' dan mengajukan tuntutan yang berlebihan.
"Semua yang kami usulkana dalah hal yang masuk akal dan generous, tidak hanya untuk kepentingan nasional Iran, tetapi juga untuk kebaikan dan kesejahteraan kawasan serta dunia" kata Baghaei, .
Baghaei menjelaskan bahwa tawaran Iran mencakup penghentian pembajakan maritim terhadap kapal-kapal Iran.
Adapun istilah pembajakan ini merujuk pada sindiran terhadap AS yang juga melakukan blokade pelabuhan.
Baghaei juga menyebut Iran menuntut pembebasan aset milik rakyat Iran yang telah dibekukan secara tidak adil selama bertahun-tahun di bank asing karena tekanan Amerika.
Selain itu, Iran menginginkan jalur aman melalui Selat Hormuz serta keamanan dan perdamaian di seluruh kawasan, termasuk Lebanon.
Pekan lalu, Trump membatalkan rencana jangka pendek untuk mengawal kapal dagang melalui Selat Hormuz yang dikenal sebagai "Project Freedom".
Tak lama berselang, kedua pihak terlibat kontak senjata di mana AS mengklaim kapal perusaknya meluncurkan "serangan bela diri" setelah diserang.
Dalam wawancara telepon dengan NBC News pada hari Jumat, Trump menjawab "Tidak" saat ditanya apakah konflik dengan Iran sudah berakhir.
Senada dengan Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan kepada CBS News bahwa konflik tersebut "jauh dari kata berakhir".
Netanyahu memperingatkan jika negosiasi gagal menarik material nuklir dari Iran, maka Israel siap untuk kembali menghadapi melakukan operasi militer.
Saat ini, AS terus melanjutkan blokade pelabuhan terhadap Iran.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Wanita Tikam Kekasihnya hingga Tewas di Pabrik setelah Pergoki Teleponan dengan Perempuan Lain |
|
|---|
| Alotnya Proses Gencatan Senjata AS dan Iran, Trump Sebut Proposal dari Teheran Tak Masuk Akal |
|
|---|
| Kondisi Terkini Motjaba Khamenei usai Serang Israel-AS, Begini Penjelasan Resmi dari Iran |
|
|---|
| Kepergok Bersama Sang Kekasih di Rumah, Wanita Muda Tewas Dihabisi Tiga Saudaranya |
|
|---|
| Istri Baru Melahirkan, Suami Ketahuan Selingkuh dan Kembali ke Mantan Kekasihnya yang Kini Hamil |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Presiden-Amerika-Serikat-Donald-Trump-1.jpg)