Berita Viral

PERJUANGAN Ayah Korban Pencabulan Ashari, Keliling Temui Santri Lain, Lapor Sejak 2024 Sempat Mandek

Rasa curiga mendorong H mendatangi satu per satu teman anaknya di pondok untuk melakukan klarifikasi.  H berkeliling mengetuk rumah para santri lain

Tayang:
Tribunjateng.com
POLISI TANGKAP ASHARI: Polisi pada Kamis (7/5/2026) berhasil menangkap Ashari (berjaket kulit), pendiri Ponpes Ndholo Kusumo Pati yang menjadi tersangka pencabulan. Sosok kiai yang diduga mencabuli puluhan santriwati itu ditangkap setelah polisi melakukan pengejaran ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Jakarta, hingga Jawa Barat. (Dok. Kasat Reskrim Polresta Pati) 

Namun, proses hukum untuk membawa Ashari menjadi tersangka tidaklah mudah karena sempat berjalan lambat.

“Saya laporan tahun 2024. Awalnya berjalan sampai tahap penyidikan, tapi lama-lama kok enggak ada titik terang,” ucapnya.

Setelah sempat didampingi lembaga bantuan hukum, H akhirnya mencabut kuasa hukum dan berpindah pendampingan ke tim Rianta yang membantu tanpa biaya serta memberikan dukungan moral bagi anaknya.

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil; Ashari kini telah ditangkap dalam pelariannya di Wonogiri.

Intimidasi terhadap Ayah Korban

Di tengah proses hukum yang panjang, H mengaku menerima berbagai intimidasi dan tekanan agar mencabut laporan.

Sekitar satu hingga dua bulan setelah laporan dibuat, beberapa orang yang memiliki hubungan keluarga dengan terduga pelaku mendatangi rumahnya.

“Mereka datang ke rumah saya, intinya saya harus mencabut laporan," tutur H.

Tak hanya intimidasi verbal, H bahkan diancam akan dilaporkan balik.

“Ancaman itu laporan saya akan dipatahkan dan saya akan dituntut balik. Bahkan ada surat yang intinya meminta saya mencabut laporan,” ungkapnya.

Meski begitu, H tetap teguh pada pendiriannya.

“Saya jawab, saya tidak akan cabut laporan sampai kapan pun. Tujuan saya bukan untuk diri sendiri atau anak saya saja, tapi untuk menyelamatkan anak-anak lain. Kalau ada teror atau ancaman, saya enggak hiraukan. Saya rasa ini demi perjuangan dan kebenaran,” tegasnya.

Kasus dugaan pencabulan ini berdampak besar pada aktivitas di lingkungan pesantren.

Suasana pondok yang biasanya ramai, kini mendadak lengang setelah hampir seluruh santri dievakuasi dan dipulangkan ke daerah asal masing-masing, mulai dari Kudus, Jakarta, hingga Kalimantan.

Pantauan di lokasi pada Sabtu (9/5/2026) menunjukkan tidak ada lagi aktivitas pengajian atau rutinitas santri seperti biasanya.

Sumber: Surya Malang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved